Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Oh, Indahnya Dicintai


__ADS_3

Malam telah larut tapi Bening masih terpekur dengan bukunya. Ia duduk di depan meja rias, begitu serius membaca kata demi kata dan berusaha mencernanya ke dalam otak agar kelak tetap tersimpan rapi di dalam memori. Sesekali, Bening akan mengucek matanya. Sebenarnya dia sudah mengantuk, tetapi ada beberapa lembar halaman yang ingin diresapinya.


Pintu kamar terbuka, terlihat Gara datang dengan segelas susu ibu hamil. Bening menyambutnya dengan senyum yang sama hangat dengan segelas susu yang Gara bawa sekarang.


"Belum selesai, Sayang?" tanya Gara sambil menyerahkan susu itu kepada Bening yang segera menerimanya dengan senang hati.


Gara meraih kursi satu lagi, ia duduk di depan Bening, memperhatikan istri mudanya yang sedang menghabiskan susu hamilnya.


"Eh, belepotan banget sih anak gadis!" Gara mengguraui Bening sambil meraih tisu lalu mengelap sisa susu yang masih menempel di sekitar dagu dan bibirnya.


Bening mencubit gemas perut suaminya itu. "Kan Bening bukan anak gadis lagi, Mas Gara."


"Terus, apa doang Sayang?" pancing Gara sambil bertopang dagu menatap Bening.


"Udah istri orang." Bening dengan polos menjawab sambil tersipu sendiri. Kalau malu, wajah Bening yang putih itu merona merah. Gara suka sekali melihatnya.


"Istri siapa?" tanya Gara lagi.


Bening diam sesaat, mengangkat wajahnya yang tersipu malu.


"Istri Anggara Dewa." Bening menjawab singkat dengan menunduk tetapi sesekali menaikkan bola mata untuk memandang suaminya.


Gara tersenyum, lalu mengecup kening Bening lembut dan lama sekali. Gara baru sekali ini begitu nyaman dekat dengan perempuan. Rasa ingin melindungi, menyayangi dan mencintai Bening begitu membubung tinggi. Bening membalas kecupan Gara di keningnya tadi dengan mengecup pipi suaminya itu.


"Tidur yuk, udah malem. Besok lagi lanjutkan belajarnya." Gara menutup buku Bening yang mengangguk setuju.

__ADS_1


Mereka kemudian naik ke atas ranjang. Gara memeluk Bening, Bening sendiri bisa merasakan debaran jantung Gara di telinganya.


"Mas Gara kenapa deg-degan begini?" tanya Bening heran.


"Entah, tiap aku dekat denganmu, aku memang suka berdebar-debar, Bening."


"Mas Gara gombalnya. Dulu di desa, Bening juga sering digombali pemuda kampung."


"Mereka memang gombal, tapi Mas Gara tidak kok. Memang suka sekali menggodamu, Bening."


Bening mendongak, maksud hati Gara mau mencium bibir Bening tapi Bening mengelak. Gara melotot, dia tidak suka ditolak. Bening hanya tertawa melihat Gara berusaha untuk meraihnya lagi. Lelaki itu menggelitik Bening, membuat Bening menggelinjang hingga terguling-guling.


Suara tawa dari dalam kamar Gara memancing nyonya besar yang kebetulan mau turun ke dapur dan tak sengaja melewati kamar itu. Ia mengurungkan langkah ke dapur lalu menempelkan daun telinga ke pintu. Sebenarnya tak bermaksud ingin tahu, tapi dia merasa ikut senang karena sudah lama sekali tak mendengar putera bungsunya begitu lepas tertawa.


"Gara!!! Lihat-lihat dong kalau mau buka pintu. Untung Mama gak kepentok lantai!"


"Ya Mama ngapain sih di situ? Gara mau ambil buah, Bening kepengen. Ternyata ada yang lagi nguping."


Mama hanya tersenyum tidak jelas sambil melambai-lambaikan tangan kepada Bening yang hanya bisa tertawa melihat mertuanya itu.


"Ya sudah gak usah protes, mau ke dapur kan?" tanya nyonya besar sambil menggamit lengan puteranya.


"Iya, Ma."


"Sok atuh, barengan!"

__ADS_1


Gara tertawa melihat mamanya. Bersama mereka turun ke dapur. Ternyata mama mau mengambil camilan papa yang tertinggal di bawah.


"Mama, Papa tuh dibatesin makan beginian. Ntar gulanya naik lagi." Gara menggeleng sambil memotong buah melihat mamanya mulai membawa beberapa snack aneka rasa.


"Sesekali, Gara. Kasihan papa gak bisa tidur kalo lapar."


"Iya, tapi jangan keseringan lah, Ma."


"Gara, Mama mau ingatkan kamu, jangan terlalu sering main kuda-kudaan. Kan Bening sedang hamil muda."


Gara menoleh lalu tertawa dan merangkul ibunya, sembari berjalan mereka membawa makanan masing-masing.


"Gara ahli kok, Ma. Gara tahu batasannya."


Mama mengangguk saja, ia percaya puteranya pasti paham maksudnya. Mereka sudah di dalam lift saat ini dengan Gara yang masih merangkul ibunya itu.


"Revi gimana kabarnya, Gara?" Pembicaraan mereka jadi serius. Gara menarik nafas, ia sebenarnya malas sekali membahas Revi.


"Baik, Ma. Udah ada Yuki yang temenin."


Mama hanya mengangguk, kemudian lift terbuka dan mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Bening menerima potongan apel itu lalu mulai melahapnya dengan tenang.


"Mas Gara juga makan dong." Bening menyuapi Gara yang segera membuka mulutnya.


Lelaki itu tersenyum bahagia, hari-hari Gara begitu berwarna semenjak adanya Bening. Gara tidak mau kehilangan Bening sekalipun perjanjian itu sudah berakhir kelak. Ia akan mempertahankan Bening.

__ADS_1


__ADS_2