Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
17. Babak Akhir


__ADS_3

Kalang kabut semua orang gara-gara pelaku menghilang secara mendadak, juga tak kunjung diketemukan sementara gaung lonceng berdeting menandakan surya kian bergerak ke arah barat, dan rembulan sudah siap menduduki singgasana langit. Gema bernada perintah menggelegar untuk menyusuri tiap jalan, arahan memeriksa tempat-tempat yang jarang diketahui agar tak luput diperiksa barangkali digunakan bersembunyi. Keamanan tentunya semakin kuat karena Kastel Atsuyoshi pun turut ambil bagian dengan mengerahkan muridnya untuk menjaga pintu gerbang keluar masuk wilayah Matsuko, serta ditugaskan melindungi masyarakat.


Sesosok manusia bersandar pada pilar menara, senyum terulas di bibirnya kala menatap hamparan orang kesetanan demi menangkap satu orang kendati sebelumnya para warga serta pihak militer berada di sisi berlawanan. Riuh teriakan makian ditujukan padanya membuat ia terkikik sampai netranya terpejam. Lucu, menurutnya. Lebih tepatnya semua yang terlihat oleh retinanya dinilai jenaka. Sebenarnya ia tidak suka tertawa berlebihan, tetapi suara gelak tawa mampu mengungkung rintihan batin agar tak ada seorang pun tahu kesedihan, juga kepalsuan yang diciptakan sampai mewujudkan kebusukan dari tumpukan kemasygulan di sudut hati.


Anggapan tidak ada yang mengetahui ternyata salah kaprah, bahwasannya ada seseorang mampu menebak suasana hati walau hanya dengan bertatapan mata. Gerigi memori berputar pada perbincangan perihal ketidakyakinannya atas ungkapan bahwa mata tak bisa berbohong hanya karena tidak ada orang di sekitarnya memahami kekalapannya, namun kepercayaannya dipatahkan hanya dengan pertanyaan sisi mana darinya yang hadir saat menerima tabung berisikan bubuk jamur untuk pembuktian bila masih tidak memercayai pernyataan orang tersebut.


Mendesis akibat batas informasi mengenai diri telah dilangkahi oleh pemuda berambut putih yang menerawang angkasa kelam bertabur gemintang, tonjolan di leher bergerak tertahan bagai ragu melontarkan kalimat di kerongkongan, “apa maksudmu?”


Perhatian laki-laki tersebut berangsur beralih padanya, nyaris tanpa ekspresi saat berbicara. “Kepalsuan itu tidak berarti untukku, Tuan Muda Fusae. Sifat tidak berdaya itu hanya bentuk perisai untuk melindungi dirimu yang lain, ‘kan?”


Ia tak lekas menanggapi, lantas memalingkan wajah.


“Mau sembunyi sampai kapan?"


Lagi, tidak ada jawaban.


“Goresan di batu saat kita bertarung mirip dengan luka korban. Terdapat tekanan terlebih pada bagian kiri menunjukkan pelakunya kidal, dan kejadian waktu di kedai memperkuat asumsi berupa celotehan kebencian itu sebenarnya bentuk dari kekhawatiran secara transparan, nyatanya kau menunjukkan betapa bakti dalam menjaga amanat sampai berbuat sejauh ini.”

__ADS_1


Alis menukik tajam tanda tak senang tentang pemaparan yang dilontarkan ibarat petir menyambar-nyambar. Masih dalam keadaan enggan bertatap muka, gigi geraham belakang mengerat sementara Ryuji terus memberi pernyataan secara gamblang tanpa tersendat, semua ucapannya mengalir tenang, dan tertata.


“Wanita penghibur yang kau bunuh adalah suruhan dari musuh-musuh Ayahmu, ‘kan? Membiarkan mereka memasuki kawasan, lalu memberi jarak sebelum menikam supaya apa pun berita yang dibawa para pelacur tak sampai pada Tuannya.” Ryuji mengambil guci abu jenazah, “menurutmu mengapa kau tak lekas tertangkap dengan sedemikian berantakan tindakanmu?”


Fusae mendongak, kemudian langsung menunduk saat tatapan mereka bertemu.


Ryuji perlahan menekuk salah satu lutut menumpu tanah, menyejajarkan postur hingga setara, “karena, Ayahmu. Beliau tahu, namun memilih diam karena memiliki harapan padamu dengan menempatkan Tuan Yutaka sebagai pembersih jalan.”


Katsuo menoleh teramat cepat, bibir urung terbuka karena terlebih dahulu disambar pertanyaan, “ingin sembunyi sampai kapan?”


Sontak tercekat Ryuji mengulang pertanyaan yang sama membuatnya tercenung. Benar. Tidak mungkin ia akan tetap bergeming di balik bayang-bayang kedurjanaan diri. Kepalanya dipalingkan, melirik guci jenazah sang Kekasih di tangan pemuda yang membeberkan informasi beberapa bangsawan incarannya mengadakan pesta di Penginapan Eishi.


“Ada yang aneh,” ujar seseorang yang menenteng sabit.


Seorang tentara di sampingnya menyahut, “apa?” lantas yang ditanya menelengkan kepala seolah ragu atas isi kepalanya sendiri sampai menekuk dahi, mata tentara memicing curiga kala lonceng berbunyi kesembilan kalinya, kemudian terperanjat seakan sadar ada hal keliru sontak menoleh ke arah menara. “Di sana!”


Sekian kepala serta merta menengok ke arah telunjuk tentara tersebut menuju, dan mendapati sesosok manusia tengah menarik tali yang dipergunakan untuk membunyikan peringatan waktu sore cukup dengan tujuh kali.

__ADS_1


Fusae Katsuo berdiri melipat tangan seraya tergelak menyadari kedatangan seseorang di belakangnya, sosok perempuan berambut cemani, tersenyum seringai menampilkan kondisi gigi tidak sejajar dengan yang lain. Katsuo lantas berbalik, seorang gadis membuka kepalan tangan, mengeluarkan helai benang pada tiap jemari, “ternyata si manis, Arisu Hotaru.”


Perempuan itu segera mengibaskan tangannya, sulur-sulur benang pun bergerak menggapai Katsuo. Akan tetapi, targetnya mendadak mengambil tindakan melompat mencekal tali, meluncur ke bawah.


“Sial!” umpatnya ketika Katsuo menghindari kepungan orang-orang dengan berayun, lalu mendarat di atas sumur yang ditutup. Kejengkelan meningkat waktu Katsuo mengedipkan salah satu mata setelah berhasil selamat dari jebakan berupa peledak yang dipasang pada pijakannya, dan berlari menjauh.


Gadis itu mengerang diiringi suara ledakan dari arah bendungan.



Katsuo tidak lari ke tempat sejauh yang dikira kebanyakan orang—melupakan bahwa lingkungan terdekat pun bisa menjadi persembunyian teraman. Laki-laki jangkung tersebut menutup ruangan di mana kepala pelayan tergeletak nyaman di atas futon. Istilah istirahat tidak cocok untuk Yutaka Tamotsu yang kerap berjaga demi menjaga kepala keluarga, melainkan dikurung di alam bawah sadar oleh si sulung Kazuya ketika hendak merenggut nyawa seorang gadis bernama Hitoshi Mika.


Perempuan tersebut tak ia sangka berdusta—ikut ambil bagian memakai dendam atas kesengsaraan Suku Penyembuh terlebih kematian orang tuanya menjadi landasan memasuki kediaman sebagai seorang tabib, memberi penyuluhan pada Hiroyuki yang memiliki kecemasan dengan rebusan lotus biru. Rupanya bukan sekadar obat penenang, bunga lotus biru dapat membantu rangsangan seksual. Maka dari itu, mereka memasang Yuka sebagai pemicu hasrat. Menilik sikap gadis itu yang apatis membuat kondisi kesehatan kepala keluarga Fusae kian menurun, dan emosinya berantakan karena nafsunya tidak disalurkan.


Tuan Muda Fusae meringis, beberapa minuman keras yang disimpan dalam ruangan telah ia kosongkan untuk menyirami kediaman. Umeshu, kanzake, shochu, dan salah satu minuman yang sebelumnya ingin ia minum serta berbincang dengan kawan barunya, yaitu Yashuhiro karena Adik laki-lakinya belum cukup umur untuk menenggak minuman keras seperti nihonsu yang telah membanjiri ruangan. Alasan lainnya apabila rencana itu terjadi adalah menyatakan rasa iri sebab memiliki saudara seperti Ryuji. Aroma memabukkan mengudara, dan Hiroyuki sekarat di kamarnya.


Itu juga efek samping dari lotus biru. Obat sekaligus racun.

__ADS_1


Katsuo memasuki kamar tidur kepala keluarga membawa baki berisi busana pengantin kepunyaan sang Ibu serta guci abu kremasi milik pujaan hati. Tanpa memedulikan suara napas yang terdengar menyakitkan.


Baki diletakkan, ia mengambil korek api di samping cerutu Ayahnya, kemudian menggesek kepala korek sampai apinya menyala, “mari kita bersama-sama temui orang terkasih.”


__ADS_2