Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
11. Lotus Biru


__ADS_3

Kesepakatan telah terbentuk kemarin malam usai mengobati luka Kakak dari gadis pembawa sekeranjang apel di samping Mika. Perempuan dari Suku Penyembuh membeku menatap senyum merekah Tuan Besar Fusae, Yuka makin merapatkan jarak dengan saudaranya, Ryuji mengucapkan salam serta meminta maaf telah membuat kepala pelayan mereka mendapatkan luka bakar serius, kemudian menawarkan Mika untuk merawatnya. Bagai pengumuman mati saat tuan rumah langsung menyetujui dengan lantang, Mika akan masuk ke rumah dimana tempat pencekik Suku Penyembuh tinggal.


Pintu rumah terbuka lebar, keputusan terakhir tentang kehidupan selanjutnya telah disetujui maka tidak bisa diingkari pun lari begitu memasuki rumah berbau obat-obatan. Jantung Mika tak berhenti untuk tidak berdetak kencang, napasnya memburu karena menahan takut serta amarahnya. Mika mencengkeram erat kotak berisikan obat-obatan khusus milik sukunya.


Gema suara bahagia menyambut mereka ke dalam ruangan penuh barang mewah, untaian pujian pada diri sendiri karena telah bersusah payah dalam mengelola keuangan, serta kecemasan tentang putra tunggalnya masih enggan menggantikannya. Telinga Mika memerah, mendengar keluhan dari orang macam Fusae Hiroyuki telah merajam jantungnya. Berkali-kali ia menghela napas sepelan mungkin agar tuan rumah tak menyadari betapa gerah hati ingin menikam dengan pisau berlapis perak yang diperlihatkan kepada mereka.


Lihat, betapa bangganya ia memiliki kemewahan dari hasil membunuh, Mika mengulum senyuman yang membuatnya terlihat manis. Namun kebenarannya, Mika tengah menciptakan topeng. Suatu saat nanti, ia harus bersabar untuk membuka samaran dan mengejutkan sasarannya.


“Tentang kecemasan Anda, mungkin teman dari Adik saya bisa membantu.”


Akhirnya terdapat suara menghentikan kicauan yang membanggakan guci dari negeri luar. Mika tak tahan untuk tidak membanting benda gampang pecah itu agar si pemilik menggerung berguling-guling.


“Oh, aku memiliki obatnya. Aku suka karena menenangkan dengan cepat, merasakan kecemasan dalam waktu lama itu sangat mengganggu.” Pria tua dengan uban hampir memenuhi rambut mengeluarkan botol kecil membuat Yuka di belakang Ryuji nampak tercekat. “Sayangnya sudah habis, jika membelinya harus bertemu langsung dengan pemiliknya,” imbuhnya.


“Jika seperti itu, maka saya artikan Anda berkenan menerimanya,” Ryuji menengadahkan tangan pada Mika, dengan tanggap perempuan bersurai cokelat tersebut segera mengeluarkan botol kaca berisikan cairan berwarna biru. “Terima kasih,” kata anak tengah Kazuya padanya, terdengar penuh kelembutan dan tak dibuat-buat.


Pemandangan yang lebih baik dilihat daripada tempat menyilaukan penuh barang berharga bagi Mika ialah manusia bernama Ryuji, gema suaranya bahkan terngiang-ngiang atau mungkin telah tertancap di dalam kepala, merambat ke sanubari hingga mendinginkan kemarahannya.


“Bunga lotus biru.”


Tuan Fusae mengamati benda di tangan Ryuji, “aku belum pernah mendengarnya.”

__ADS_1


“Tentu saja, ini adalah salah satu obat khusus dari Suku Penyembuh.”


Senyum tuan rumah luntur, alis kanannya terangkat, lalu menatap Mika. “Apa yang kalian rencanakan?”


Mika perlahan menunduk dengan mengelukkan punggung, memperlihatkan rasa hormatnya pada pria bangsawan pemilik seluruh ladang sukunya. “Saya murni membantu, dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan suku saya. Lotus biru merupakan obat penenang.”


Perempuan dengan aksesoris jepit rambut bunga sakura menjelaskan, kemudian menegakkan badannya. Begitu menampakkan wajahnya, tak terlihat rupa manis serta sorot mata cokelat yang teduh seperti biasanya, semua terganti dengan mimik muka kaku, juga tatapan tanpa keraguan untuk memandang balik pria di hadapannya. “Jika Anda tidak percaya, maka saya akan membuktikannya.”


Mika mengambil kembali botol kaca di tangan Ryuji, membuka penutupnya lantas langsung menenggaknya sampai menyisakan setengah. Semua orang menatapnya, Yuka beserta saudaranya nyaris tanpa ekspresi, sementara Tuan Fusae nampak sedang menunggu sesuatu terjadi padanya. Malah kerisauan hati yang menggelayuti dirinya dari awal berangsur-angsur lenyap, serupa dengan hilangnya asap dari lilin pengharum ruangan beraroma lavender.


Waktu berjalan dan tak terjadi keanehan apa-apa membuat tuan rumah mendengus. Orang tua itu menegakkan tubuh kembali ke figur pongahnya, “kau masih memilikinya?”


Mika membuka kotaknya, memperlihatkan sebotol lagi ramuan herbal bunga lotus, “benar, Tuan.”



Gemuruh air terjun turun dari puncak bagaikan tirai putih, oleh mentari diberikanlah cahaya untuk menciptakan warna pelangi guna menambah keelokannya.


Sebuah mata menatap Kepala Pemerintahan Militer berdiri memandangi bayangannya sendiri di Danau Seira, nampaknya disuguhkan keindahan oleh duniawi tak lebih menarik dari gelombang air yang tenang.


“Danau itu sama seperti dirimu,” gadis bertubuh semampai itu berjalan anggun. Rambut hitamnya terurai panjang menggelombang, tersemat mutiara putih membuatnya kian elegan, matanya sepekat malam menatap tajam ke arah kekasihnya, “setenang air sehingga tak ada yang mengetahui isi pastinya karena dikira tak memiliki apa-apa,” imbuhnya.

__ADS_1


Yashuhiro menarik sudut bibirnya, menciptakan senyuman yang membuat kekasihnya memutar bola matanya jengah.


“Bagaimana rasanya setelah menahan diri selama ini?” tanpa memandang laki-laki berstatus tunangannya. Perempuan bangsawan itu memilih memberikan perhatiannya pada lonceng angin yang masih tak bersuara, ia merindukan angin karena merasa gerah.


Cukup lama bergeming sampai laki-laki bersurai jelaga sampai bahu menghela napas, “aku melakukannya untuk dirinya sendiri, Izanami."


Selama sesaat, mereka tak bersuara. Tergantikan oleh sepasang burung bercicit di pohon pinus yang berdiri menjulang tak jauh dari perempuan yang mengibas-kibaskan tangannya.


“Ia takut pada kegelapan, tapi ia menanginya agar menemukan sosokmu bila menyembunyikan diri di sana. Gadis itu benci makan makanan pahit, tetapi ia tetap memakannya karena mengira akan dibuang jika tidak menurut. Adikmu pernah terjatuh dari kuda, kakinya terkilir, ia tak menunjukkan rasa sakitnya lantaran tak ingin terlihat menyedihkan.”


“Dia hebat, dia bisa menangani semua permasalahannya sendiri.”


“Ia mematuhi semua, tapi tidak ada hadiah membahagiakan dirinya. Bukan kemewahan yang ia butuhkan, tapi kehadiranmu.” Izanami memalingkan muka, menatap langsung pria muda bertubuh tinggi nan gagah dengan otot-otot menonjol halus di tangan, “setidaknya bertemu barang sebentar atau kau bisa mengawasinya dari jarak jauh dengan mata kepalamu sendiri,” sungutnya.


“Jika aku melakukannya, aku akan kecanduan. Semakin besar keinginan untuk bertemu bila semula hanya melihat dari kejauhan, maka berubah menjadi hasrat untuk menyentuhnya.” Yashuhiro menegaskan, isi kalimatnya sama seperti perkataannya waktu itu pada Adik bungsunya. Tinggal melihat bagaimana reaksi dari Arisu Izanami.


Izanami memijit pangkal hidungnya, “kau menyakiti dirimu sendiri dengan merantai kerinduan.”


“Selama hal itu bisa membuat orang yang aku sayang menjadi lebih baik.”


“Lalu bagaimana jika aku mencekikmu sampai mati?”

__ADS_1


“Bila dengan kematianku bisa membuatmu bahagia, maka dengan senang hati.”


“Gila.”


__ADS_2