Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
23. Kilas Balik: Noktah


__ADS_3

“Tuan Muda, mengapa tidak meminta untuk dibelikan lagi?”


Tak menggubris pertanyaan seorang laki-laki pembawa payung yang menaungi si Tuan Muda dari gerimis. Ryuji mempercepat langkahnya dengan perasaan tersungut-sungut sebab awal harinya terganggu, dan hampir membuat jantungnya lepas karena Yashuhiro mendadak menerobos kamarnya dengan penampilan berantakan seperti baru bangun tidur hanya untuk memastikan keadaannya.


Tak hanya itu, Riichi serta Yashuhiro bersikap dramatis pada saat Ryuji meminta izin keluar untuk mencari barangnya yang hilang. Sang Ayah sambung menyarankan menyebar para pelayan, sedangkan si sulung Kazuya akan membelikannya yang baru. Anjuran keduanya ditolak, namun sekali lagi diberikan tawaran oleh kepala keluarga apabila hendak keluar harus menggunakan kereta kuda karena cuacanya sangat dingin, dan tentunya dijawab dengan gelengan kepala. Keputusan terakhir dari kedua laki-laki yang lebih tua darinya adalah harus membawa ajudan Riichi atau Anak laki-laki itu tidak memperkenankan untuk pergi.


Gerimis kian deras, titik-titik air dari langit mendarat pada daun, membuatnya terbungkuk-bungkuk sebelum diluruhkan ke tanah. Kendati rintik menghantam, menciptakan bunyi benturan di tiap tempatnya terjatuh, tak cukup mampu memaksa orang-orang mengurungkan niat berlalu-lalang. Payung-payung terbuka, dan benda tersebut mengingatkan pada jamur yang kerap ada di makanan, contohnya seperti kinoko gohan—nasi goreng yang baunya mengundang selera saat si Tuan muda yang diikuti ajudan Ayah sambungnya melewati salah satu kedai makanan.


Uap mengepul keluar dari ceruk bibir Ryuji, menggosok-gosokkan tangan, lalu menempelkannya pada kedua pipinya sendiri. Mengabaikan bujukan berhenti sejenak barang mampir ke kedai guna memesan minuman hangat, malah Anak bersurai putih itu dengan sengaja menjejak genangan air sehingga membuat pengawal meringis.


“Anak nakal.”


Sontak Anak laki-laki tersebut mendongak, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sebuah tangan membentang di depan si Tuan Muda menjadi isyarat peringatan agar tetap menjaga jarak. Sosok familiar tengah menelengkan kepala ke sisi kanan, sudut bibir berbentuk hati terangkat, diiringi kedipan lambat menampilkan pancaran biru yang tak keruh meski langit dikepung mendung kelabu.



Sang ajudan mengambil sebuah irus kayu kecil, menciduk air di wadah yang disediakan Fuyumi, dan mengguyur kedua kaki Tuan Muda. Sementara, si empunya memejamkan kelopak mata, menimbulkan kesan bahwa jiwanya mengalami penyesalan sangat mendalam. Lengah, sehingga menciptakan banyak celah, dan rentan dicelakai.

__ADS_1


Selembar kain diusapkan pada tungkai putih kurus nan lemah bagai jarang dipergunakan berjalan dengan kaki sendiri. Lelaki tersebut melakukannya teramat perlahan seakan takut tindakannya bisa menyakiti karena tangannya terbiasa mengangkat senjata. Maka ia bersikap hati-hati, berkali-kali mengingatkan diri jika di hadapannya bukanlah bilah pedang yang dibersihkan usai bermandikan darah hasil dari medan perang, melainkan kaki seorang Anak kecil yang baru saja bermain air hujan dengan perasaan gundah.


Sorot gelisah tak mampu disembunyikan kendati ditutupi tabir kelam merah tua yang menatap lurus apa pun di hadapannya, lalu bergulir mengarah pada siluet gadis dengan kimono biru muda berjalan mendekat. Tepat ketika si pengawal selesai mengeringkan anggota tubuh Tuan Muda, dan memeras kain, lalu meletakkannya pada nampan tepat di sisi wadah air.


Fuyumi mengambil tempat di samping kiri Ryuji, membuka kain pembungkus, dan menampilkan barang yang telah dicari-cari.


Anak laki-laki bersurai putih menghela napas, “kenapa tidak dikembalikan?” tak ada nada emosi, juga gurat kesal di dahi. Tiada pula raut kesal ketika lawan bicara menjawab pertanyaannya.


“Aku pikir kamu tidak butuh lagi, dan membeli yang baru,” tukas Fuyumi tanpa melunturkan senyum di paras cantiknya.


"Apa maksudmu?" tanya Fuyumi disertai tawa canggung.


Tubuh Tuan Muda bergerak condong ke belakang dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Mengalihkan muka ke arah kolam ikan yang dipergunakan sebagai titik tengah kediaman, lalu pandangannya tertuju kepada ruangan penuh lukisan, kemudian kepalanya menengadah. Mengamati air hujan yang mengendap di tepi genteng. “Anda berpikir bahwa orang berkecukupan mampu mengganti apapun yang raib. Harta melimpah, tetapi tidak bisa menutupi kekosongan.”


Tanpa berkedip, bola matanya mengikuti jatuhnya timbunan air tadi. Satu tetes menciptakan percikan kecil serta gelombang cekung sebelum berbaur dengan genangan.


Fuyumi bergeming, pandangannya berangsur turun ke bawah menatap jari telunjuk Ryuji mengetuk-ketuk lantai kayu dengan tempo ketukan berjeda agak lama.

__ADS_1


Anak laki-laki bersurai putih menghela napas panjang, memejamkan mata. “Kehilangan yang berharga rasanya seperti dunia mendadak runtuh seketika. Kalut tentunya, lantaran susah mencari yang sama, kendati mirip pun rasanya berbeda,” lanjut Ryuji lugas, tetap mempertahankan penuturan tenang walau hatinya terasa berantakan. “Alasannya adalah memori."


Si pengawal hanya mengunci mulutnya rapat-rapat, lantas diam-diam melirik Tuan Muda guna memeriksa bagaimana rupanya saat melontarkan kalimat, dan hatinya bak tengah disayat-sayat saat mendapati garis lengkungan ke atas pada rupa Ryuji. Kala kelopak mata perlahan terbuka, pria tersebut buru-buru memalingkan muka.


“Kenapa kamu berbicara layaknya orang dewasa?” seloroh Fuyumi memecah nuansa sendu, atau mungkin malah menambah keadaan semakin pilu.


“Kakak sendiri yang berkata jika sakit harus disuarakan, tetapi kenapa Anda sepertinya sukar mendengar keluhan?” lirikan dari ekor matanya menajam ke arah lawan bicara. Tak peduli meski lebih tua darinya, agaknya suasana hati Ryuji memburuk. Dibuktikan kala ia menegakkan punggungnya disertai senyuman sinis.


“Seruling itu,” dilirik benda yang terbuat dari bambu, diletakkan di sampingnya oleh Fuyumi beralaskan kain, “Kakak Yashuhiro, pembuatnya,” sambung Ryuji.


Kepala Fuyumi terangkat, dan langsung terperangkap kelamnya bola mata Ryuji.


“Kakak bersusah payah mencari bambu, dan membuatnya. Alih-alih menyuruh orang untuk mengerjakan hal remeh tersebut atau mungkin bisa membeli di pasar. Tetapi alasan terbesarnya melakukan semua itu sendiri penyebabnya hanyalah kebungkamanku,” sepasang alis menukik, ia menghirup napas ibarat mengumpulkan seluruh amarah, dan dengan menghembuskan dia bermaksud membuang emosi yang membuncah.


“Pada musik, dibiarkannya aku berbicara serta bercerita baik buruknya kondisi hati, juga seringkali aku mainkan senandung nestapa sebab tak tahan terhadap takdir dunia ini. Tetapi, Kak Yashuhiro, selalu hadir serta berusaha menghibur, meski aku tengah tantrum,” Ryuji mengambil seruling bambu yang terdapat ukiran aksara namanya, “dan, aku harap Anda mengerti sifat kenangan. Di kepala ia melekat, dan mengikat hati sangat erat. Apabila teringat terasa menyakitkan, tetapi jika lupa semua kenangan rasanya menyedihkan.”


Seketika pundak Fuyumi melemas setelah mendengar penuturan yang mengingatkannya saat kali pertama bertemu. Ia memeluk Ibunya tepat di hadapan kedua Anak yang ditinggal mati keluarganya. Bagaimana bisa dia sekejam itu kepada mereka? Mengapa ia menggores luka yang menganga?

__ADS_1


__ADS_2