Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
13. Menyibak Tirai Sandiwara


__ADS_3

“Sudah waktunya Ayah beristirahat, sekarang giliranku untuk mengelola.”


“Kau harus menikah terlebih dahulu.”


“Tidak sebelum Ayah mengalihkan semua properti atas namaku. Aku ingin semakin membuat wanitaku terkesan karena memiliki harta sendiri, bukan menopang pada orang tua.”


“Memangnya selama ini tidak seperti itu?”


“Itu karena Ayah sebetulnya juga masih enggan melepaskannya, ‘kan?”


Mengembalikan pertanyaan membuat Katsuo ragu-ragu mendapatkan keinginannya, kendati menjelaskan perlahan bahwa waktunya bagi sang Ayah ongkang-ongkang kaki, malah terdengar menegaskan sebagai tuntutan. Putra tunggal Fusae menahan napas mendengar kekehan mengiringi pernyataan Ayahnya. Ia kebingungan karena laki-laki tua itu menunjukkan reaksi biasa-biasa saja. Apa memang tidak menyadari bahwa tersimpan ketersinggungan di kalimatnya atau ia telah dibodohi dengan kepura-puraan?


“Kau mirip sekali denganku dalam menggaet seseorang, Katsuo….”


Katsuo benci mendengarnya, tapi tetap menjaga pandangannya pada gerak-gerik Ayahnya mematikan cerutu pada asbak, dan membiarkan asapnya menyatu pada aroma lilin lavender. Pencampuran aroma sangatlah mengganggu, dan merusak indra penciumannya. Namun harus tetap berada di sana apa pun risiko termasuk semakin remuk hatinya karena ingin meneriakkan kebencian.


Ayahnya berjalan menuju lukisan bambu dan rumput hitam putih yang menggantung di sudut ruangan, lalu menyibaknya. Di pandangnya aneh lantaran hanya terlihat dinding di baliknya, namun sang Ayah menekan dinding, dan tangannya menembus. Sang kepala keluarga kembali menduduki tempat duduknya serta membawa beberapa dokumen tanpa meninggalkan sifat congkaknya, “gosokkan batu tinta untukku,” titahnya, dan selaku putra, Katsuo segera beranjak mendekat mematuhi.

__ADS_1


Di tengah-tengah menggosokkan batu tinta, benaknya masih keheranan dengan kelakuan Ayahnya, bagaimana caranya dinding yang padat bisa ditembus? Jelas itu ilusi, tetapi bagi klan Fusae tidak cukup mampu menggunakannya. Orang luar? Mungkin, tapi siapa? Yutaka sensei juga mustahil.


Hiroyuki mencelupkan kuas pada tinta, memberi tanda penyetujuan peralihan harta waris dengan cap emas bentuk tanduk rusa simbol klan Fusae. Akhirnya kekayaan jatuh padanya, tetapi tanpa adanya hambatan justru keresahan menyelimuti. Kelancaran itu mengganggu, “mengapa Ayah langsung menyetujui?” ia bertanya dengan tetap menjaga mimik muka meski hatinya kurang percaya pada Ayahnya.


“Aku tahu kau tidak akan mengkhianati. Lagipula, jika terjadi sesuatu padaku, Yutaka yang akan menyelesaikannya untukku."


Katsuo segera membungkuk sampai dahinya menyentuh tatami sebagai penghormatan.


“Terima kasih, Ayah….”


Sang Ayah membuka kotak berisikan beberapa batang gulungan tembakau kering. “Ngomong-ngomong, aku belum melihat batang hidungnya. Kau tahu di mana gurumu berada?” ia bertanya sembari mengisyaratkan Katsuo untuk menyalakan korek api untuk cerutu di sela jari telunjuk dan jari tengahnya.



Miris matanya memandang belenggu di pergelangan tangan laki-laki bertampang kumal, dan diapit beberapa prajurit. Ingin ia menghambur ke pelukan pria muda tersebut, lalu membelai wajah gelapnya karena kesehariannya berada di dekapan mentari, kemudian membasuhnya dengan air sungai seperti saat mereka bermain air sewaktu kecil. Mika tersentak saat Kakaknya menatap lurus dirinya, dicarinya kebencian, kemarahan, atau segala yang terlekat erat pada hal buruk di dalam manik cokelat itu. Begitu lama ditelusuri, hanya ada kasih sayang di sana, senyumannya pun tercipta di wajahnya, dan oleh karena itu Mika semakin merasa dirinya gagal sebagai seorang Adik, dan sangat tak pantas memiliki orang sebaik Hitoshi Midori menjadi Kakaknya.


Berlinang-linang air mata di pelupuk netra, lalu sehelai kain terulur. Ia mendongak, pemuda bangsawan menawarkan sapu tangan biru bercorak bunga anggrek bulan. Keraguan meliputi, sampai tangannya ditarik oleh Yuka untuk meletakkan barang indah milik anak tengah Kazuya ke tangannya.

__ADS_1


Kazuya Ryuji sekali lagi tersenyum, walau bukan ditujukan padanya, tetapi cukup membuat suasana mencekam di tempat pemeriksaan mayat menjadi sedikit lebih nyaman. Merah, walau kepunyaan laki-laki itu lebih gelap dibanding manik mata saudaranya, seolah mencerminkan bahwa masih ada hal yang ditutupi. Awalnya, ia merasa ragu pada ucapan Yuka, saudara akan menggantungnya itu mustahil.


Mika merasa dibohongi, saat bersama mereka untuk mengobati si anak tengah kala itu suasananya terasa hangat, berbanding terbalik dengan cerita perempuan yang berdiri di sampingnya saat ini, hingga datangnya seorang wanita membuka misteri dari kegelapan di netra semerah darah akhirnya menampakkan sisi aslinya. Ryuji menahannya pergi seolah-olah memang disengaja agar mendengar percakapan mereka, lalu tersulutlah apinya kemarahannya, kemudian saat Kakak kedua Yuka menanyakan apa yang akan ia lakukan setelah mendengar itu semua? Pertanyaannya bagai pemantik untuk mengobarkan kebencian ditambah pertanyaan berikutnya sudah memicu ledakan berhasrat balas dendam.


“Sanggup untuk menahan sejenak?"


Berbekal keyakinan penuh bahwa Kazuya Ryuji bakal membantu, “demi membuatnya membayar semua penderitaan ini walau harus berkali-kali berjalan di atas duri, saya menyanggupi.”


Kesediaannya membuat perempuan bersurai legam di samping Kakak pertama menunduk lantas tersenyum tipis, apakah gadis itu tengah menertawakannya karena jawabannya terlalu berlebihan?


“Nona Hitoshi Mika,” pemuda dengan luka yang sudah ia obati telah memecahkan pemikirannya perihal arti senyuman Yuka, “aku harap kau tidak keberatan memberikan ramuan khusus dari suku penyembuh.”


Ia kaget, mata laki-laki itu menelisik seolah-olah mencoba mencari celah tersembunyi, sudah sejauh mana Kazuya menggali rahasia suku penyembuh sampai menyinggung tentang herbal spesial. Mika mencuri-curi pandang pada Yuka, ekspresinya masih sama seperti tadi. Beralih pada Kepala Pemerintahan Militer, matanya bersinar tak ubahnya batu permata ruby dinaungi oleh bulu mata panjang duduk di bawah alisnya yang rapi.


“Kita membutuhkan untuk dicampur di minuman keras, dan akan membuatnya tampil di panggung mengakui perannya.” Seringai samar di bibir pemuda bersurai putih, netra berkilat memandangnya seakan mengoyak-ngoyak tubuh membuat bulu kuduknya meremang. Tak ayal apabila si bungsu Kazuya saat itu mengatakan soal betapa menyeramkannya sang saudara.


Bahkan sulit bagi Mika guna bernapas saking tegangnya keadaan, beberapa bulir keringat dingin sudah dirasa mengalir di dahi. Keresahannya berujung menemukan kesimpulan bahwa arti senyuman dari gadis bangsawan itu adalah bentuk dari keraguan yang diperlihatkan terhadap kesudiannya memasuki konspirasi, sama seperti bermain-main dengan nyawanya sendiri bagaikan menari ditaburi bara api. Salah sedikit mengambil langkah, habis sudah, dan berakhirlah semua rencana pembalasan.

__ADS_1


Kendati sangsi lantaran masih terlalu muda bagi laki-laki itu mencoba mengeluarkan rakyat jelata walau memiliki kartu penting, yakni derajat kebangsawanan serta status kedudukan sulung di bagian pemerintahan. Jika gagal, martabat Kazuya akan rusak, dan Kakaknya dihukum. Mika mengupas kulit jarinya dengan kukunya sendiri, ia gelisah tak karuan.


__ADS_2