
Putra pertama menarik napas dalam-dalam, kemudian dihembuskan perlahan, lalu menatap Ryuji dengan penuh kekhawatiran akan terbongkarnya identitas anak laki-laki pucat di hadapannya setelah melukai kepala pelayan keluarga Fusae, kendati hanya pertarungan yang sudah diberi kebebasan mengeluarkan kemampuan spiritual beserta syarat setetes darah untuk menghentikan permainan tapi tetap saja meresahkan. Sementara yang diperhatikan hanya menunjukkan reaksi biasa saja, sesekali mendesis kala lukanya tak sengaja tersentuh kapas, dan teman dari Suku Penyembuh yang dibawa oleh Yuka semakin kikuk karena merasa melakukan kesalahan fatal.
“Kau tekan lebih keras juga tidak apa-apa, itu kesalahannya sendiri malah menerima serangan,” gerutu Yuka di samping Yashuhiro, bersedekap serta memasang raut muka jengkelnya.
“Kau khawatir padaku?” Ryuji menelengkan kepalanya, menatap lurus netra perempuan yang langsung menoleh ke arah laki-laki di sampingnya.
Yashuhiro menertawakan gadis di sisinya mulai memelintir kain pakaiannya. Merasa gemas ia memeluk Adiknya sedemikian erat sampai terdengar pekikan meminta tolong untuk dilepaskan.
Luka gores dari trisula Fusae Katsuo telah diobati, Mika membenahi perlengkapan pengobatannya, berada di tengah-tengah keharmonisan keluarga temannya merindukan sang Kakak. Biasanya saat mentari beranjak menuju peraduan seperti saat ini, Kakaknya baru kembali dari ladang membawa ubi bakar serta ikan hasil tangkapan sebelum pulang, dan itu menjadi kebiasaan. Andai saja ia tidak sedih karena Kakaknya pulang larut malam serta lupa membawa ikan, Kakaknya tidak akan pergi keluar, dan berujung menjadi tahanan. Gadis berperawakan mungil dengan rambut sepanjang siku menghela napas.
Untuk sesaat Ryuji mengamati mata cokelat teduh nelangsa milik Mika, lalu perhatiannya beralih pada kedatangan seorang wanita dengan perut yang membuncit. Perempuan dari suku penyembuh itu hendak beranjak karena adanya tamu, dan ia tak berhak tetap berada di sana, atau sebenarnya merasa iri atas nuansa hangat keluarga Kazuya.
“Tetap di sini,” pinta Ryuji, dan Mika tidak bisa untuk tidak mematuhi perintah dari bangsawan. Ia menunduk mengiyakan, memilih berdiri dengan jarak agak jauh agar tak mengganggu pembicaraan.
Perempuan seumuran tunangan Yashuhiro menunduk hormat. “Saya mengucapkan salam kepada Tuan Muda Kazuya, semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan untuk seluruh keluarga.”
__ADS_1
Anak panah melesat, menancap tidak pada titik target, si pemanah menghela napas. Tangan kiri agak tidak nyaman memegang ganggang busur panah, namun tetap keras kepala untuk menahannya. Sekelebat ingatan tentang ucapan lampau putri bungsu Tuan Besar Arisu sudah menyulut api di hatinya.
“Kau, tidak bisa melakukan apa-apa. Keluargamu telah membuangmu.”
Sebagai pemicu untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa melakukan apapun tanpa kehadiran keluarga. Ia tidak dibuang, ia hanya dikirim untuk menjadi pribadi mandiri, dan bisa melindungi diri. Atau itu ialah ungkapan untuk meyakinkan diri karena memang merasa telah dibuang.
“Hotaru, sialan!” anak panah kembali melesat disertai umpatan. Lagi-lagi tidak tepat sasaran, Yuka tertunduk lesu. Memandangi luka di telapak tangannya, tak ada yang mengetahui.
Baginya memberitahukan apa pun itu tidak perlu, seperti lukanya, dan nantinya akan diobati dengan kekhawatiran sangatlah merepotkan untuk menjelaskan bahwa keadaannya baik-baik saja. Kekosongan dalam dirinya lah telah membentuk sifat keras untuk menolak dekat pada siapa pun agar tidak ada celah untuknya merasa sakit hati, seperti memiliki seseorang terkasih akan menjadi kelemahannya. Ia benci dipandang tak berdaya, juga tidak berguna, maka dari itu ia bersikeras melampaui batas-batas guna membungkam mulut-mulut pemercik api.
“Apa yang membuatmu ingin memutar busur?”
“Hal yang indah tak selalu mendapatkan hasil baik, tapi tepat sasaran akan terlihat indah.” Ryuji menatap Yuka lekat-lekat, tapi mimik muka si bungsu tidak berubah, mata merahnya bak menyimpan api menggelora. Membuatnya harus bersiap bila menerima semburan dari gadis pemegang busur panah. “Perbaiki terlebih dahulu caramu memanah.”
Yuka menyipitkan netranya, lantas mengambil anak panah. Memasang ekor panah, mengangkat busur, kemudian jari-jarinya menarik tali.
“Bahumu terlalu kaku.”
__ADS_1
Mendadak Yuka melepaskan tembakannya, anak panahnya menancap di tanah. Ia berdecak sambil mengambil lagi anak panah di punggungnya, melakukan ulang gerakan memanah. Yuka mencengkeram busur karena adanya ketidaknyamanan, dan hal itu tak luput dari perhatian Ryuji untuk ikut menahan panah.
“Kau memegang busur terlalu keras tapi tidak mendorongnya, alih-alih menarik talinya.”
Perempuan itu menggingit bibirnya kala Kakak angkatnya melepaskan tangannya dari busur usai membantu menyorong, ia harus berjerih payah menahan pegangan gandewa. Lukanya perih, dan sangat mengganggu. Menyebabkan penahanannya lepas, lalu dengan segera menembakkannya, anak panah hampir mengenai target. Ia menghela napas pelan, merenggangkan genggaman pada pegangan panah.
Ryuji menengadahkan tangan, bermaksud meminta busur yang untungnya bisa dimengerti oleh Yuka. “Apa kau tidak percaya diri?”
“Kenapa berpikir seperti itu?”
Tidak ada jawaban, Ryuji malah mengambil anak panah di punggung Yuka, gadis itu dapat melihat dengan jelas begitu kentara rahang serta bahu kokoh untuk menanggung permasalahan tersembunyi laki-laki yang menyembunyikan nama klannya guna tetap hidup dengan menggunakan nama klan baru. Entah apa isi kepala Kakak angkatnya sampai bersedia menjadi salah satu klan yang tewas dalam semalam, pemuda yang mengambil posisi memanah sama misteriusnya dengan alasan kematian mereka.
Anak panah dilepaskan disertai dengan bunyi yang diimpikan, juga seperti cahaya yang berkedip di kegelapan. “Keraguan pada diri sendiri akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan apapun.”
Yuka terkesiap, langsung mengalihkan pandangannya ke batu kerikil di bawah kakinya. Jujur, dia takut dengan kepekaan Kakak angkatnya bisa mengendus isi hati, maka tak ada artinya bila tetap menyembunyikannya. “Aku… merasa sendirian, tidak ada orang di belakangku.”
Ryuji menghela napas. “Apa pandanganmu kabur saat mencari posisi nyaman karena fokus pada target? Mulai sekarang lihat ke depan, ada beberapa teman rekan, mereka akan menuntunmu. Dan, jika kamu terlalu memikirkan objek sasaran, maka hal itu akan mengacaukan dirimu karena tuntutan yang kau buat sendiri. Jika seperti itu, tarik tali busur seolah kau menyerap emosi, menghirup udara, lalu lepaskanlah segala yang kau tekan di kepala batumu ibaratnya menghela napas.”
__ADS_1
Yuka mendongak, kali pertama terdengar perasaan kesal di suaranya. Ryuji kembali berbicara, dengan nada lembut seperti biasanya.
“Dengar, kau laksana anak panah, bila tetap ditahan maka akan melukai jari-jari penahan, dan anak panah yang tak dilepas tak akan menjadi berguna sebagaimana tujuan keberadaannya. Dengan kerelaan hati, kau harus dilepas. Dengan keyakinan, kau tak akan salah tujuan karena telah dibidik dengan cermat, jadi salah arah itu tidak akan pernah terjadi.”