
Segalanya ada timbal balik, seperti diberikan porsi keadaan buruk sampai merangkak menghadapi untuk menerima limpahan kebaikan sebagai bagian imbalannya. Sama halnya pertanyaan, mestinya terdapat jawaban meski menunggu lama atau mencari sendiri. Seperti di dalam pikiran anak manusia, senantiasa mencuat apa yang akan terjadi setelah melakukan sesuatu, entah itu hal buruk atau baik. Sebab adalah awal, dan akibat ialah akhir yang belum benar-benar berakhir karena kemungkinan besar menjadi penentuan langkah seterusnya.
Sebagaimana pula Yuka menanyakan tentang pilihan Mika, dan ujungnya gadis mungil itu harus tetap menjalankan kehidupan seperti biasa atas keyakinannya bahwa semua akan memiliki akhir adil. Demikian juga rencana yang dilakukan Yashuhiro, dan Ryuji untuk mengungkap siapa dalang pembunuhan berantai, juga bermaksud memasuki tempat paling menyimpan ketidakadilan perlu melakukan tindakan kepura-puraan serta menunjukkan ketidakberdayaan.
Manipulatif, mereka mengerti caranya keliru. Akan tetapi, dengan cara itu mereka bisa bergerak untuk memunculkan iblis dari rasa muak diperlakukan semena-mena hanya karena kasta.
Duduk Yashuhiro beserta Adik angkatnya di teras luas milik kediaman keluarga Arisu yang menjadi tempat tinggal mereka sementara.
“Bagaimana selanjutnya?” Yashuhiro bertanya.
“Pergi ke tempat ditemukannya para korban,” sahut Ryuji tanpa mengalihkan perhatiannya pada bebatuan halaman. Dan, jawabannya ialah sebagai penutup pembicaraan untuk dipergunakan menikmati pemandangan malam di musim panas.
Sama heningnya dengan keadaan kuil Dewa Danau yang disambangi lagi oleh Yuka dengan membawa gelora pertanyaan agar dimatikan oleh jawaban penentram hati. Walau dalam sanubari penuh ungkapan berjejal sampai kejar-kejaran untuk dikatakan saat pertama diucap, ia menahan ketergesaan, dan menapaki tangga berbatu dengan perlahan.
Katak berdengkang, gemuruh air terjun, jangkrik berderik mengiringi langkahnya saat sudah melihat ujung atap kuil. Yuka berhenti kala menyadari suara yang berbeda bercampur dengan bunyi lain, dan hal itu membuatnya kian berjalan lebih tenang dari sebelumnya.
Mendesis sosok itu keluar dari danau samping kuil, tubuh putih nan besar bergerak lambat, kala makhluk itu menuju daratan muncul cahaya menyilaukan membuat Yuka menyipitkan matanya. Ular putih itu merubah bentuk diri menjadi wujud manusia berjenis kelamin laki-laki dengan surai sewarna kapas sepanjang pinggang. Tubuhnya bersinar terang penuh keagungan, begitu menjejakkan kaki di tanah cahayanya perlahan memudar.
Ia berjalan tanpa meninggalkan kesan kemuliaan, tiap langkahnya tampak memberkati semua hal, menyebabkan suasana panas menjadi sejuk, membuat ketegangan menjadi kenyamanan, merubah keraguan menjadi keberanian.
“Kau, tidak takut padaku?” terdengar merdu saat ia bersuara.
“Ini bukan kali pertama hamba melihat Anda.”
__ADS_1
Yuka keluar dari tempatnya sembunyi tanpa takut menatap netra emas milik sosok mulia pemilik Danau Seira. Ia mengeluarkan sebuah sisik yang ia dapatkan saat kesekian kalinya mendatangi kuil karena menyukai suara lonceng serta kesunyiannya.
Yuka pada umur 7 tahun, saat ia baru saja mengenal Ryuji, langsung dikirim untuk pendidikan. Dan, di tempat ia menuntut ilmu mengira Kakak angkatnya datang berkunjung, dan bertindak tidak sopan di tempat suci, duduk di altar kuil memakan buah persembahan. Namun, saat dicermati lebih lama, tubuh orang itu lebih besar dari Ryuji masih berusia 8 tahun. Yuka mengamati semua kelakuan laki-laki yang mirip Kakaknya sampai orang itu keluar kuil, dan keanehan terjadi pada tubuhnya. Sinar menyilaukan mengaburkan pandangan, tubuh manusia berubah menjadi wujud makhluk melata, sangat besar. Dan, bergerak pelan menuju danau, lalu menceburkan dirinya.
Gadis itu tersentak saat Dewa Danau sudah berdiri di depannya secepat kedipan mata, mengambil sisik yang berada di tangannya, “ini dari ekorku, apakah kamu jadikan jimat?”
Bungsu Kazuya menggeleng perlahan, “hamba jadikan teman,” cicitnya.
Anggukan kepala mengartikan pemahaman dari sang Dewa Danau sambil mengembalikan sisiknya, “akan aku ceritakan padamu tentang rubah yang kesepian, mau mendengarnya?” mengedip, bulu lentik yang menaungi matanya menjadi pesona selain kilau retina.
“Sungguh beruntung apabila hamba diperbolehkan mendengar cerita dari Anda, Dewa Danau.”
“Dahulu, entah seberapa lama waktu lampau untuk manusia, terdapat rubah membantai anak adam karena kebenciannya. Menjadikan bulu-bulu putih nan halus berwarna darah, luntang-lantung mencengkeram jantung segar milik orang yang dibunuh. Sampai suatu ketika bertemu dengan Dewi Gunung, rubah liar itu dimandikan, diberi wewangian oleh kemurnian, dirawat dengan halusnya usapan kasih sayang. Dewi mulanya khawatir dengan rubah yang masih menyimpan dendam kepada manusia, sedangkan manusia akan datang berdoa kepadanya. Ia menyimpan keresahan dengan penuh kesabaran mengajarkan rubah untuk menerima adanya para insan, lalu lambat laun si rubah mematuhi semua perkataannya karena tak ingin diusir, dan berakhir sendiri lagi.”
“Lalu?”
“Sang rubah mendeklarasikan dirinya menjadi penjaga kuil Dewi Gunung. Akan tetapi, tidak semudah itu, rubah liar mendapat banyak kecaman dari Dewa-Dewi karena perbuatan lampaunya yang sangat keji, sedangkan Dewi Gunung memang dasarnya memiliki kemurnian hanya mengatakan tidak ada salahnya membersihkan yang dinilai kotor bila masih ada kemauan untuk memperbaiki. Walau masih agak ragu menerima, mereka memilih mengalah dengan syarat akan melempar si rubah ke neraka bila mengulangi lagi."
Bibir Yuka menutup rapat membentuk garis lurus. Pandangannya fokus terhadap iris emas sosok ilahi ibarat tengah menyaksikan sesuatu dari sana.
“Si rubah sadar tentang keberadaannya yang memungkinkan untuk menjadi permasalahan, dibuktikan dengan adanya huru-hara perebutan wilayah yang diciptakan oleh manusia. Tak hanya menggunakan kepintaran, juga tenaga otot, akan tetapi mereka turut bersekutu dengan makhluk lain sebagai kekuatan atas keserakahan. Ia juga termasuk korban dengan ikatan perjanjian yang mencekik lehernya, tak akan lepas kecuali salah satunya tewas. Si rubah terpisah dari junjungannya, terkurung di tanah tergelap penuh ilusi untuk dipergunakan suatu saat nanti. Bagaimana menurutmu dengan hatinya yang penuh luka, dan baru saja disembuhkan, lalu mengalami kejadian seperti awal?” di atas air ia berdiri sambil menanyakan kesedihan si rubah dalam ceritanya.
“Dendam, dia akan membalas.”
__ADS_1
Dewa Danau menelengkan kepala, “seperti itu?”
“Hamba rasa begitu.”
Dewa Danau mengangguk-anggukkan kepala, kemudian menadahkan air dari atas dengan tangannya, “kurasa kau memiliki pertanyaan.”
Yuka terkesiap, mencoba menetralkan diri dari keterkejutannya karena ketahuan menyimpan pertanyaan, ia seharusnya tidak kaget, di hadapannya adalah Dewa yang bisa berdiri di atas air pun harusnya dimaklumi.
“Apakah, Dewa hanya keluar beberapa tahun sekali?”
Yuka mengerutkan dahinya lantaran merasa ada yang salah. Tentu saja, ia melupakan pertanyaan awal karena digeser oleh isi pikiran kini, yakni ketakjubannya pada sosok agung di hadapannya.
“Tidak juga," jawab Dewa Danau enteng.
“Lalu mengapa waktu itu datang ke kuil?”
Sang Dewa perlahan menarik tangannya, dan menunjuk Yuka.
“Karena ada anak kecil menyanyikan lagu yang tak asing di telinga.”
“Tapi hamba sering menyanyikannya setelah itu, Dewa Danau tidak muncul.”
Sosok agung hanya tersenyum.
__ADS_1
“Lalu sekarang?”
“Aku mencium aroma yang kukenal.”