
Bercengkerama bersama anak-anak merupakan hal menyenangkan, dan melunturkan segala kepenatan hanya dengan melihat senyuman mereka. Namun, beda rasanya berhadapan dengan sunggingan bocah bersurai putih. Tiada binar kebahagiaan, semata-mata adanya sorot kemurkaan yang siap sedia menikam, dan seolah-olah mampu mengendalikan udara untuk menghimpit saluran pernapasan.
Hanya seorang anak kecil, tetapi mampu menenggelamkan jiwa ke palung kedukaan, lalu melemparkannya pada perapian amarah.
Tak heran Fuyumi berupaya menghirup udara sebanyak mungkin ketika rupa yang bersangkutan melunturkan senyuman membuat hatinya bergejolak. Hancur sudah kebekuan netra sebiru langit ketika beberapa saat yang lalu menuding Ryuji sok dewasa. Sedangkan, anak laki-laki tersebut memberi pernyataan belaka tentang kesedihannya pada yang hilang, yang kelihatannya remeh namun tersimpan keistimewaan. Seruling di tangannya merupakan hasil dari seorang Kakak berkeinginan Adiknya tidak terus memendam kegundahan, dan si Tuan Muda Kedua Kazuya menuruti kendati sekadar meniup, sesungguhnya Ryuji telah melaraskan hati dengan musik, memberitahukan keadaan serta keinginan kepada pendengar.
Sudah sewajarnya Ryuji mencari-cari sebab tak ingin lagi yang berharga tak kunjung kembali, dan Fuyumi berpikir kejadian kemarin adalah saat-saat hati Ryuji dikoyak-koyak olehnya. Dipaksa menelan kepedihan atas rindunya kebersamaan keluarga. Dan, Fuyumi bertindak seolah tak terjadi apa-apa, dirinya dari awal beranggapan mereka tak akan bersedih sebab memiliki hal untuk menambal lubang hati, namun Ryuji mengatakan bahwa kekayaan juga tak mampu menudungi kehampaan.
Sementara, di lain jiwa sekelumit sesal di hati sang ajudan ketika ingatannya mundur kala ia bertanya kepada Tuan Muda Kedua tentang tawaran dari si sulung Kazuya. Jujur, dia merasa bodoh, atau memang tidak mengerti sebab dirinya seringkali menghabisi daripada mengasihi. Alhasil perasaan semacam itu tumpul seiring senjata tajamnya diasah. Hatinya membeku, kiranya Tuan Besar sengaja menugaskan dirinya mendampingi Ryuji agar dia tetap menjadi manusia. Menghadapi tingkah ambigu sang Tuan Muda, merupakan cara menguji kesabarannya dengan kebisuan Anak tersembunyi yang ternyata adalah bentuk dari ketidaksanggupan berbicara gamblang mengenai isi sanubari.
Bola mata merah tua menatap lurus ruangan di seberang kolam ikan, hidungnya berkerut, kemudian bersin hingga membuat kedua orang di samping kanan kiri yang sibuk dengan pikirannya masing-masing terpecah, dan berjengit.
Berangsur-angsur rona merah pada wajah Fuyumi kembali, “maaf, padahal aku mengajakmu kemari tetapi belum ada yang kusuguhkan,” senyumannya kembali terpampang, cukup senang suasana muram menghilang. Kekehan kecil menjadi jeda sebelum melanjutkan ucapannya, “tolong tunggulah sejenak, akan aku buatkan minuman serta makanan hangat.”
“Tunggu,” sergah Ryuji ketika Fuyumi hendak bangkit dari duduknya, “bolehkah aku ke sana?” jari telunjuk mengarah pada ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka sedari tadi di pandang, untuk memastikan keterlibatan misi kemarin, imbuhnya dalam hati, dan gadis dengan rambut dikepang mengangguk mengizinkan.
__ADS_1
“Tolong tetap di sini, tidak perlu menemaniku,” ujar Ryuji kepada si pengawal saat berdiri bersiap mengikuti.
Laki-laki tersebut mengiyakan, dan kembali duduk di lantai selasar kediaman Sorano tanpa melepas perhatiannya pada pemilik paras tenang serta tutur kata tertata yang berjalan menjauh. Kiranya, sikap tegar Anak tengah Kazuya merupakan paksaan keadaan kendati jiwa Tuan Muda masih murni seorang Anak kecil yang memiliki banyak harapan menunaikan rasa penasaran, juga lumrah mempunyai keinginan untuk bermain. Pengawal tersebut menarik sudut bibirnya, memang selayaknya Ryuji sengaja menginjak kubangan air hujan pun kemungkinan adalah caranya melepas rasa sesak setelah sekian lama disembunyikan.
Langkah Ryuji tak tergesa meski mendapat percikan gerimis, ia memilih menikmati sambil meniti lembaran batu ubin besar dengan tumbuhan rumput peking tiap sisi serta batu kerikil yang memperjelas jalur menuju ruang lukis, atau lebih tepatnya bilik pribadi lantaran begitu masuk selain disambut bau mangsi, ia mendapati futon. Kasur lipat tersebut masih digelar menghadap lukisan bersketsa sepasang manusia.
Membuat Ryuji merasa lancang, mempertanyakan kesopanannya hingga sangsi melanjutkan memasuki tempat itu. “Tetapi sudah diberi izin,” katanya untuk menjawab keraguan, kemudian mengalihkan pandangan dari gambar belum terselesaikan, bergerak maju menelusuri setiap sudut. Atensinya terhenti kala melihat sesuatu yang menggerakkan dirinya untuk mendekat, dan mengamati lekat-lekat, bukan pada lukisan berwarna biru tanpa imbuhan apa-apa yang sangat mirip di sudut galeri kemarin, melainkan kertas tersemat di belakang kayu penyangga.
Tangan kanan mengudara, sejenak kepalanya menengok ke arah pintu, lalu mengambil kertas yang memiliki tekstur kaku. Diamati serta mengingat bentuk lekukan, perlahan dibuka untuk mengetahui isinya. Alisnya bertaut saat membaca, sembari menggesek-gesekkan jemari pada kertas, dan membauinya. Aroma unik seperti minyak kayu dari pohon hinoki, juga diseimbangkan dengan daun timi serta pinus. Aku terlalu cepat menarik kesimpulan, batinnya seraya melipat kembali surat milik Fuyumi, dan meletakkannya ke tempat semula.
“Siapa kau?!”
Sesosok laki-laki berkacak pinggang, dan menaikkan dagu kala sang ajudan menoleh, “Shibasaki Takane,” jawabnya, dan pupil mata jingga menyala.
“Atas keperluan apa kau di kediaman tunanganku?”
__ADS_1
Tiada ekspresi apa-apa di wajah si pengawal saat melayangnya pertanyaan tersemat penegasan, dia berdiri menjajari lawan bicara, “mengikuti Tuanku pergi.”
Lidah pria yang mengklaim Fuyumi sebagai tunangannya bergulir di dinding mulut, menampakkan air muka curiga sampai kedatangan Ryuji mendekati ajudannya, menjadi bukti bahwa laki-laki bersurai biru tua itu memang melaksanakan tugas, dan orang itu harus mengenyahkan segala prasangka.
Alis menukik ketika beradu pandang dengan seorang Anak laki-laki yang tak segan menatapnya balik. “Menilik dari fisikmu, kau pasti Anak tersembunyi yang dirumorkan.”
Ryuji mengangguk membenarkan, “dan Anda pasti orang yang tidak ingin laki-laki lain mendekati Kakak Fuyumi, ‘kan?” deliknya tanpa takut melihat yang bersangkutan mengatupkan rahang, malah menyunggingkan senyum simpul.
Tak dibantah, pun juga tak mengutarakan kilah.
“Dia sudah tahu diri bahwa telah memiliki tambatan hati, jadi tak perlu seerat ini. Jangan karena terpukau atas keindahan mawar, lantas berambisi memiliki namun terdapat duri hingga mengambil keputusan dengan membersihkan penghalang, tanpa tahu bahwa perintang tajam itu merupakan hal berharga untuknya melindungi diri,” papar Ryuji, “sayang sekali apabila dia dipetik oleh yang tidak bertanggung jawab,” pungkasnya berintonasi rendah.
Laki-laki di hadapan Ryuji mendengus, “kau masih Anak kecil—“
“Hanya karena aku masih terlalu muda menjamah urusan cinta, tetapi sepertinya aku lebih baik dalam menangani permasalahan ketimbang orang dewasa,” sahut Ryuji dengan dagu mengarah pada lelaki tunangan Fuyumi.
__ADS_1
Orang itu menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa usai mendengar kata-kata bocah bersurai putih yang terdengar menyindirnya, “baiklah, bagaimana caranya?”
“Beri dia mas kawin,” jawab Ryuji, dan segera melanjutkan perkataannya kala ceruk bibir tunangan Fuyumi hendak terbuka, “Kakak Fuyumi terbebani oleh batasan tetapi tak kunjung disahkan, dan pastinya muncul praduga bahwa tengah dipermainkan. Jika sudah seperti itu, meski berbagai macam cara apa pun Anda menyalurkan rasa suka walau berlebihan akan dianggap tak memiliki makna.”