
Seorang pria berdehem, raut mukanya garang seolah menunjukkan bahwa ialah pemimpin, mata besarnya menatap semua orang yang hadir di kamar mayat. Seorang prajurit mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam serta meminta izin untuk memasuki ruangan, terdengar berat dan kasar suaranya kala mengatakan persetujuannya. Sang Kepala Pemerintahan Militer mengamati tiap orang yang muncul dari balik pintu sembari mendengar pernyataan dari Kepala Departemen Kehakiman.
“Tuan Muda Kazuya, mereka adalah penemu jenazah, dan salah satu prajuritku adalah saksi atas tindakan keji dari saudara Hitoshi Midori.”
Yashuhiro mengangguk, lantas saat laki-laki berusia 40-an hendak kembali membuka mulutnya si sulung Kazuya langsung menginterupsi. “Tuan Kazue, saya ingin mendengar langsung dari saksi, penjelasan diwakilkan berarti tidak ada gunanya memanggil mereka kemari.”
Terdengar dengusan kasar dari yang bersangkutan, kemudian berbalik menuju ke kursi. Ia hendak duduk, dan mengamati tindak laku anak angkat dari seorang Panglima Tentara yang telah naik pangkat menjadi Menteri Pertahanan mulai memerintah bawahannya untuk berbicara.
“Katakan,” titah Yashuhiro kepada lelaki berbadan tegap dengan pedang menggantung di pinggangnya.
“Malam itu jadwal saya berpatroli, saya melihat wanita ini keluar dari kediaman Tuan Besar Fusae dalam keadaan mabuk.” Ia menunjuk jenazah berbusana kimono berwarna merah, “beberapa saat kemudian saya mendengar seseorang berteriak, lalu tergopoh-gopoh mendatangi sumber suara yang asalnya dari jembatan, dan wanita ini tergeletak berlumuran darah,” imbuhnya, kemudian langsung menoleh kepada laki-laki berperawakan kurus seolah mengisyaratkan agar mengatakan keterangannya.
“Saya yang pertama kali melihatnya, Tuan Muda. Waktu itu, saya bersama teman menjaga kawasan tempat tinggal kami karena merasa tentara tidak begitu kompeten melindungi masyarakat,” matanya menyipit, ia menjeda perkataannya untuk melihat wajah memerah Kazue Aoyama serta urat lehernya nampak begitu kentara, “kami memutuskan untuk berpisah dalam melakukan pengawasan, saya mengatakan ingin memeriksa sekitaran sungai, dan di sana saya melihat seorang laki-laki mengayunkan senjata runcing dengan 3 mata ke arah seorang wanita, kemudian lari setelah saya berteriak, lalu datang prajurit yang menanggapi seruan saya,” sambungnya.
“Hari berikutnya lagi-lagi saat saya berpatroli, Tuan Muda,” seloroh prajurit tadi, ”saya berinisiatif untuk memantau daerah ini mulai dari kaki gunung, kala matahari sudah sudah sepenuhnya tenggelam saya hendak buang air kecil, namun waktu ingin ke tempat aman untuk melakukan hal itu saya menemukan seorang wanita yang sudah tak bernyawa, dan orang ini berada tak jauh darinya.”
__ADS_1
Mika memperhatikan jari telunjuk mengarah kepada saudaranya, dahinya berkerut, jemari mengepal erat, dan tenggorokannya dengan susah payah menelan kalimat kendati tak suka melihat Kakaknya dituding. Ia menghela napas panjang, berusaha menahan diri sembari mendengarkan sekali lagi kesaksian orang penebang kayu di gunung mengatakan kebingungannya perihal mayat wanita yang ia temukan padahal militer sudah mengumumkan telah menangkap pelaku.
“Bukankah sudah aku beri tahu bahwa pelakunya tidak hanya seorang?”
Spontan semua kepala menoleh ke pusat suara, memandangi pria beranjak berdiri berkacak pinggang disertai tatapan murka. “Kalian ini bisanya hanya mencela, segala hal yang kami lakukan selalu salah, tetapi yang menangkap pembunuhnya justru kami. Konstribusi kalian apa kecuali cuma mengkritik saja?!”
“Rakyat berhak bersuara, Tuan,” desis pria kurus berdiri menjulang menghembuskan napas tanpa mengalihkan pandangan dari Kepala Departemen. “Jika Anda bertanya tentang kontribusi, tempat ini tidak akan berdiri tanpa adanya kami. Masyarakat selalu ikut andil, saling bahu-membahu menjaga kenyamanan tempat yang ditinggali orang terkasih, tetapi orang macam kalianlah seringkali mengusik ketentraman rakyat kecil!”
Kening lawan bicara berangsur terlipat, berniat menyela namun sang penjaga keamanan yang dibentuk oleh masyarakat kembali berkelakar. “Seharusnya yang bertanya tentang kontribusi adalah kami, orang pemerintahan selalu berujar membantu rakyat karena keberadaan masyarakat begitu penting bagi negara, tetapi lebih tepatnya alat penghasil kekayaan.” Kendati berada dalam ruangan penuh orang tak bernyawa, tanpa adanya rasa takut akan berakhir berbaring kaku seperti mereka, ia menyatakan keresahan tanpa tedeng aling-aling sebagai wali dari usaha orang-orang dalam bertahan dengan harapan di ujung jari.
“Lancang!” kedua kaki Kepala Departemen melangkah mendekat bermaksud menyalurkan kejengkelan dengan kepalan tangan, lantas terhenti lantaran terdapat uluran tangan menahan bahunya.
“Perhatikan baik-baik pola arah dari lukanya,” Ryuji berangsur melepas cekalan, kemudian menunjuk pada mayat-mayat terbujur kaku di atas ranjang jenazah.
Semua mata langsung melihat apa yang ditunjuk, telunjuk Ryuji terarah dari dada bagian kiri lalu bergerak menurun ke perut mayat sisi kanan.
__ADS_1
“Berarti, pelakunya kidal?” tanya seorang prajurit.
Ryuji mengangguk sebagai jawabannya, “apa tangan kiri pelaku yang kalian tangkap lebih mendominasi?”
“Saya rasa tidak, kali pertama bertemu memergokinya, dia membawa garu serta hampir meninjuku sebagai bentuk perlawanan karena berontak saya bawa juga menggunakan tangan kanan.”
Ryuji mengangguk, lantas melirik Kepala Departemen seperti tak acuh pada pembuktiannya serta nampaknya bersikeras menetapkan Hitoshi Midori sebagai tersangka, lantas ia mengulurkan tangan kanannya pada borok menjijikkan dari tubuh wanita penghibur yang menggunakan kimono berwarna merah, ”saya harap indra penglihatan kalian masih jernih.”
Tindakannya membuat seisi ruangan memiliki raut wajah tanda tanya, sedangkan pemuda itu sendiri tak mengindahkan orang lain yang membuat pergerakan tiba-tiba, nampak tergesa-gesa ingin keluar, dan segera memuntahkan isi perutnya.
Ryuji menarik kembali tangannya, lalu meletakkan sesuatu pada kain penutup jenazah, kemudian merogoh pakaian dengan tangan kirinya untuk mengeluarkan beberapa kain, lalu saat dibuka isinya adalah tanah.
“Terdapat tanah halus sejenis lempung, berwarna kelabu hitam, biasanya cocok untuk ditanami jagung, padi, tembakau, kedelai, tanah ini subur,” ia menjeda, “saya membawa tanah ini dari ladang seorang bangsawan,” imbuhnya sambil menunjuk segumpal tanah pada salah satu kain.
Ia meminta semangkuk air untuk membasuh tangannya, dengan sigap prajurit menuruti permintaannya. Mika melihat ketenangan di raut wajah Ryuji saat mengelap tangannya. Andai ia yang melakukannya, berdiri menuturkan argumen dengan risiko diamati seolah dikuliti sama seperti pandangan Kepala Departemen, lututnya sudah pasti tak mampu menopang tubuhnya serta bermandikan keringat. Walaupun hanya menonton pun degup jantungnya berpacu dengan cepat seolah dikejar sesuatu yang menakutkan. Tetapi berada di kamar mayat memang menyeramkan.
__ADS_1
Ryuji kembali melakukan hal seperti sebelumnya, kemudian menuturkan bahwa tanah di tubuh wanita yang ditemukan penebang kayu berbeda dari lainnya. “Berwarna hitam, terasa gembur, ringan, dan licin. Tanah semacam ini ditemukan di daerah dekat gunung berapi, dan lukanya seperti akibat dari serangan binatang buas.”
“Dan, pada garu itu, warna tanahnya cokelat kelabu, merupakan endapan dari lumpur, kalian bisa menemukannya di hilir sungai karena terbawa dari hulu,” tunjuknya pada benda yang diletakkan di atas meja, kemudian menatap Kepala Departemen tanpa memutus kontak mata. “Tidak ada kecocokan, apakah Anda akan tetap menahannya?”