
Kendati Bening meminta acara pernikahan sesederhana mungkin, tapi kenyataannya, nyonya besar tetap ingin membuat pesta yang lebih besar, mengingat jarang sekali ada perayaan besar di desa pelosok itu. Dan hanya di desa lah pemandangan para warga masih bergotong royong memasak untuk keperluan pesta bisa disaksikan.
Nyonya besar juga ikut turun tangan, membantu para warga di malam sebelum acara di mulai. Meski bisa saja nyonya dan tuan besar itu menyewa juru masak paling mumpuni, tapi demi menghormati adat desa, mereka berbaur bersama warga sekitar, membantu mendirikan tenda, membantu memasang pelaminan dan sebagainya.
"Suatu keberkahan ya, derajat salah satu warga di sini diangkat oleh yang maha agung melalui Bening."
"Benar, Bening memang gadis yang baik, wajar dia mendapatkan berkah dengan dipinang oleh orang terhormat seperti tuan muda Gara."
Celoteh itu meramaikan setengah lapangan yang sudah disulap jadi posko dapur memasak. Nyonya besar tersenyum ke arah mereka. Ia sempat melihat Dewi, adik Bening yang memang nampak lemas dan pucat. Hal itu membuat ia paham, mengapa Bening sampai merantau ke Jakarta.
Namun, satu yang warga sekitar tidak tahu, Bening adalah calon istri kedua bagi Gara. Kedua orangtua Bening pun sudah diberi tahu. Kendati mereka terkejut tetapi mereka akhirnya bisa menerima hal itu karena kerelaan Bening sendiri.
"Kalau memang ada warga yang bertanya, tidak masalah Bapak dan Ibu mengatakan hal yang sebenarnya. Tetapi kalau memang mereka tidak tahu, dan tidak bertanya, biarkan saja." Begitu pesan tuan Wibowo malam itu.
Kedua orangtua Bening mengangguk. Mereka juga tidak ingin sampai membuat gaduh. Jika tiba waktunya, semua orang akan tahu kisah yang sebenarnya. Tak perlu mereka berkoar-koar karena itu hanya akan memicu berbagai opini yang akhirnya menimbulkan perpecahan.
Di sisi lain, Bening baru saja selesai diukir henna pada tangannya. Ia juga sudah menjalani pingit selama seharian untuk meluluri tubuh dan serangkaian perawatan lainnya. Setelah selesai memakai henna tak sengaja ia melihat ibu Nilam.
__ADS_1
"Nilam gimana kabarnya, Ning?" tanya perempuan itu cemas.
Bening terdiam sesaat, ia ingat sempat mencari Nilam ke kontrakan untuk mengatakan bahwa dia akan menikah, tapi ketika dia datang ke sana, Nilam sudah tidak lagi tinggal di sana begitu pula dengan Toni. Dia juga tidak bisa menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu.
"Maaf, Bi, semenjak Bening bekerja, sudah lama pula Bening tak bertemu Nilam. Kemarin saat Bening ingin mengabarkan mengenai pernikahan, Nilam sudah tak tinggal lagi di kontrakan lama kami. Pun ketika Bening mencoba menghubungi, nomornya juga sudah tak aktif lagi." Bening menunjukkan raut penyesalan.
"Dia juga sudah tidak pernah menelepon Bibi."
"Bening akan cari Nilam lagi setibanya nanti di Jakarta ya, Bi."
Jadi Bening sekarang hanya bisa melihat bulan dari kamarnya. Dia tidak menyesal akan menikah besok. Dia juga tulus akan memberikan Gara keturunan. Pemeriksaan terhadap Bening juga sudah dilakukan, Bening sehat luar dalam untuk bisa mengandung meski usianya masih sangat muda.
Walau dokter sempat mengingatkan kehamilan di bawah usia dua puluh tahun memungkinkan resiko yang lumayan besar, tetapi Bening tak mengapa.
"Bahkan kalau nanti kemungkinan terburuknya adalah menyelamatkan salah satu, maka selamatkan saja bayi Bening kelak, Dokter."
Gara begitu tersentuh saat mendengar ungkapan tegas tetapi sarat akan ketulusan itu. Ingin rasanya ia merengkuh Bening ke dalam pelukannya saat itu juga. Dia tidak mengerti, Bening ini sebenarnya apa. Hatinya begitu lapang, kendati tak suka ditindas tetapi dia selembut sutra. Serupa simbol kepasrahan kepada garis takdir.
__ADS_1
Besoknya, acara itu digelar. Sebuah meja yang telah dihias khusus menjadi tempat di mana akad akan terlaksana. Gara sudah menunggu di depan meja didampingi keduaorangtuanya. Lalu, semua orang terpanah ketika melihat sosok cantik berbalut kebaya putih keemasan dengan rambut yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Anak rambut di bentuk ikal mengikuti garis wajah, jatuh di setiap sisi pipi wajahnya. Hiasan natural semakin mempercantik sang kembang perawan yang hari ini akan segera dihalalkan.
Gara merasakan jantungnya berdegup kencang sekali. Tak berkedip ia sepanjang jalan Bening menuju dirinya. Tatapan keduanya bertemu. Sungguh, kalau kata orang bidadari itu nyata adanya, dia telah menemukannya dalam sosok sederhana, Bening si gadis desa.
"Cantik sekali, Pa." Nyonya besar berbinar menatap Bening yang menunduk sambil tersenyum lalu duduk di samping Gara.
"Bisa kita mulai?" Penghulu membimbing Gara yang kini telah berjabat tangan dengan bapaknya Bening. Gara mengangguk mantap.
"Ya Ananda Anggara Dewa bin Wibowo Wirajaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Bening Anjani binti Sukir Supratman dengan mahar satu set Berlian dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Bening Anjani binti Sukir Supratman dengan mahar tersebut dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas, Gara mengucapkan ijab kabul itu dengan mantap dan tegas.
"Bagaimana saksi, Sah?"
"SAH!" Semua orang tersenyum lega.
Bening kemudian mencium punggung tangan Gara dengan takzim. Gara meletakkan telapak tangannya di atas kepala gadis ranum yang sah sudah menjadi istirnya itu. Cincin tersemat indah, ijab kabul itu sudah sah mengikat keduanya. Seseorang melihat pernikahan itu dengan hati hancur tapi dia tidak bisa apa-apa. Revi hanya bisa menyesali keegoisannya di dalam mobil setelah ia ikut menyaksikan pernikahan suaminya dengan Bening barusan. Perlahan ia mengusap perutnya sendiri, mencoba menyangkal sesuatu yang tidak akan mungkin bisa tumbuh di sana lagi karena kesalahannya sendiri.
__ADS_1