Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
9. Memberi Makan Nafsu


__ADS_3

“Kenapa aku harus ikut denganmu?” gerutu Yuka.


“Kembali jika tidak mau,” sahut Ryuji tanpa menoleh.


“Nanti ada yang marah.”


“Pergilah sesukamu, dan nanti kita kembali bersama.”


Namun perempuan itu tidak segera beranjak dari sana, ia hanya menghela napas kasar, menatap saudaranya jengah, dan memiliki keinginan untuk melemparinya batu kerikil yang ada di sisi jalan. Mereka melihat seluruh tempat para korban di temukan, menyusuri sungai, mengamati ladang, dan semua gerak-gerik mereka tak lepas dari pandangan orang lain terlebih para perempuan untuk menatap Kakak laki-lakinya. Ia sadar, ada beberapa gadis mengikuti kemana pun mereka pergi, maka ia dengan sengaja membuat jaraknya lebih dekat dengan Ryuji.


Merasa Yuka terlalu lekat, Ryuji bertanya, “apa yang terjadi denganmu?”


“Punya uang?”


Bukan jawaban yang Ryuji harapkan, namun ia tetap saja menjawab pertanyaan Yuka, “punya, kenapa?”


Mendadak pergelangan tangannya ditarik Yuka, dan berlari bersama. Sampai ia mendengar suara beberapa orang mendesah kesal, dan mengutuk Adik perempuannya karena dirinya seolah telah dibawa kabur. Pelarian mulanya dibimbing Yuka akhirnya diimbangi Ryuji, kelakuan mereka tak lepas dari pandangan seseorang yang merasa mereka seperti anak kecil berlarian menuju pasar seolah hendak membeli permen apel, sayangnya anak-anak itu telah menjelma menjadi dewasa, dan pergi ke kios pakaian—lebih dibutuhkan dibanding makanan manis.


Sudah cukup pengawasannya, waktunya keluar untuk menemui mereka. Yuka yang sibuk memilih kain jubah, dan Ryuji dengan pasrah harus menuruti keinginan Adik perempuannya.


“Ini lebih bagus.”


“Nak, kenapa kau menutupi kerupawanannya?”

__ADS_1


“Nenek, dia terlalu mencolok, dan hal itu bisa mengancam pekerjaan orang yang membeku karena cuma ingin melihat dia.”


Yashuhiro tersenyum mendengar alasan si bungsu, namun ia harus membawa mereka kembali karena ingin segera menyelesaikan permasalahan, walau sebenarnya ingin mendengarkan lebih lanjut percakapan Yuka yang dikritik oleh Nenek si pemilik kios busana.


Kazuya bersaudara baru saja turun dari kereta kuda, langsung disambut hangat oleh seseorang berstatus kepala pelayan rumah Fusae. Mengantarkan mereka ke ruangan di mana tuan rumah sudah menunggu.


Kepala pelayan bernama Yutaka Tamotsu membuka pintu geser—mempersilahkan mereka masuk. Nuansa kaku, Tuan Besar Fusae duduk sambil menghisap cerutu. Pria beruban itu hanya mengatakan sekenanya untuk formalitas menerima tamu semata, sampai keberadaan Yuka di balik saudara laki-laki tertua menciptakan binar di mata. Seolah-olah perempuan bersurai jelaga, pemilik mata semerah delima, dan tubuh ramping yang berjalan mengikuti Kakaknya ialah piala. Sesulit apapun mendapatkannya, piala itu harus jadi miliknya.


“Oh, ular putih!” seseorang memekik dari pintu geser yang telah terbuka, memecah lamunan si kepala keluarga.


“Di mana kesopananmu, Katsuo?!” dan akhirnya Tuan Fusae menghardik putranya hingga menundukkan kepala sembari meminta maaf atas perilaku tidak sopannya, lalu ikut duduk bergabung dengan mereka tanpa mengalihkan pandangannya dari anak tengah Kazuya. Sedangkan yang ditatap mencoba acuh tak acuh menahan rasa risi karena tiap gerak-geriknya diamati, mulai dari saat ia meminum teh, menanyakan ketersediaan bunga echinacea yang memiliki manfaat untuk menangkal peradangan, dan efek radikal bebas yang berisiko merusak sel-sel tubuh. Daun Ashitaba sebagai pemerkuat daya tahan tubuh, juga untuk kesehatan rambut, serta buah goji sebagai pembantu meredakan stress, menghambat penuaan dini, dan meningkatkan kualitas tidur. Semua tumbuhan yang diminta yakni obat untuk kekebalan tubuh karena ia diyakini mengidap penyakit gangguan pada kelenjar hingga menyebabkan rambutnya kehilangan zat warna. Sampai saat pemuda pucat itu mengajukan banding harga.


“Aku ingin bermain denganmu,” pinta Katsuo di akhir pembicaraan.


“Anak tengah Kazuya,” jawab putra Tuan Besar Fusae.


“Terserah padamu,” pungkas tuan rumah. Aku hanya butuh bungsu Kazuya, batinnya menyembunyikan kepuasan karena keinginan putranya membuatnya bisa berlama-lama bersama Yuka.


Yashuhiro menangkap wajah Yuka dari ekor matanya, ia mengerti mimik muka tanpa ekspresi itu sebenarnya sedang meluap-luap emosinya, bersabarlah, Adikku.


Beberapa waktu kemudian, di halaman belakang kediaman Fusae, Katsuo berhadapan-hadapan dengan Ryuji, menunduk hormat satu sama lain. Sementara Yuka berdiri di antara Yashuhiro di sisi kiri, dan tuan rumah Fusae di sisi kanannya. Si kepala pelayan memberikan trisula permintaan Tuan Muda Fusae, lain hal dengan Ryuji ingin menggunakan tombak satu mata.


“Permainan boleh menggunakan kemampuan spiritual, berakhir bila terdapat setetes darah,” jelas Katsuo.

__ADS_1


“Baik, aku menyetujuinya.”


“Kalau begitu, serang aku terlebih dahulu, karena kau lebih muda dariku,” ungkap putra tunggal Fusae membuat Ryuji mengangkat alis kirinya, “aku lebih tua 2 tahun dari Kakakmu,” paparnya meyakinkan.


Bukannya memberikan jawaban, bocah 7 tahun lebih muda dari putra pemilik ladang terbesar di Matsuko menyerang seperti keinginannya, beruntung dapat ditahan meski sempat terkejut dengan kecepatan pemuda bertampang pucat, sejujurnya Katsuo agak kewalahan menahan dorongan darinya, sehingga memikirkan cara cepat seperti memberatkan dirinya hingga membuat Ryuji sampai hampir menimpanya sebelum akhirnya ia menendang anak tengah Kazuya.


Sekarang, waktunya ia yang menyerang, mengarahkan mata tombaknya pada lawan main, beruntungnya Ryuji bisa menghindari semua serangan serampangan sampai trisulanya membuat bekas di batu besar. Karena cuma Katsuo yang maju menyerangnya dengan membabi buta, dan Ryuji tak ingin hanya menghindarinya, maka dengan tindakan ketidaksengajaan direncanakan untuk mengakhiri permainan dengan menerima serangan, dan mendapat luka di bahu.


Katsuo menyeringai, “sekarang lawanmu adalah Guru Yutaka.”


“Saudaraku sudah terluka, permainan seharusnya selesai,” terdengar kecemasan pada intonasi suaranya.


“Tadi dia tidak menunjukkan kemampuannya karena aku selalu menyerangnya, sekarang aku ingin melihatnya bertarung dengan sungguh-sungguh.”


Guru Fusae Katsuo memasuki area pertarungan, Ryuji melempar tombaknya, menunduk satu sama lain sebagai bentuk penghormatan, lalu memasang kuda-kuda. Yutaka menyerang terlebih dahulu dengan gerakan yang lebih cepat dari Ryuji, namun bukan waktunya untuk terkejut karena terdapat tangan mengepal menuju rahang, dan beruntungnya Ryuji berhasil mengelak, pukulan itu meleset, dan gantian anak tengah Kazuya menendang.


“Kau cukup bagus dalam melatih Adikmu, Tuan Muda Kazuya,” puji Katsuo kepada Yashuhiro.


“Terima kasih, dia memiliki kemampuan alami, aku hanya membantu mengasahnya saja.”


“Berhasil mendidik orang lain, tapi Adik sendiri dilempar ke tempat lain,” sungut Yuka pelan namun tetap bisa didengar oleh orang di samping kiri.


“Kau masih tidak mengerti juga?” tanpa mengalihkan perhatiannya pada Ryuji dan kepala pelayan yang merubah pertarungan bela diri menjadi kompetisi pedang.

__ADS_1


Ryuji menahan pedang milik Yutaka. Tak disangka, dari sudut mata ia melihat lawannya mengambil benda tajam di arahkan ke lehernya, dan kejutan itu membuat suatu rangsangan yang menyebabkan Yutaka mundur memegangi tangan kanannya. Sesuatu yang mengalir dari senjata tajam sebagai perantara, dan terasa menyengat sampai hampir membakar daging serta membuat pedang milik kepala pelayan retak.


__ADS_2