
Menguar aroma pembusukan pepohonan, daun-daun berwarna kuning, merah, jingga, dan emas luruh dari masing-masing dahan menciptakan suara bagaikan kupu-kupu beterbangan. Diiringi dengan bunyi seruling bambu. Lembut, tenang, dan mendayu-dayu memaparkan si pemain berada dalam suasana hati sebaik sejuknya hari itu.
Di koridor kediaman Panglima Tentara, seorang pemuda tengah bersandar pada pilar kayu, menaruh atensi pada anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan melodi perlahan mulai membuka kelopak mata, memperlihatkan manik merah tua. “Menikmati momiji gari?” tanya Yashuhiro tersenyum sambil memainkan daun pohon maple.
“Iya, dan yang mendengarkan aku memainkan seruling pastinya lebih menikmati,” jawab Ryuji sembari menaruh alat musiknya di samping seruling giok berwarna hijau ke dalam kotak kayu mahoni.
Tawa kecil terlontar dari pemuda yang melempar daun maple penuh kharisma, “mengapa tidak menggunakan seruling giok?”
“Rasanya lancang menggunakan barang yang bukan milikku.”
Angin berhembus, menerpa tiap dedaunan hingga menciptakan suara layaknya gerisik hujan. Melayangkan helaian anak rambuk bak kapas mengikuti arus udara. Sebuah tangan menengadah, menyingkirkan helai-helai tersebut ke pelipis. Ryuji berjengit lantas segera memalingkan muka.
“Reaksi yang berbeda, saat kau melakukannya pada Yuka, saat itu ia langsung berseru agar tidak mengganggu. Aku harap kau memaafkannya, Ryuji…,” terbesit sesal pada suara Yashuhiro diikuti helaan napas panjang. Tiga pekan berlangsung semenjak Ryuji dibawa masuk ke kediaman orang yang bersedia mengadopsi Yashuhiro beserta saudarinya. Tak lantas membuat anak laki-laki pendiam itu diterima di khalayak. Berbagai pertanyaan dilempar menguji sampai Ryuji membuka mulut dan keceplosan diharapkan terjadi.
Yashuhiro bersyukur kala kepala keluarga yang baru untuk Kazuya bersaudara turun tangan perihal identitas Ryuji, sekaligus cemas karena waktu itu kebohongannya diketahui.
Shouta Riichi, menjulang berbalut kuro montsuki haori hakama, dan celana panjang seperti rok dibuat dari sutra bermotif garis abu-abu serta simbol gelombang angin milik klannya pada pakaian bagian belakang membuat laki-laki tersebut nampak gagah. Wibawanya menguar, mendominasi sekitar saat pria tersebut membuat para ajudan penjaga beranjak menjauh hanya dengan satu kibasan tangan dengan pelan. Walau kemungkinan bermaksud memberi ruang bernapas dan mengurangi ketegangan, namun Yashuhiro kesulitan bersikap tenang.
__ADS_1
“Mengapa kau melakukan ini?” kepala keluarga memulai pembicaraan, mendekatkan diri sampai berjarak satu langkah dari putra tertua Kazuya. “Tindakanmu mempertaruhkan banyak nyawa hanya untuk menyelamatkan seorang anak kecil dari negara asing, Yashuhiro….”
Remaja itu menautkan kedua alis, agaknya rasa gelisah menguap, tergantikan durja bermasam muka usai mendengar penuturan Ayah sambung. “Apabila tidak bisa melindungi yang terkecil, aku sangsi mampu dalam menjaga skala terbesar.”
Laki-laki yang bersikeras ingin mengasuh Kazuya bersaudara meski masih berusia 24 tahun itu termangu-mangu, menelaah perkataan tersirat penegasan atas kebulatan hati putra asuhnya memiliki keinginan untuk mengayomi merupakan bentuk pengembangan diri menuju kedewasaan.
Kepala keluarga mengangguk-anggukkan kepala, kemudian mengeluarkan plakat emas bertuliskan nama Ryuji. “Aku harap kau tidak ingkar dengan keputusanmu.”
Jujur, Yashuhiro merasa bersalah melibatkan orang lain. Tak hanya itu, Adik perempuannya sendiri tak kunjung membuka diri. Dua hari sebelumnya, Ryuji menemani Yuka yang abai pada sekitar, bergeming menatap kosong kolam ikan. Semilir angin meniup anak rambut legam Yuka sampai menutupi dahi, dan anak perempuan itu enggan menepikan rambutnya sendiri. Tak berselang lama terdapat tangan menyibak pelan anak rambut Yuka, disematkan ke belakang telinga, dan si bungsu Kazuya merespon dengan menampik kasar tangan Ryuji disertai ujaran penolakan bernada tinggi, kemudian pergi.
Ryuji perlahan menoleh, mempertemukan matanya pada netra Yashuhiro. “Aku tidak perlu memaafkannya, hanya mewajarkan dirinya yang pasif mengingat insiden mengenaskan seperti yang Nii-san ceritakan pastinya sukar untuknya berperilaku seolah tidak terjadi apa-apa,” terulas senyum teduh membuat lawan bicara trenyuh.
“Aku beri kamu tugas untuk mengawasi Bungsu besok, bersedia?”
“Aku tidak berhak untuk menolaknya, ‘kan?”
Balasan berupa pertanyaan itu melesat laksana bilah belati menghunus ulu hati. Pastinya, anak laki-laki itu berpikir segala hal menyangkut dirinya telah diatur. Diikat serta digerakkan sesuai rancangan tanpa sedikit pun celah melakukan pemberontakan, bagaikan peliharaan yang ditawan, menjamah dunia luar pun tak diperbolehkan.
__ADS_1
Keliru, Yashuhiro tidak bermaksud mengurung Ryuji sebagai tahanan, melainkan melindunginya dari pemerintahan dalam menanggapi orang luar masuk tanpa persetujuan, maka dilakukanlah perburuan. Yashuhiro memanfaatkan kekuatan kekuasaan Ayah sambung yang merupakan rezim. Pikirnya menyembunyikan hal yang dicari di tempat itu sendiri merupakan strategi mumpuni, alasannya si pencari mengira sekelilingnya sudah wajar seperti biasanya sehingga pandangannya hanya terfokus memandang jauh.
“Sebagai imbalannya akan aku penuhi permintaanmu,” seloroh Yashuhiro.
“Tak keberatan?”
Yashuhiro menggelengkan kepala perlahan, “tidak sama sekali, kecuali jika keinginanmu untuk keluar dari negara ini, aku tidak bisa.”
Ryuji menanggapi pernyataan yang lebih tua dengan anggukan samar sebelum kembali menerawang langit, memperhatikan berarak-arak awan yang lewat di semburat jingga pujaan para pujangga. Kelopak mata menutup serta terbuka secara lambat, seolah-olah enggan melakukan pergerakan lagi Ryuji memutuskan memejamkan mata.
Yashuhiro mengira Adik angkatnya mencoba untuk tidak meneteskan air mata karena kerinduannya pada tanah kelahirannya. Hening menyelimuti sepersekian sampai ceruk bibir anak laki-laki itu terbuka. Yashuhiro kembali berprasangka, akankah Ryuji hendak menyuarakan kesedihannya?
Keliru, justru menyenandungkan kidung yang membuat tubuh Yashuhiro membeku. Napas pemuda itu tercekat, kekuatan spiritualnya merespon nyanyian tersebut dan membawa Yashuhiro ke dalam kenangan Ryuji. Tunggu, ia memang ingin tahu tentang Ryuji, lantas rasa penasaran tak serta merta membuatnya melakukan tindakan menggunakan kekuatan spiritual guna membedah ingatan. Tak pantas, lancang mengulik masalah pribadi sebelum yang bersangkutan bercerita sendiri. Namun, saat itu Yashuhiro seperti diikat untuk tetap memperhatikan.
Bunyi ledakan di mana-mana, denting pedang, erangan kesakitan, jeritan takut anak kecil pun juga orang dewasa, dan seorang anak kecil—Ryuji berjalan di genangan darah. Mengangkat pedang gemetaran, lalu dibawa pergi menjauh oleh orang lain yang berparas mirip seperti Ryuji. Tiba di gunung, anak laki-laki itu diberi minuman karena nampak kelelahan sebelum berjalan lagi.
Si kecil terlihat seakan tidak fokus sampai hendak terjatuh. Beruntung yang lebih tua sigap menangkap, lalu memeluknya disertai dengan ujaran-ujaran lembut cinta kasih. Akan tetapi, anehnya remaja tersebut mengangkat senjata, dan menikam Ryuji. Sementara yang bersangkutan tak melakukan pergerakan apa-apa sampai direbahkan, kemudian mengucapkan sesuatu, dan akhirnya ditinggal.
__ADS_1
Gelap, dan sorot cahaya muncul. Yashuhiro kembali melihat patera berguguran. Tercenung, Yashuhiro mengatur napasnya, Ryuji menyikapi segala kekalutan seakan baik-baik saja walau hal itu mendustai diri, selanjutnya biarkan aku menolongmu dari awan kelabu yang mengungkungmu.