
Rusa mati karena tanduknya. Kemewahan, berujung membawa petaka pemiliknya. Terlampau bangga memiliki keindahan sampai berjalan pongah tanpa tahu kebanggaan itu membuatnya terjerat, menjebaknya hingga menghantarkan menuju Yang Maha Kuasa. Segala yang berlebihan memang berujung kehancuran, termasuk melimpahkan kasih sayang sampai memaklumi tindak kejahatan, bukannya diberi pengertian malah bersikeras disembunyikan, dan akhirnya sosok iblis pun dilahirkan.
Jumawa membara melahap kesadaran, mengambil alih kewarasan, menggelora tak ubahnya jago merah yang membakar kediaman megah bangsawan, lalu meledak memekakkan telinga.
Di bawah naungan pohon beringin, perhatian Yashuhiro terpatri pada keperkasaan api turut memperindah nyala mentari yang diselimuti kegelapan malam. “Di hari kedua perayaan, kembang api dari klan Fusae adalah pembukaan, sangat menakjubkan,” di antara huru-hara, Yashuhiro bersuara tanpa memalingkan muka. Tidak peduli meski Midori yang didekap Mika sontak menoleh penuh tanda tanya. Bahkan tidak sedikit pun menoleh atau melirik kedatangan pemuda bersurai putih yang baru saja datang, berjalan mendekat menjajari.
“Surat undanganmu untuk mengumpulkan para bangsawan sudah aku ganti dengan permintaan tertulis masing-masing pihak. Penyelidik akan berasumsi bahwa mereka datang ke penginapan atas ajakan satu sama lain,” seloroh Ryuji.
Midori dibuat terkejut mendengar ucapan Adik laki-laki dari Yashuhiro, berjejal pertanyaan di kepala. Semua ini sudah direncanakan? Presumsi terhadap surat undangan menghimpunkan para bangsawan yang dimaksud Tuan Muda Kedua Kazuya tersebut sengaja untuk menyambut pembunuh sebenarnya, lalu tuntutan yang ditujukan pada Midori berarti dia diperalat guna membongkar identitas pelaku kriminal? Tapi mengapa harus ia?
“Tuan Muda Kazuya,” panggil Midori, menyela, “mengesampingkan rasa terima kasih karena telah membantu saya keluar dari sel penjara, saya ingin bertanya apakah Anda yang melakukan ini semua?”
Yashuhiro mengalihkan perhatiannya pada Ryuji, menepuk pundak Adik laki-lakinya seraya tersenyum. Alih-alih menanggapi, si sulung Kazuya terlebih dahulu mengapresiasi saudaranya hingga anak tengah Kazuya mendadak abai, segera memalingkan wajah melihat kobaran api dengan daun telinga yang memerah.
“Yang kau tanyakan itu lebih tepatnya mengapa sampai berbuat sekeji ini, ‘kan?” netra semerah batu rubi melirik pemuda jangkung yang bahunya digunakan sandaran kepala Mika. “Lihatlah sekitar…,” tangan terulur ke arah para warga berkumpul.
Lantas Midori menatap ke segala arah. Sumpah serapah pantas mati di sela-sela seru histeris mematikan api, ada senyum lega disertai gumaman puas, pun juga terdapat pula mimik muka muram seolah gejolak batinnya dipaksa redam.
“Kemarahan serta kesedihan hanya akan berlangsung sebentar. Mereka tidak peduli justru mensyukuri atas kemalangan orang yang merisak kehidupannya,” imbuh Yashuhiro. “Bodoh apabila diam saja meski sudah disiksa sedemikian rupa. Mengikuti hukum rimba, yang kuat memangsa kehidupan yang lebih lemah. Akan tetapi, di atas langit masih ada langit, sepertinya mereka melupakan itu, alih-alih pongah seperti dunia ada pada genggamannya.”
Midori tak mengerti terhadap lelaki cakap, elegan, dan nampak membahayakan kendati batinnya menyetujui pernyataan Yashuhiro. Terlebih ketika pemuda bangsawan tersebut tak kunjung memutus kontak mata bagai mencari tahu hal yang terpendam dalam dirinya.
__ADS_1
“Kau pasti berpikir seperti diperalat, ‘kan?” delik Yashuhiro menerka.
Mata Midori terbelalak, kemudian bergulir ke sembarang arah. Mengusahakan agar tak bertemu pandang dengan pria yang baru saja menebak pemikirannya, dia cenayang, ‘kah? Midori bertanya dalam hati, bibirnya terkatup segan mengutarakan.
“Jangan berpikir bila aku bisa membaca isi otakmu, pertanyaan itu nampak kentara di wajahmu,” tegas Yashuhiro, Midori mempertemukan kembali matanya dengan orang yang menurutnya cukup mengerikan. “Berkat situasimu yang terkurung menyedihkan, hasrat Adikmu menggelora untuk melawan.”
Alis Midori menukik, sontak menatap gadis yang merangkul lengannya. Mulut Mika melengkung membentuk sebuah senyuman. “Mustahil…,” gumamnya ragu.
Yashuhiro samar-samar menganggukkan kepala, “biar aku beri tahu jelasnya. Kau berhadapan dengan Tuan Muda Fusae bukanlah suatu kebetulan, itu permintaan sekaligus ujian. Mengapa begitu? Kau akan tahu nanti. Rancangan menggunakan hasil dari ramuan kalian yang bila dicampur minuman keras akan melakukan pengakuan, tetapi itu bukan untuknya, melainkan Tuan Fusae.”
Lutut Midori bagai terpaku di tempatnya berdiri. “Kenapa untuk Tuan Fusae?”
“Adikmu hampir terenggut nyawanya karena berada di posisi saksi apabila Adik perempuanku menjadi korban selanjutnya. Sangat mudah untukku mencari tahu akar permasalahan pelik ini selain bersusah payah membuka mulut bungkam kuda hitam keluarga Fusae,” imbuh Yashuhiro, menepis selembar daun yang terjatuh di bahunya. “Menyusup ingatan dalam tempurung kepala, dan mengetahui ternyata berpusat pada kekayaan beliau. Harta sangatlah menggoda, banyak yang berbondong-bondong ingin mendapatkannya, dan kilaunya cukup membuat orang gelap mata. Maka aku mengundang para bangsawan yang merupakan musuh beliau untuk berkumpul dengan dalih merayakan pesta musim panas, dan Tuan Muda Fusae melakukan bakti atas amanat mendiang sang Ibu yakni melindungi Ayahnya meski harus mencabut banyak nyawa.”
“Bagaimana keputusanmu selanjutnya setelah mendengar rancangan ini? Bukti bahwa semua ini rancangan berupa surat undangan dariku sudah dimusnahkan. Berganti dengan tulisan Adik laki-lakiku yang mampu meniru gaya aksara orang lain.”
Itu gertakan, perasaan gamang merangkap Midori. Mika meremas lengan saudaranya cukup kencang, alis gadis itu tertarik ke atas, bibir kecil nan bulat melengkung turun. Air muka tersebut tertangkap oleh ekor mata Midori yang masih tak percaya bila Adik perempuan yang disangka tak mengerti situasi, dikira hanya berkutat pada dunianya sendiri, ternyata bisa berubah kejam sampai mengikuti siasat yang membuat Mika turut melumuri tangannya dengan darah berlandaskan kemurkaan hati.
Apa yang akan Midori lakukan? Jika diam, bukankah sama halnya dengan pembunuh itu sendiri? Apabila berbicara, apakah akan dipercaya hanya dengan keterangan lisan? Belum lagi Mika yang terseret konspirasi bangsawan di hadapannya pastinya akan diinterogasi dan buruknya lagi adalah mencicipi jeruji besi.
Midori menghela napas panjang, melepas cekalan Mika, lalu berlutut satu kaki dengan penuh hormat. “Hidup saya sekarang berada di tangan Anda.” Demi menjaga senyum Adiknya agar tetap merekah bagaikan bunga amaranth. Dikekang pun sifatnya sedari awal sudah bebas, kehadiran Midori tak lain dan tak bukan memiliki peran sebagai penjaga serta perawat sampai tuntas.
__ADS_1
“Sebagai imbalannya akan aku penuhi keinginanmu,” tangan Yashuhiro terulur, dan menerima sambutan dari yang bersangkutan.
“Sudah cukup waktunya bermanja-manja dengan saudara, kita kembali ke kastel sekarang juga,” sambar seseorang.
Retina Yashuhiro menangkap sosok perempuan melangkah mendekat, menjejak tenang serta teratur diiringi tatapan sinis. “Yuka, dari mana saja?”
”Memasang jebakan di waduk untuk mengecoh.”
“Tidak merusaknya, ‘kan?"
“Sedikit.”
Yashuhiro mendesah. “Ingat pria yang dulu pernah melukaimu saat aku memberimu misi pertama bersama Ryuji?”
Bungsu Kazuya menyipitkan mata, mengulik kembali ingatan saat sekelebat bayangan seorang pria mendorongnya sampai terjatuh, Yuka mengangguk, “ingat.”
“Yutaka Tamotsu adalah putra dari orang tersebut, ia mengganti nama bermaksud mengejarmu begitu tahu keberadaanmu.”
Yuka menghela napas kasar, kemudian bergumam, "jika dipikir-pikir siapa yang sampai membuatnya berhasrat dendam seperti itu?"
Yashuhiro mengalihkan perhatian pada Ryuji. Dahinya berkerut memperhatikan embusan napas Adik laki-lakinya tiba-tiba terhenti. Tanda-tanda akan menghirup udara pun tidak nampak, badannya terhuyung. Tanggap, Yashuhiro cekatan menangkap tubuh Adik laki-lakinya agar tak terjatuh.
__ADS_1
“Aku harap tidak memiliki serangan jantung saat melihatmu tiba-tiba tidak sadarkan diri lagi seperti ini."