
Test tertulis itu berlangsung selama du jam dan syukurlah Bening bisa mengerjakan soal-soal itu dengan baik, walaupun ada beberapa soal juga yang tidak terlalu dia mengerti.
Dua jam itu berlalu, akhirnya semua calon mahasiswa dan mahasiswa keluar dari kelas. Bening masih melihat Gara di bawah pohon akasia, sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Ia segera mendekat ke arah Gara, tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Ada apa, Bang Dani?" tanya Bening menghentikan langkahnya untuk menemui Gara.
"Gimana testnya?" tanya Dani berbasa-basi. Pemuda itu nampaknya sengaja untuk menahan Bening lebih lama berada di kampus itu, padahal dia sendiri tahu bahwa Gara saat ini sedang menunggu Bening.
"Syukurlah, Bening bisa mengerjakannya." Bening menjawab sambil tersenyum seperti biasa.
Pas pula setelah itu, Gara mengangkat wajahnya, lalu dia melihat Bening dan Dani yang sedang bercakap-cakap di koridor kampus. Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, Gara beranjak dari tempat duduknya lalu segera mendekati Bening.
"Eh, Ning, aku ke dalam ruangan dulu ya, mau bahas masalah ospek nanti," pamit Dani kepada Bening saat menyadari Gara semakin mendekat ke arah mereka berdua.
"Iya, Bang, ini juga mau pulang. Mas Gara sudah menunggu dari tadi."
Bening mengangguk dengan Gara yang sudah semakin dekat ke arah mereka. Gara segera merangkul pundak Bening dan membawanya untuk menjauh dari koridor kampus itu menuju keluar.
"Sayang, aku antar kamu ke rumah kita ya, untuk sementara kita tinggal di rumah aku saja, Revi juga soalnya lagi keluar kota."
"Oh, mbak Revi lagi ada pemotretan ya Mas di luar kota?" tanya Bening, Gara mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, nanti Bening tunggu Mas Gara di rumah saja. Sekalian Bening pengen bikin kue."
"Oke, Sayang. Lakukan apapun yang kau inginkan di dalam rumah Mas gara ya."
Gara engecup puncak kepala Bening dan hal itu disaksikan oleh banyak sekali mata yang memandang. Bening hanya tersenyum, dia tidak menyangka, rasanya diistimewakan ternyata begini bahagia.
Meski terkadang ada sekelebat perasaan bersalah setiap kali Gara bermesraan dengannya, ia sering memikirkan Revi yang bagaimanapun adalah istri pertama lelaki itu.
"Mas Gara, boleh nggak Bening minta satu hal?" kata Bening kepada Gara setibanya mereka di dalam mobil. Gara memasangkan sabuk pengaman kepada Bening lalu dia mengangguk.
"Sayang, sepertinya itu mengganggu pikiranmu sekali. Katakan saja kepada Mas Gara, jangan ragu-ragu kalau ada sesuatu yang sedang mengendap di hatimu, kau harus mengeluarkannya.
Gara tak langsung menyahut, tetapi dia mengangguk dan tersenyum ke arah Bening. Memang benar apa yang Bening katakan sekarang, Gara memang sedikit ketus kepada Revi tetapi itu karena memang Gara sudah muak dengan kelakuan perempuan itu. Hingga untuk bermanis muka pun rasanya sudah malas Gara lakukan.
"Iya, Mas ngerti. Sekarang, masuk ya Bening, jangan dipikirkan lagi. Kau hanya harus fokus dengan kehamilan dan juga perkuliahanmu nanti, mau Mas bilang sama pihak di kampus supaya kau itu tidak perlu ikut ospek?"
Bening menggeleng, dia ingin menjadi calon mahasiswa yang baik dengan tetap mengikuti ospek meskipun saat ini dia sedang hamil, tapi dia ingin tetap mengikuti kewajibannya.
"Tidak papa kok, Mas, Bening akan tetap mengikuti ospek."
"Tapi kau kan lagi hamil, Sayang."
__ADS_1
"Ehmmmm ... Begini aja, Mas, kalau memang nanti Bening lelah, Bening akan minta istirahat. Boleh ya, Mas Gara?"
Gara melihat Bening yang sudah cukup memelas itu akhirnya mengangguk juga. Dia tahu, Bening tak bermaksud untuk membantahnya, tapi memang itu sebagai bentuk kewajiban yang harus Bening lakukan sebagai calon mahasiswi yang baik.
"Ya sudah, yang penting nanti kau harus banyak istirahat ya. Mas gak mau terjadi apa-apa dengan kandungan juga kau, Bening."
Bening mengangguk, ia tersenyum sumringah. Gara melajukan mobil menuju rumahnya, selama Revi tidak ada, Gara akan memanfaatkan kebersamaan berdua saja dengan Bening di dalam rumahnya itu.
"Mas Gara ke perusahaan dulu ya. Istirahat yang banyak ya Sayang, nanti biar Mas pesankan makanan biar kau tak repot masak."
"Gak papa kok, Mas. Biar Bening masak enak buat Mas Gara."
Gara mengusap kepala Bening lalu mengecup keningnya.
"Ya udah, jangan lupa istirahat aja ya. Nanti Mas Gara pulang tepat waktu."
Bening mengangguk cepat kemudian melambaikan tangan melihat Gara sudah pergi menjauh dari kompleks perumahan itu.
Bening masuk ke dalam rumah. Rumah itu seperti tak tersentuh. Sepertinya, Revi juga jarang pulang ke sana. Sekelebat rasa bersalah sempat singgah di hati Bening saat melihat sekeliling rumah yang kini sunyi itu.
Namun, Bening tidak bisa menampik, bahwa kini Gara sudah menjamahnya sampai ke dasar hati. Ia hanya berharap, Revi bisa dan rela untuk berbagi.
__ADS_1