
Penantian panjang selama bertahun-tahun akhirnya membalaskan dendam kerinduan dengan enggan berpisah walau hanya beberapa inci jaraknya. Si sulung pasrah tangan kirinya digenggam erat sampai berkeringat.
“Kalian baru saja tiba?” Yuka bertanya tanpa menoleh kepada saudara tertua, pandangannya terfokus pada anak tangga kuil yang menurun.
Yashuhiro menjawab, “benar.”
“Lalu bagaimana bisa tahu aku berada di sini?” Yuka sekali lagi bertanya.
“Orang yang aku beri mandat untuk mengawasimu memberi tahu bila kau sering mengunjungi kuil sebelum, dan setelah selesai pelatihan.”
Mendadak langkah kaki Yuka terhenti, “karena itu kau tidak pernah mengunjungiku?” terdapat nada kecewa pada pertanyaannya.
“Jika yang ingin kau tanyakan perihal rindumu, aku pun juga merasakannya,” ungkap Yashuhiro, ia melirik Ryuji yang juga ikut berhenti. “Jika aku turuti kerinduan yang bersarang itu, selanjutnya akan sulit menghentikannya. Keuntungan dari rasa puas ada padaku, tapi kepuasan yang terjadi pada dirimu akan menjadi ketergantungan, lalu mengakibatkan ketidakmandirian karena mengandalkan adanya perlindungan.”
Hati Yuka masih tidak bisa menerima perlakuan itu kendati sudah mendengar penuturan Kakaknya, ia menarik tangannya dari genggaman, lalu kembali berjalan menuruni tangga dengan cepat. Sementara Yashuhiro, dan Ryuji terdiam memandang punggung si bungsu yang semakin kecil di penglihatan mereka.
Asap mengepul dari mangkuk teh di meja, aroma matcha menguar, menyatu dengan udara, dan merasuk ke indra penciuman. Dengan tangan kiri memegang mangkuk, dan tangan kanan memutar mangkuk tersebut sebanyak tiga kali putaran, kemudian meminumnya perlahan.
__ADS_1
“Apa yang membuat Kepala Pemerintahan Militer sampai datang kemari? Tidak mungkin hanya untuk mengunjungi Adiknya atau menemui tunangannya, ‘kan?”
Pertanyaan langsung dilayangkan begitu Yashuhiro pun Adiknya baru saja meletakkan mangkuk tehnya masing-masing.
“Dugaan Anda memang benar, Tuan Besar Arisu,” balas Yashuhiro dengan tenang, lalu menoleh ke arah Ryuji yang duduk tak jauh darinya. “Dia, Adik yang kami sembunyikan karena memiliki penyakit. Saya dengar bahwa di sini adalah tempat Suku Penyembuh yang memiliki ladang tumbuh-tumbuhan obat langka, saya akan membayarnya untuk kesembuhan Adik saya.”
Tuan rumah memandang Ryuji, memang dari awal perhatiannya tertuju pada pemuda bersurai putih yang tak kunjung buka suara. Namun, ia memaklumi lantaran selepas mendengar penuturan dari calon menantu tentang kondisinya.
“Benar, ia tampak pucat. Tapi, sayang sekali ladang yang kau maksud itu bukan lagi milik Suku Penyembuh.”
Yashuhiro menautkan kedua alisnya, Ryuji menatap tajam tuan rumah yang ada di depannya sedang bergerak gusar.
Setelah mengungkapkannya, Tuan Besar Arisu mendapati reaksi dari Kazuya bersaudara, Yashuhiro menunduk seolah-olah tengah diterpa cobaan yang membuatnya kebingungan mencari jalan keluar, sementara Adiknya memejamkan mata seakan memiliki pemikiran bahwa sudah tidak memiliki harapan lagi. Suasana di ruangan itu menjadi begitu sunyi, bau-bau teh tak lagi memenuhi ruangan karena berganti dengan aroma kesedihan yang membuat suasana menjadi memilukan. Dan, si kepala keluarga berpikir cepat untuk segera mengangkat kemuraman yang ada di tempat tinggalnya.
“Aku akan mengirimkan surat kepada Tuan Hiroyuki bahwa calon menantuku beserta Adiknya akan berkunjung ke kediamannya. Kalian jangan khawatir, meski harga jual yang dipasang olehnya tinggi, jika aku yang mengajukan permintaan ia pasti berpikir ulang,” bujuk Tuan Besar Arisu.
Usaha tuan rumah ternyata berhasil menghidupkan keadaan, Yashuhiro mengangkat kepala, wajahnya berseri-seri seperti saat kali pertama bertemu, dan hal itu yang membuatnya ingin anak sulung Kazuya menjadi menantu untuk putri pertamanya. Karena pemuda yang tenang menurutnya pantas disandingkan oleh gadis berwatak tegas nan keras kepala. Dan, perhatiannya beralih pada sosok anak yang kabarnya disembunyikan itu perlahan membuka kelopak mata, terdapat binar kehidupan di sana. Ia bersyukur, dan terbesit di dalam kepalanya yang menginginkan pemuda itu turut menjadi anak mantu bila sembuh dari penyakitnya. Mungkin, itu keputusan tepat untuk meredam putri bungsunya yang gampang tersulut emosi.
“Tuan Besar Arisu, tidak memiliki pemikiran untuk menginginkan Adik saya untuk putri bungsu Anda, ‘kan?” tanya Yashuhiro memecahkan lamunan kepala keluarga Arisu, orang tua itu tertawa karena bakal menantunya ternyata bisa menebak isi pikirannya, “saya harap tidak, Tuan. Biarlah anak-anak memutuskan siapa cintanya, alih-alih mengatur perjodohan yang mengikatnya untuk tidak berhubungan seperti pertemanan dengan lawan jenis selain pasangannya,” terangnya seolah ia hendak mengatakan bila perjodohan baginya ialah kutukan yang mengikat sampai membentuk rasa takut akan menghancurkan ikatan itu, dan segalanya berantakan.
__ADS_1
“Kau menyindirku?” seloroh pria tua tersebut sambil tertawa hambar.
“Tentu tidak, Tuan. Sedari awal saya sudah menyukai putri Anda karena memiliki karakter yang kuat.”
“Senang mendengarnya. Kalau begitu, mari kita bertemu dengannya, juga Adik perempuanmu,” ajaknya yang disetujui Kazuya bersaudara.
Arisu menggiring Yashuhiro dan Ryuji memasuki aula panahan, memantau seluruh murid berlatih panahan. Tepat saat itu, mereka tidak usah bersusah payah menyapu pandangan untuk mencari, perempuan yang dimaksud telah menembakkan anak panah sampai menimbulkan suara gaung dari tali busurnya. Disusul oleh putri bungsu Tuan Besar Arisu yang menjadi penembak kedua, lalu seorang gadis dengan rambut dikepang kuda, kemudian gadis mungil yang begitu lemah gemulai, dan tidak terlihat adanya ketegangan sama sekali sampai melepas anak panahnya. Terakhir, si bungsu Kazuya membuat orang terkejut karena memutar busurnya, akan tetapi menyebabkan anak panahnya melesat dari target.
“Putriku bilang, gadis itu berupaya memutar busurnya karena jengkel tidak bisa mengeluarkan bunyi saat melepaskan panah,” terang Tuan Besar Arisu tanpa mengalihkan perhatiannya pada seorang perempuan bersurai hitam legam yang berjalan menuju ujung aula, lalu diikuti oleh putri sulungnya serta gadis lain yang menjadi penembak sebelum anak ragil Kazuya.
“Saya pikir sudah cukup mengawasi latihan mereka, Tuan. Terima kasih telah bersedia membimbing Adik saya sebaik ini, saya tidak kecewa melihat ketidaksempurnaan yang ia lakukan karena saya yakin apa yang telah Anda berikan akan membuatnya tersadar, dan memperbaiki kesalahannya,” Ryuji tiba-tiba berkata setelah sekian lama bungkam, Tuan Besar Arisu mendengar betapa dalamnya suara milik pemuda yang menundukkan badan kepadanya.
Doa apa yang telah dirapalkan leluhur Kazuya sampai memiliki keturunan menawan seperti mereka? Tuan Besar Arisu bertanya dalam hati sembari berjalan keluar aula dengan sesegera mungkin agar kehadiran mereka tidak membuat murid tidak konsentrasi pada latihannya.
Nyatanya keberadaan mereka sempat tertangkap oleh si bungsu Kazuya saat jalan sendirian ke tempat paling ujung sebelum putri Tuan Besar Arisu, dan Mika mendatanginya.
“Sudah aku bilang untuk tidak memutarnya!” keluh perempuan yang menjadi tunangan Kakaknya.
Kendati berhadapan oleh putri pemilik tempat menuntut ilmu, ia abaikan begitu saja, alih-alih memuji Mika yang menatapnya dengan raut menyedihkan, “posisi tubuh, juga tembakanmu bagus, apa jadinya kalau kau menuruti keinginanmu waktu itu?” tanyanya tanpa ragu.
__ADS_1