
Kepala Katsuo berpaling sekadar menutupi wajah pias tatkala mendapati kejutan tak diinginkan, pengakuan dari sang Ayah bahwa ialah pelaku atas kematian banyak orang membuat jantungnya bak dihantam palu godam. Dadanya naik turun terengah, kemudian tercenung. Ia bukanlah manusia baik atau seseorang yang tak pernah melakukan hal menyimpang, sesungguhnya dia merupakan iblis bercadar tipis berbalut kesabaran. Menyamarkan tindak laku tak rasional bila kunjung gelap mata. Menyimpan seluruh emosi pada ruang tersembunyi, ditutupi oleh hiruk-pikuk sekeliling. Lantas tersibak lantaran kekalutannya pada seorang perempuan telah merisak batinnya. Menjadikan gadis itu sebagai target untuk segera disingkirkan karena muncul praduga dari kepalanya bahwa ada sesuatu darinya akan diambil.
Retina mengamati minuman memabukkan di dalam cawan bergetar sehingga membentuk gelombang, sekonyong-konyong hatinya berdebar teringat perkara suhu udara kian menurun serta muncul cahaya membentuk lingkaran besar dengan aliran angin seperti arus air mengombak di tengah-tengahnya. Tak cukup dengan hal tersebut, sesonggok mata besar mendadak muncul, dan berkedip membuat jantungnya merosot.
Sejak awal, seharusnya ia berpikir panjang saat hendak mencengkeram bahu Kazuya. Padahal sudah merebak rumor tentang pihak kewalahan dalam menghadapi klan tersebut, sudah tak terhitung pula banyak dari suatu golongan memilih mundur karena ketidaksanggupan menagak. Barangkali hal itu juga lawan memilih untuk tidak menentang secara terang-terangan, dan membuat plan menewaskan mereka dalam satu malam. Menyisakan anak kecil yang dipandang tidak akan membahayakan. Mungkin karena dirasa mereka tak lagi sekuat konon, kepercayaan diri Katsuo naik untuk bertanding secara langsung. Nahasnya, malah diikat oleh si empu netra semerah anggur di cawannya.
Katsuo memutar memori ketika Kazuya bersaudara memasang tali padanya sehingga tak memungkinkan guna melepaskan diri, dan tidak mungkin juga berpikir berusaha lari lantaran masih banyak yang harus dibayar selama masih hidup di dunia ini.
Persis seperti pernyataan Ryuji saat ia terikat di tempat gelap dengan burung gagak berkoar hinggap di atas dahan pohon mati, lalu batu-batu bernama yang tertancap pada tanah, juga nuansa terang laras segera menyimpulkan bahwa ia berada di tempat peristirahatan terakhir. Ia tak takut, sungguh tidak ada rasa seperti itu di dalam dirinya kendati pemuda di hadapannya merupakan jelmaan Dewa Kematian yang menjemput ajalnya.
“Akankah kau akan tetap tersenyum?”
Katsuo mendengus, “mengapa ti—“ matanya membelalak melihat sebuah gelang tali bergandul lonceng di tangan Ryuji, “dari mana kau mendapatkannya?!” seruan yang dibalas dengan senyuman, ia benar-benar salah telah meremehkan meski melawan salah satunya yang diyakini sudah tak sebanding dengan pendahulu mereka perihal kecakapan.
Ryuji meletakkan benda berpemilik dan dapat dipastikan dikenali oleh Katsuo di atas tanah. Sialnya, Katsuo tidak dapat meraih benda yang acapkali dikenakan oleh sang kekasih kecuali merobohkan diri lantas bergerak mendekati meski tanah lembab dari makam mengotori.
__ADS_1
“Kau tahu mengapa aku membawamu kemari?”
Alih-alih meresapi pertanyaan yang dilontarkan oleh anak tengah Kazuya, Katsuo tertawa lantaran detik itu juga ia memiliki pemahaman akan mati, kemudian sekalian dikubur bersama kenang-kenangan milik sang bunga hati. Tawanya berangsur berhenti saat Ryuji berpindah tempat seakan menampilkan sesuatu di belakangnya, alisnya bertaut melihat sebuah guci khusus untuk abu kremasi.
Terhenyak Katsuo samar-samar melihat nama yang berada di benda keramik tersebut. Ia mengerang, menolak kebenaran. Sedari awal, ketidaksanggupan dalam menerima atas meninggalnya Ibu masih bersarang, dan kini ia juga kembali menelan kesulitan bahwa sang Kekasih telah tiada, dengan pakaian yang ia kenali milik gadisnya penuh bercak darah sebagai bukti kematiannya. Dan, tanah pemakaman telah sepenuhnya siap menangkup air mata kenestapaan, angin sudah bersedia menghantarkan perambatan suara ratapan kepiluan. Barangkali membutuhkan pelampiasan, maka target dari otaknya adalah orang di hadapannya.
“Menjijikkan sekali kau berani melakukan hal ini kepada perempuan, Kazuya!”
Seruan menggelegar di sela-sela tangis dari lelaki yang kehilangan belahan jiwanya, sementara yang dituding tak menunjukkan ekspresi apa-apa serta kelamnya sekitar memperkeruh akal pikiran sampai menerbitkan kesimpulan, bahwa Ryuji melakukan tindakan seperti dugaan.
“Bukannya dirimu?”
“Aku perempuan, tetapi kau membututi, dan bermaksud menikam dari belakang. Kau mengolok-olok diri sendiri?”
Ekor matanya menyipit guna melihat sosok di pintu gapura pemakaman, Kazuya Yuka berjalan mendekat membawa lentera bersama orang yang dirasa akrab hingga membuat mata Katsuo melebar. “Kak Ryuji, bukan yang membunuhnya,” matanya langsung beralih pada yang bersuara, si bungsu Kazuya menatapnya sinis.
__ADS_1
“Tuan Muda Fusae,” seorang perempuan bersimpuh kepadanya dengan perut membuncit membuatnya cukup kesulitan melakukan penghormatan seperti yang ia lakukan saat masih menjadi pelayan dahulu, lalu beranjak mendekat, dan berusaha melepaskan ikatan. “Tuan Muda Kazuya, bukanlah pelakunya, Tuan Muda...,” tuturnya dengan disertai luruh air mata.
Belenggu yang mengikat Katsuo terlepas, ia lantas mencekal kedua bahu mantan pelayannya, “lalu siapa? Siapa yang melakukannya?!” tanyanya frustrasi.
“Tu-Tuan Fusae...,” jawabnya takut menatap langsung mantan Tuannya, lantaran netra Katsuo sama persis dengan orang yang baru saja disebut merupakan pembawa bencana baginya serta teman seperjuangannya.
“Apa?”
Perempuan yang berada di cengkeraman Katsuo gemetar, “saat Anda dikirim ke pusat oleh Tuan Besar, beliau seringkali memaksanya untuk melayani, dan dengan tegas menolak karena hati serta apapun dari dirinya diserahkan hanya untuk Anda, Tuan Muda.” Seolah baru kemarin sahabatnya bercerita dengan gigi bergemelatuk di pelukannya, sayangnya perempuan manis yang ia anggap sebagai Adik sendiri telah berada di tempat berbeda. “Tuan Fusae murka sehingga membuat larangan untuk memberinya makan, dan dikurung di gudang. Saya tidak bisa melakukan apa-apa, Tuan Muda. Kepala Pelayan menyewa penjaga, apabila membantunya bagaimana dengan keluarga saya? Tetapi jika tidak membantunya, saya juga termasuk orang yang menyiksanya....”
Meski kesusahan berkata akibat tercekatnya kerongkongan tak sanggup mengeluarkan pernyataan, perempuan itu tetap berusaha memuntahkan rasa sakitnya. “Seminggu tanpa makan dan minum membuatnya tak bisa melawan saat Tuan Fusae menggagahinya.”
Katsuo lunglai tak ubahnya bunga anyelir putih yang layu di permukaan tanah pembumian. Embun kembali menaungi mata, kebekuannya merutuki diri sampai menuduh orang lain, nyatanya orang terdekatlah yang melanggar janji untuk tidak menyentuh sang Kekasih walaupun tak direstui lantaran orang tersebut memandang rendah posisi si belahan hati.
“Akankah, kau akan tetap diam seperti ini?” sesungguhnya pertanyaan Ryuji inilah yang mengikatnya.
__ADS_1
“Mustahil seorang anak mengkhianati orang tuanya, sudah pasti memihak mereka bagaimana pun perbuatannya,” tukas Yuka menambah mengeratkan belenggu setelah Kakaknya.
Mendengar pernyataan tersirat provokasi, Katsuo mengepalkan kedua tangan, rahangnya mengeras, menatap lurus Ryuji yang memberikannya sebuah tabung berukuran 1 inci.