
Ryuji tercenung, beranggapan akan mendapat balasan apatis, alih-alih memergoki air muka sendu Yuka. Tatapan dingin yang senantiasa terpatri pada paras elok tersebut pun tak ada. Bagai melihat gambaran diri pada sosok penggenggam ibu jari seolah tak ingin Anak laki-laki itu pergi. Bila sebelumnya memainkan peran sebagai Anak yang disembunyikan hingga melihat dunia luar merupakan larangan. Semua aturan bukanlah masalah, melainkan saat pintu kamar terkunci, juga tak terdengar suara apa-apa menyapa indra pendengarannya. Kekalutan langsung mendekap, kegelisahan mencekik leher hingga menyulitkannya menghirup udara dengan leluasa, dan begitu Yashuhiro muncul dari pintu yang awalnya sukar dibuka segala keresahan sirna hanya dengan mencengkeram erat pakaian saudara angkatnya.
Walau tidak yakin terhadap panorama di hadapannya, sebab dirasa cukup sulit sifat sentimental Yuka ditampakkan. Dan, Ryuji mengira tak akan terjadi karena Anak perempuan itu selalu menciptakan dinding tak kasat mata jika ada seseorang yang mendekati termasuk Kakak laki-lakinya sendiri. Tak ayal orang-orang memberi jarak lantaran segan mendapat balasan berupa gurat arogan.
Lantas, apakah Yuka juga mengalami kegelisahan jika ditinggalkan sama yang seperti dialami Ryuji? Namun, apabila terkaan Ryuji keliru perihal kecemasan, apa dia melakukan kesalahan seperti mengatakan sesuatu yang menyakiti hati sampai Yuka berlinang air mata? Apa Ryuji menyentuh bagian tubuh si bungsu Kazuya yang terluka? Dan, jika saudara kandungnya berada di posisinya, apa yang akan dilakukan?
“Ibu!!”
Seseorang berseru, Ryuji sontak menoleh ke sumber suara, dan Yuka langsung mengerjap bermaksud menyembunyikan air mata. Saat itu pula suara yang sebelumnya tidak terdengar sebab terpaku pada pemikirannya sendiri-sendiri langsung merangsek di telinga.
“Aku kira tentang Anak tersembunyi hanya rumor,” kata laki-laki berambut ikal.
“Keluarganya mungkin malu memiliki putra sepertinya. Kasihan, dia pasti jenuh terus-menerus dikurung,” timpal yang lain menyayangkan.
Ryuji kembali menaruh perhatiannya pada Anak perempuan yang menarik tangan setelah begitu lama menggenggam jarinya, dan mendapat sorot murka dari mata Yuka.
“Padahal sudah memiliki calon, tetapi sepertinya kurang cukup jika hanya satu orang,” komentar dilontarkan oleh seorang wanita.
“Maksudmu seperti perempuan penggoda?” celetuk wanita lainnya dengan tekanan di akhir kalimat.
Kasar sekali, namun tak diindahkan walau dihujani komentar buruk. Anak laki-laki menatap lekat setiap pergerakan perempuan itu saat berjalan mendekat, kemudian duduk berjongkok memeriksa keadaan Yuka disertai untaian penyesalan, lalu membopong saudarinya bak boneka, dan mendudukkannya di permukaan tenunan alang-alang.
__ADS_1
Gadis itu berbalik, membungkukkan badan serta mengucapkan permintaan maaf kepada orang-orang atas kekacauan yang terjadi meski bukan kesalahannya sendiri. Berangsur-angsur semua orang pergi, dan Ryuji menangkap kekosongan pada mata sewarna biru langit kala sang gadis berlutut berhadapan dengan wanita yang disebut sebagai Ibu.
“Cukup, Ibu…,” pinta perempuan itu terdengar lembut.
Salah satu tangan wanita terulur mengarah pada pucuk kepala putrinya, kemudian mengelus pelan. Sang gadis menggapai tangan Ibunya, lalu menyandarkan wajahnya ke telapak tangan.
Pandangan Ryuji tertuju pada Yuka, mata Anak perempuan itu terpejam seolah tak ingin melihat situasi menyentuh hati yang membuatnya teringat dengan sang Ibu. Begitu pula Ryuji, dia mengalihkan gelombang menyesakkan kepada lukisan ombak, kesederhanaan bambu dalam nuansa hitam putih, pohon sakura, pemandangan danau di depan. Sekian banyaknya lukisan perhatian Ryuji terhenti saat melihat kelambu penutup kanvas berkibar ditiup angin, menampakkan hamparan warna antara biru, dan sian. Senada langit, jika terdapat pernak-pernik mega mendung, matahari, mungkin juga munculnya gemintang saat pagi serta sore hari atau rembulan menggantung mengawasi takhtanya yang ditempati mentari. Mungkin juga lautan, jika terdapat polesan warna lain menjadi ombak yang kejar-kejaran atau kegagahan karang.
Hanya saja rasanya dingin nan hampa, sama halnya netra milik perempuan pengusap punggung tangan Anak perempuan demi merenggangkan kepalan tangan yang buku-buku jarinya memucat. Rupa-rupanya momen mengharukan sudah diselesaikan, memang seharusnya segera dihentikan atau sanubari kedua Anak tersebut dirajam pisau ciptaan kerinduan.
Senyum simpul terpampang pada wajah cantik tengah mengangkat pelan-pelan kaki Yuka di pangkauannya, sementara yang bersangkutan menggigit bibirnya. “Sungguh tidak apa-apa jika menyuarakan kesakitan, jangan berpikir perasaan itu semacam aib untuk tidak ditunjukkan. Justru memperlihatkan batas ketangguhan dalam menahan merupakan cara agar tidak terjadi ledakan di akhir saat kelelahan menopang tumpukan beban.”
“Simpan kalimat itu untuk dirimu sendiri,” desis Yuka.
Ryuji kembali memperhatikan kibar kelambu putih ditiup angin menutupi kanvas biru di sudut ruangan. Langit musim dingin, pantas saja, katanya dalam hati, dan anggukan samar menyertai.
Dengusan terdengar dari Yuka, mengedarkan pandangan selain menatap orang berbalut kimono merah muda berbahan katun tengah sibuk mengurus cidera kaki kiri dibantu oleh wanita yang membubuhi obat pada luka gores di siku.
Hening, membiarkan hiruk pikuk kebahagiaan suasana perayaan musim gugur memasuki ruang sunyi dari kebungkaman mereka. Sekali lagi angin bertiup, membawa dedaunan untuk terbang mengudara, lalu menurunkannya secara perlahan, dan penuh kelembutan. Sehalus apa pun rasanya tetap membawa nuansa dingin menerobos ke pori-pori hingga membuat siapa pun menggigil.
“Kamu seharusnya tidak melakukan hal yang sekiranya membahayakan.”
__ADS_1
“Jadi aku harus lari dan membiarkan orang disakiti?” sanggah Yuka tanpa memandang lawan bicara.
Fuyumi menghela napas panjang, “kamu bisa meminta pertolongan—“
“Orang-orang tidak akan mengindahkan permasalah orang lain selain yang menguntungkan, kepedulian mereka hanya bagaimana cara untuk menjatuhkan," untaian kalimat ketus diakhiri jerit melengking usai Fuyumi membuat kaki kirinya berbunyi.
“Coba gerakkan kakimu sedikit, katakan atau beri reaksi jika masih terasa sakit,” pinta Fuyumi.
Tak kunjung ditanggapi sebab yang bersangkutan membeku dengan mulut ternganga, kemudian netra menyorot nyalang kepada Fuyumi kala mengangkat kaki Yuka, dan menggerak-gerakkannya.
“Tidak ada keluhan, berarti sudah baik-baik saja. Tetapi selama sepekan kamu tidak boleh berjalan seenaknya.”
Yuka menarik napas panjang kendati kesal ia tetap menganggukkan kepala.
“Inilah keuntunganmu dari mencampuri ranah yang bukan urusanmu.”
Dan, kali ini Ryuji yang menunjukkan reaksi tidak suka terhadap kalimat yang sebenarnya bukan dilotarkan kepadanya. Menghela napas jengah, ia sebenarnya menyetujui setiap jawaban Yuka beserta tindakannya ketika mendapati orang direndahkan.
“Jika kamu tidak sering pergi dengan sepupumu, kamu tidak akan mendapatkan luka, dan Kanon-san tidak akan terus-menerus datang memberi peringatan agar kamu menjaga sikap,” sahut seorang wanita terdengar resah diiringi hembusan napas berat.
Sontak kepala Yuka direngkuh oleh perempuan yang lebih tua darinya, dan Ryuji berpikir dekapan Fuyumi nyaman sampai tak terjadi penolakan. "Ibu, tolong jangan membicarakan masalah itu terlebih dahulu, ada anak-anak di sini,” ujarnya, lirih. “Tak pantas untuk diperdengarkan permasalahan pelik, mereka hanya boleh mendengar, juga melihat yang indah-indah saja.”
__ADS_1
Napas Ryuji tercekat lantaran merasa atmosfer mendadak lebih dingin, dan menyergap dirinya kala bertemu pandang dengan kedua pupil mata berwarna biru.