Membeli Rahim Pembantuku

Membeli Rahim Pembantuku
Lelaki Setia


__ADS_3

"Aku menginap di hotel tak jauh dari kafe ini. Nanti berkunjung saja, An."


Mereka sudah mau berpisah sore itu. Gara akan kembali ke hotel tempatnya menginap sedangkan Andi akan mengantarkan Syifa untuk pulang. Kebetulan Syifa juga punya rumah di Surabaya, lebih tepatnya rumah saudaranya, jadi dia tidak menginap di hotel.


"Tentu saja, Gar, nanti malam mungkin aku akan berkunjung ke hotelmu menginap. Kau nanti kirimkan pesan ya, nomor berapa kamarmu menginap."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku ingin beristirahat."


Andi akhirnya mengangguk kemudian bersama Syifa, dia pergi meninggalkan tempat itu. Namun, sesekali Gara bisa merasakan bahwa Syifa beberapa kali menoleh ke arahnya tapi Gara tidak mau menggubris perempuan itu. Dia sama sekali tak tertarik.


Gara sama sekali tidak tertarik untuk meladeni perempuan lain walau hanya sekedar berbasa-basi apalagi berbicara panjang lebar. Hal itu tidak akan dilakukannya mengingat dia sudah berkomitmen untuk selalu menjaga pernikahannya dengan Bening. Kesetiaan dan kejujuran adalah pondasi utama dalam hubungannya dan Bening.


Untuk menghabiskan sisa sore, akhirnya Gara beristirahat di kamar hotel setelah pelayan hotel mengantar makanan yang dipesan oleh Gara. Tadi di cafe dia hanya minum kopi karena tidak pernah selera sama sekali untuk makan, jadi ketika kembali ke hotel lah, dia baru mengisi perutnya.


Gara terlelap cukup lama hingga dia terbangun ketika menerima telepon dari Bening.


"Mas pasti ketiduran, Bening sudah mengiranya," kata Bening setelah Gara mengangkat teleponnya masih dengan terkantuk-kantuk, tetapi lelaki itu kemudian tersenyum dan mengalihkan panggilan suara itu kepanggilan video agar dia bisa melihat istrinya.


"Kau betul, Sayang, Mas baru saja terbangun karena memang sedikit lelah."


"Kalau begitu, Mas mandi kemudian sholat ya. Waktu maghrib itu sebentar, sayang kalau dilewatkan," ujar Bening mengingatkan dengan lembut. Gara tersenyum lagi lalu mengangguk.

__ADS_1


Gara kemudian mematikan sambungan telepon itu dan ia berkata kepada Bening bahwa nanti malam akan menghubungi istrinya itu kembali. Setelah mandi, Gara bersiap untuk menyelesaikan sholat maghribnya.


Semenjak beristrikan Bening, Gara menjadi lebih rajin menunaikan ibadah menghadap Tuhan. Banyak kebaikan di dalam kehidupan Gara setelah ia menikah dengan Bening, jadi benar-benar tak ada alasan bagi Gara untuk menduakan istrinya yang baik itu dengan tertarik kepada perempuan lain lagi.


Setelah selesai menunaikan ibadah shalat maghrib, bel kamar hotel Gara berbunyi. Gara yang masih segar dengan bekas air wudhu di wajahnya kemudian secara perlahan pergi ke depan. Ia membuka pintu kamar hotel dan menemukan Andi sedang berdiri di depan pintu kamar hotelnya itu.


"Aku tak sendiri, Gar, kebetulan tadi Syifa meneleponku bahwa dia ingin ikut. Aku mengajaknya kemari," ujar Andi kepada Gara setelah mereka masuk ke dalam.


Sebetulnya, Gara sedikit keberatan dengan adanya perempuan di kamar hotelnya, tetapi dia pikir kan ada Andi juga. Akhirnya dia mengangguk karena merasa tak enak menolak permintaan dari teman sekaligus rekan bisnisnya itu.


"Sebentar lagi dia sampai."


Gara hanya mengangguk dan tertawa kecil sekilas.


Percakapan demi percakapan bergulir di antara Gara dan Andi, mereka menikmati malam itu dengan berkisah panjang lebar mengenai masa kuliah mereka yang menyenangkan dan penuh dengan kenangan. Diketahui kalau dulu Gara adalah mahasiswa populer.


Tak lama berselang, bel pintu kamar hotel yang ditempati oleh Gara berbunyi lagi. Gara ke depan dan membukanya dan ia menemukan Syifa yang cantik dengan dandanan natural khas gadis muda masa kini.


"Malam, Gar, sorry ya kalau aku ganggu. Tapi aku juga sedang suntuk di rumah, jadi waktu aku tahu Andi akan pergi berkunjung ke sini aku memutuskan untuk ikut. Kau tak masalahkan?" tanya Syifa dengan senyuman ramah. Gara hanya mengangguk kecil kemudian mempersilahkan perempuan itu untuk masuk menyusul Andi yang sudah berada di dalam.


"Kalian berdua mau pesan apa, kopi, teh atau minuman lain?" tanya Gara menawarkan.

__ADS_1


"Aku kopi saja, Gar, seperti biasa kopi hitam tanpa gula. Kalau kau mau apa, Syifa?" tanya Andi kepada perempuan itu.


"Kebetulan, aku tak suka kopi hitam tapi kalau kopi susu bolehlah," ujar Syifa sambil menatap Gara yang akhirnya menelepon pelayan untuk mengantarkan pesanan beserta beberapa cemilan ringan seperti kentang goreng untuk menemani mereka malam ini. Gara juga membuka jendela kamar hotel agar udara masuk lebih banyak.


Pelayan mengantarkan pesanan mereka beberapa menit kemudian dengan Gara dan Andi juga Syifa yang masih melanjutkan perbincangan seru mereka. Nampaknya Syifa sudah terlihat cukup mengakrabkan diri dengan Gara dan Gara pun menimpalinya dengan ramah.


Perbincangan itu kemudian terhenti ketika Gara mendengar ponselnya kembali berbunyi. Ah, dia lupa, kan dia memang sudah berjanji kepada Bening untuk menelepon istrinya itu. Jadi mungkin karena tak kunjung mendapatkan telepon dari Gara akhirnya Beninglah yang berinisiatif untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.


"Maaf, Mas Gara ya Sayang. Kebetulan Mas kedatangan teman," ujar Gara memberikan penjelasan kepada Bening. Kembali Gara melakukan panggilan video kepada istrinya itu.


"Tak apa, Mas, biar bening matikan saja ya teleponnya kalau begitu, nanti saja kita telepon kembali."


"Tidak -tidak. Tidak pa-apa, kebetulan teman Mas juga sedang penasaran sekali, kau ingin berbicara dengannya?"


Gara kemudian mengalihkan kameranya menghadap belakang dan kemudian Bening melihat seorang lelaki teman Gara yang langsung berseru riang yang ke arahnya.


Kemudian terdapat seorang perempuan di samping lelaki itu, mungkin itu kekasih dari lelaki itu, pikir Bening.


"Itu Syifa temannya Andi, kebetulan dia juga datang ke hotel tempat Mas menginap."


Bening mencoba untuk tetap positif karena dia sangat percaya dengan suaminya. Gara juga tidak menunjukkan gelagat yang aneh dan patut dicurigai. Bening tahu betul lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu seperti apa Jadi dia menanggapi dengan santai keberadaan perempuan itu.

__ADS_1


Sedangkan Syifa hanya bisa tersenyum kecil melihat keakraban Gara dan istrinya itu. Terlihat sekali kalau Gara sangat mencintai Bening dan juga Gara itu seperti tipikal lelaki yang setia. Ia terlihat sangat berbinar ketika berbincang dengan istrinya. Yang dirasakan oleh Syifa saat ini, ia sedang tertarik dengan lelaki yang setia dengan istrinya itu.


__ADS_2