Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
12. Perayaan Musim Panas


__ADS_3

Keresahan membumbung tinggi bersama asap dupa atas duka dibawa ke angkasa, juga kegelisahan menyelimuti tak ubahnya kabut sukar enyah di gunung, kendati pada musim panas sekali pun. Sayangnya hasil sawah atau ladang telah dipanen, dan waktunya bagi mereka untuk mengucap puji syukur atas hasil bumi. Masyarakat disibukkan oleh tradisi, membuat lentera, menyiapkan kembang api, membuka kedai tiap jalan, dan lainnya. Semua dilakukan dengan sungguh-sungguh meski tersimpan di benak masing-masing bahwa sulit bahagia di atas banyaknya nyawa tumbang.


Duduk bersila di atas papan lantai kayu cedar, Yashuhiro mengamati kemuraman tersembunyi Matsuko bersama teh hijau di mangkuknya. Di samping, seseorang menyibukkan diri dengan sehelai kertas berwarna putih. Belum ada pembicaraan antara mereka sehingga memberikan ruang sunyinya pada suara ketukan palu, gesekan gergaji, gerutuan orang pada suatu hal tidak sesuai harapannya, tawa polos anak kecil, serta tabuhan alat musik yang dicoba untuk digunakan pada acara puncaknya.


Chawan kosong diletakkan di atas tatami, kemudian menoleh kepada lelaki tengah duduk berlutut melipat-lipat kertas persegi di sampingnya. “Bagaimana dengan acara yang kita rencanakan?”


Tangan berhenti menekuk kertas, dahinya berkerut, matanya memicing seakan mengalami kesulitan atau mungkin sedang mengingat-ingat suatu hal. “Malam ini kembang apinya akan tersulut,” selorohnya, ialah Ryuji telah kembali berkutat pada lipatan rumit kertas.


Bila diamati lebih lama, Ryuji akan terlihat persis seperti anak laki-laki yang bermain di pintu gerbang kastel sedang menyusun batu yang tiap kali roboh, anak-anak ini sama bersikeras mengupayakan keinginannya. Sampai akhirnya batu berhasil ditumpuk, dan bocah itu berseru kegirangan. Keberhasilannya membuat Yashuhiro segera menoleh ke arah Adiknya, dan mendapati sebuah bangau kertas. Hatinya turut bahagia melihat anak-anak berhasil mewujudkan kehendaknya.


Ryuji memberikan hasilnya, dan Yashuhiro menerima dengan senang hati. Burung bangau kertas di telapak tangannya mengingatkan pada simbol klan dari Ibu tunangannya. Ia membawa dirinya pada lukisan burung bangau mengepakkan sayap dipajang di dinding ruangan barunya. Mereka baru saja diboyong oleh Tuan Besar Arisu dengan maksud mendekatkan hubungan putrinya usai melakukan pertemuan di kuil, kemudian kepulangan gadis itu mengeluh tak ingin menikahi orang yang bersedia memberikan nyawanya atas nama kasih sayang karena bagi Izanami terlalu berlebihan.

__ADS_1


Yashuhiro dan Adiknya diberikan masing-masing kamar yang bisa mengamati banyak hal, seperti saat jendela kanan dibuka akan terlihat sang surya muncul dari Kuil Dewa Danau, jendela bagian kiri menyajikan matahari terbenam di pegunungan, dan jendela tengah memperlihatkan luasnya kastel. Dari sayap kanan terdapat Aula Merpati—merupakan asrama bagi murid perempuan, lalu terdapat Paviliun Teratai untuk meditasi, Paviliun Anggrek digunakan sebagai tempat mempelajari ilmu kasusastraan, serta beberapa aula untuk berlatih seni perang, sementara di sayap kiri terdapat Aula Kalajengking untuk asrama para laki-laki. Begitu jauh jaraknya, dan yakin bahwa sulit bagi mereka untuk menyelinap bila ada permasalahan perasaan mengingat penjagaan begitu ketat di tengah-tengahnya. Jika memiliki pemikiran untuk lewat belakang kastil, di sana terdapat beberapa penjaga kaku bak patung menghadap langsung lapangan panahan serta lahan luas untuk berkuda.


Yashuhiro menyisir rambutnya, menatap bocah laki-laki telah menjelma menjadi pemuda yang memiliki kemampuan mengagumkan membuatnya mendapatkan dorongan untuk mengirim Adik perempuannya ke tempat sejauh ini, dibantu dengan pengawasan keluarga tunangannya, diminta agar tak memperlakukannya secara khusus, dan sekarang telah terbentuk setelah sekian lama ditempa dengan keras kini terlihat istimewa.


Sayang tujuannya mengalami kerapuhan dari dalam daripada sisi luar. Ia lupa dengan keadaan Ryuji yang ia rasa harus merasakan hawa keberadaan seseorang di sekitarnya. Sekelebat kenangan saat Yashuhiro baru saja pulang dari pengadilan, dan menemukan bocah itu gemetaran karena tak sengaja menguncinya dari luar. Tak ada rengekan layaknya anak kecil yang menunjukkan ketakutan ditinggal sendirian secara gamblang, Ryuji hanya mencengkeram erat pakaiannya. Mengisyaratkan bahwa ingin ditemani.


Sekarang, kembali ke masa kini. Sosok rupawan duduk memerhatikan para murid berlatih pedang menggunakan kayu sebagai gantinya di aula terbuka Rajawali. Matanya seakan kosong, jiwanya mungkin telah berkelana di tempat nan jauh sehingga ia bisa melihat yang membuat hatinya tentram, sampai membungkam mulutnya dalam kurun waktu lama walau hanya sekadar mengeluh pun tak terdengar.


Karena, pada dasarnya mereka sama-sama menyakiti diri dengan menahan segala perasaan agar tidak menyinggung orang lain.


__ADS_1


Gegap gempita gerbang Kastel Atsuyoshi dibuka lebar, mempersilahkan kepada seluruh muridnya menikmati perayaan selama beberapa hari ke depan. Takjubnya para lelaki kala perempuan keluar dengan dandanan membuat mereka tampil lebih cantik bagaikan kumpulan kupu-kupu.


Mika keluar terakhir dengan rambut disanggul serta tusuk konde bunga sakura sebagai pelengkap, ia memandang seseorang berjalan membawa lentera menuju gunung. Menoleh ke arah keramaian, lalu berjalan menghindari. Mika ingin ke rumah, dan berharap kepulangannya disambut oleh Kakaknya, kemudian mereka bisa merayakan festival musim panas bersama. Hatinya kian gelisah saat melewati gang sepi, ia mempercepat jalan kala merasa ada yang membuntuti. Derap langkah bersahut-sahutan dengan gerakkan kaki, jaraknya semakin dekat, jantungnya dirasa merosot saat berhenti, dan menoleh mendapati tubuh kepala pelayan keluarga Fusae tergeletak di atas tanah, juga dua orang berdiri memunggunginya.


Di lain tempat, cahaya benderang padam, dan si pembuat sinar merubah wujudnya menjadi manusia, seorang laki-laki memesona menginjakkan kakinya di udara. Mencondongkan tubuh kepada seonggok manusia berjubah tergeletak tak berdaya di atas tanah karena kehilangan kesadaran.


“Dewa Danau?!”


Makhluk suci tersebut tak datang dari danau seperti sebelumnya, melainkan dari lingkaran tiba-tiba terbentuk di udara, menampilkan kaca raksasa dengan cermin bergerak menggelombang mengikuti angin, dan penyebab keterkejutan adalah mata emas besarnya pertama kali diperlihatkan.


“Aku menolak bila ia dijadikan persembahan untukku,” Dewa Danau melipat tangannya, kemudian memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Yuka. “Tapi jika kepadanya, jantung orang ini akan menjadi pembuka, lalu bola matanya akan dipanggang,” retinanya tak menatap langsung lawan bicara, namun ke arah pegunungan di belakang gadis bersurai jelaga.

__ADS_1


“Dia siapa?” Yuka perlahan menoleh ke arah di mana sosok ilahi menaruh atensi, matanya menemukan pemuda dari balik pohon pinus, dan saat ia berbalik hendak bertanya maksud dari pernyataan sang Dewa yang terdengar mengerikan, tiada siapapun di sekitarnya.


Matanya mencari ke segala arah, dan tak lama terdengar suara menyapa indra pendengarannya. “Namaku, Akira….”


__ADS_2