Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
20. Kilas Balik: Mereka yang Diharapkan Tersenyum


__ADS_3

Rumput raksasa berumpun, tinggi menjulang, dan batang berbuku-buku yang tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas serta berdinding keras. Daunnya berujung lancip, terdapat bulu-bulu halus pada permukaannya. Pada saat angin bertiup melewati bambu-bambu yang saling menghimpit, menciptakan suara ketukan dari batang-batangnya serta bunyi derit. Damai, tetapi tak cukup mengusir kabut hitam yang mengungkung sepasang anak manusia. Terlalu tebal, ‘kah? Atau tidak ingin keluar dari kedukaan dengan sendirinya? Tidak tahu pastinya, keduanya termangu-mangu dengan isi kepala penuh terkaan.


Saling mengamati dengan objek berbeda, yang satu memperhatikan buluh, sementara satunya lagi dari kejauhan mengamati yang teramat serius menengadah pucuk-pucuk menjuntai sampai tak sadar adanya seekor kucing hitam menggosok-gosokkan badan di kakinya.


Ryuji duduk menekuk satu kaki bertumpu tangan kanan di atas tumpukan guguran daun maple, lantas segera berdiri sebab Yuka bertolak dari tempatnya berpijak setelah sekian lama.


Berjalan bersama walau Anak laki-laki itu menjaga jarak cukup jauh mengikuti ke mana pun si bungsu Kazuya pergi. Sesekali Yuka berhenti untuk melihat bambu berjajar di setiap pinggir jalan, dan Ryuji bertanya-tanya apa yang dilakukan anak perempuan tersebut lantaran selalu menyinggahi tempat yang selalu ada bambu.


Pemberhentian selanjutnya adalah jembatan kayu penghubung sepetak daratan di tengah danau, Yuka menjulurkan kepala ke bawah melihat orang-orang mendayung sampan kecil, dari jembatan lain Ryuji pun mengikuti sebelum perhatiannya teralih kepada orang memainkan koto di pendopo, dan mengaguminya. Harmoni merasuk membawa jiwanya melayang pada ingatan bermusik bersama saudara. Bukan Yashuhiro, melainkan Kakak kandung yang tega menggenggam pedang guna menghunus tubuh Adiknya sendiri dari belakang.


Jari-jemari menari di tiap senar terlihat sangat indah, dan Ryuji saat itu sampai tak kuasa mengimbangi tempo nada Kakaknya. Ryuji mengangkat jari menjauhi alat musik, alhasil saudara laki-lakinya sontak menghentikan permainan.


“Kenapa?”


Ryuji menundukkan kepala, “maaf, aku menghambatmu.” Sesalnya sembari meringis, rona wajahnya menghilang berganti pucat pasi. Hanya 13 senar, seolah semesta yang tak terbatas berada dikendalinya, kata benaknya.


“Ku kira kamu sudah memahamiku, pada hakikatnya Ibunda menyarankanku untuk memberimu kesempatan menggunakan koto 17 senar karena beliau berkata permainanmu mampu menyelaraskan.” Ibu jari Kakaknya memetik dawai, semata-mata satu not bisa membuat Adiknya menahan napas bak ditenggelamkan di samudera.


“Maaf, aku masih tidak cukup mengimbangi….”


“Ryuji….”

__ADS_1


“Kakak, pasti memiliki harapan tinggi sebab Ibunda yang mengatakannya, dan kecewa….”


“Ryuji….”


Teguran lembut dari sang Kakak membuat Ryuji menutup mulut rapat-rapat, dan yang lebih tua tak serta merta diam saja. Pemuda berambut putih tersebut segera mendekat. Gejolak perasaan bersalah hingga menariknya sampai sesak untuk bernapas berangsur-angsur pudar, dilepas serta ditarik ke permukaan oleh saudaranya lewat usapan pelan di punggung tangan yang mengepal erat membuat buku-buku jarinya memucat.


Andai, Ryuji seperti Kakaknya. Selalu bisa melakukan apa-apa tanpa kecacatan seperti dirinya, hanya paras menawan kerap kali disamakan, namun tetap saja berbeda, sangat jauh malah. Ryuji mendongak, langsung melakukan kontak mata, dipandanginya sosok kecil yakni dirinya terkurung di netra merah gelap milik saudaranya. Si sulung tersenyum, dan suasana hati Ryuji makin muram kala bibir yang lebih tua bergerak namun tak bersuara.


Apa yang Kakaknya katakan? Gerakan bibirnya sama saat pergi meninggalkan dirinya.


“Katakan sekali lagi!”


Terkesiap Ryuji mendengar pekikan keras membuyarkan lamunan, kemudian bola matanya menatap tempat Yuka berdiri. Tidak ada, pandangannya bergerak menjelajah ke segala arah. Matanya menyipit, mengernyit ketika retinanya menangkap sosok yang dicari berada di galeri lukisan, dan seorang pria memegang erat-erat bahu kiri Yuka.


Ryuji segera beranjak sebab mengendus akan terjadi hal yang tidak mengenakkan. Sialnya, sulit untuknya keluar dari himpitan orang-orang menikmati festival musim gugur, terlalu ramai. Terlambat, ketika Yuka membuka ceruk bibir dan berbicara membuat pria tersebut menyeringai, lalu semakin mengeratkan cengkeraman sampai Yuka meringis. “Kau hanya anak kecil tetapi berani ikut campur!” lantas anak perempuan tersebut didorong hingga punggungnya menghantam patung ular.


Lalu laki-laki tersebut membalikkan badan menghadap wanita yang bersimpuh. “Kau menyalahkan anakku?” deliknya, menaikkan dagu, alis kanannya terangkat, ”luka lebam itu hukuman setimpal untuk putrimu yang kerap jalan dengan laki-laki lain. Kau seharusnya bersyukur aku tidak membatalkan pernikahan!” bentaknya disertai decakan, kemudian meludah sebelum berlalu pergi.


Berkilat-kilat netra Ryuji mengikuti kepergian orang yang telah melakukan kekerasan fisik di depan matanya sembari mempercepat jalannya ke arah kerumunan di mana orang-orang hanya bertanya keadaan padahal tahu mereka butuh bantuan. Kumpulan manusia itu kemungkinan terbesar tidak ingin mencampuri urusan.


“Aku bisa sendiri,” desis Yuka berusaha berdiri tak mengindahkan uluran tangan Kakak angkatnya, kemudian kembali terduduk sembari merintih kesakitan.

__ADS_1


Ryuji segera berlutut, mencekal pergelangan tangan sebelum ditepis anak perempuan itu hingga tersentak, dan mengantupkan bibir. Mengabaikan kernyit dahi tak suka saat ia memeriksa pergelangan kaki kiri Yuka yang membiru.


“Kakimu terkilir,” ujar Ryuji.


“Semerah darah, semanis madu di ujung bambu,” Yuka menyela.


“Apa?” tanya Ryuji bingung.


Yuka berdecak, “itu misiku. Kakak bilang apabila tersentuh olehmu maka aku harus memberitahu tugasku.”


Kening Ryuji spontan mengernyit karena Yuka membicarakan misi. Retinanya beradu dengan netra sinis milik saudari barunya, terbesit pikiran bahwa Yashuhiro menugaskan Ryuji bukan kepada para pengawal untuk mengawasi Yuka, padahal pemuda tersebut belum tahu pasti tentang kemampuan dia dalam hal menjaga, dan memberi si bungsu Kazuya misi tersendiri beserta syarat tidak menyentuh Ryuji. Anak laki-laki berambut putih tersebut sedikit membuka bibirnya kala menyadari bahwa ini semua merupakan alibi agar dia dan Yuka bisa mempererat hubungan. Lalu peristiwa tadi, apakah memang disengaja agar Ryuji mendekat? Apabila memang sang Kakak laki-laki mengirim seseorang, bukankah orang tadi terlalu berlebihan melakukan tugasnya?


Ryuji menghela napas, mencoba agar tak terbawa arus emosi. “Lupakan misi, kita pulang.”


“Tidak mau, jika kembali tanpa menyelesaikan tugas berarti gagal, termasuk misimu.”


“Tetapi kamu terluka.”


“Aku bilang tidak, ya, tidak!” tampik Yuka.


“Apa kamu membenciku?” Ryuji bertanya dengan nada pelan seperti berbisik, Yuka memalingkan wajah ke arah wanita yang masih duduk termangu-mangu dengan mata memerah seperti kondisi sehabis menangis.

__ADS_1


Ryuji mencondongkan badannya ke depan agar hanya Yuka yang mendengar ucapannya. “Kamu boleh tidak menjawab jika enggan. Kamu juga boleh tidak menyukaiku. Tetapi tolong, jangan keras kepala. Aku tidak ingin kamu memaksakan diri sehingga memperparah luka. Maka, biarkanlah aku membantu, dan selanjutnya aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu.”


Yuka sontak kembali memandang Anak laki-laki yang baru saja melontarkan permohonannya, dan untuk pertama kalinya bagi Ryuji mendapati embun tercipta di kelopak mata Yuka serta tangan gemetar yang menggenggam erat salah satu jarinya.


__ADS_2