Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
16. Kehadiran Sang Lakon


__ADS_3

“Tetapi ada kemungkinan, bahwa ada tangan lain yang membantu, dan ia tetap otak pelaku.”


Yuka memutar kedua bola matanya jengah mendengar betapa ngototnya Kepala Departemen menetapkan Kakak dari Mika sebagai tersangka. “Jika yakin pembunuhnya memiliki komplotan, kenapa kalian tidak segera bergerak? Padahal sudah banyak korban yang berjatuhan meski yang kalian anggap dalangnya sudah ditahan, tetapi kalian seolah tak peduli keresahan banyak orang, sikap tak acuh dari kasus ini seakan menganggap mereka pantas mati karena memiliki pekerjaan menyimpang.”


Kazue Aoyama sontak memutar tubuh. “Nona, tak seharusnya berkata seperti itu,” sambar Kepala Departemen dengan kedua alis menukik, kerutan dahi, dan sorot membara.


Sementara, sudut bibir Yuka ditarik ke atas sebagai timpal balik terhadap lawan bicara tanpa mengalihkan kontak mata, “itu hanya kesimpulan dari hasil pengamatan saya, jika berlawanan Anda tidak perlu tersinggung,” lalu mendapat respon berupa decakan, dan satu alis gadis itu meliuk disertai kedik bahu.


“Kepala Departemen Kazue, pelaku pembunuhan wanita penghibur muncul di Penginapan Eishi, menyandera seorang geisha, dan melayangkan ultimatum kepada Hitoshi Midori harus berhadapan dengannya!”


Pekikan keras dari luar semakin menambah kecamuk murka sang pimpinan. Seorang prajurit datang tergopoh-gopoh memasuki tempat pemeriksaan mayat tanpa melakukan penghormatan membuat Kepala Departemen geram, namun serentetan laporan di sela-sela pernapasan kembang-kempis bawahan membuatnya terdiam. Pupil matanya bergerak gusar menyusuri lantai kayu, informasi tersebut mematahkan keyakinan bahwa nama yang baru saja diberi tuntutan bukanlah pelaku. Di sana, ia berdiri layaknya pelawak, lalu para manusia tanpa jiwa tiba-tiba hidup kembali menertawakan kebodohannya karena mengikuti kekolotan walau sudah diberi penunjuk arah. Akan tetapi, ia buta lantaran tertutupi sisi jumawa menganggap diri lebih memiliki banyak pengalaman dibanding generasi muda.


“Selanjutnya, apa yang akan Anda lakukan?”

__ADS_1


Terbelalak Kazue Aoyama, retinanya berangsur memperhatikan pemuda berambut putih melontarkan pertanyaan sembari membersihkan tangannya, suara yang tidak bernada kelakar seakan mencemooh, juga tak terdengar bagai menantang. Hanya teraliri ketenangan pada intonasi suara serta raut wajah murni bertanya tanpa bermaksud menghakimi.


Sementara di tempat lain, banyak mata nanar menatap tubuh tak bernyawa bergelimpangan di pelataran hijau, cairan merah terciprat ke segala arah termasuk pada dinding membentuk lukisan bertajuk kebiadaban yang menghasilkan kengerian para pemerhati. Sang pencipta mahakarya berdiri di atap penginapan, menantang teriknya matahari dengan seorang wanita jelita di dekapannya. Mengabaikan segala raungan kesakitan, jeritan ketidakberdayaan, dan caci maki yang diserukan atas tidak adanya rasa perikemanusiaan. Semua menggaung berbaur dengan angin yang mengibarkan jubah bernoda darah.


Tiada yang mengetahui bagaimana rupa si pelaku, penutup kepala itu benar-benar memenuhi tugasnya untuk melindungi identitasnya dari mata orang luar. Dari awal, kedatangannya memang sebagai tamu tanpa ada yang menduga bahwa memiliki maksud tersembunyi, yakni menyalurkan amarah yang bersarang dalam hati kepada tempat di mana para bangsawan berfoya-foya serta melakukan hal-hal menjijikkan seperti menggauli para pelacur, menurutnya memang harus dibasmi. Kendati banyaknya barikade menghadang, namun masih tak cukup menghentikan amukan, justru mereka sebagai penghalang dihancurkan hanya dengan satu jenis senjata yang digunakan, dan di balik tudung tersebut tersemat sunggingan melihat semua orang kepayahan. Sesungguhnya ditujukan kepada seseorang yang dinanti-nanti akhirnya terlihat batang hidungnya.


Hitoshi Midori turun dari kereta kuda, diiringi oleh beberapa prajurit yang mengapit di sisi kanan dan kiri, berjalan memasuki pelataran penuh genangan cairan merah tua. Detik itu pula, pencipta nuansa kebengisan mendorong wanita yang dijadikan tawanannya, lantas pemuda tersebut serta merta berlari diiringi pekik ketakutan masyarakat, ia melompat menangkap tubuh seorang geisha. Menjadikan dirinya sebagai tumpuan agar wanita penghibur tersebut tak cedera. Konyol, hanya saja tubuhnya bergerak sendiri tanpa berunding terlebih dahulu dengan akal sehatnya sebelum mengorbankan tubuhnya berkelukur. Wanita tersebut segera meminta maaf serta mengucapkan terima kasih karena sudah diselamatkan, lalu dibawa pergi oleh rekan-rekannya.


“Mengesankan,” komentar seseorang di atas atap, melompat turun menghadap laki-laki yang ia beri ultimatum untuk menangkapnya. Manik matanya menelisik tiap kepala yang mengawasinya. “Kita mulai!” sembari melempar senjatanya ke sembarang arah, orang tersebut lantas menyerang rahang, kemudian memutar tubuh melayangkan tendangan sampai lawannya terjengkang karena kurangnya persiapan.


“Aku tidak ingin ada yang mengganggu!” serunya, lalu berbalik melihat Midori yang bersusah payah berdiri tegak. Tanpa buang-buang waktu, ia langsung kembali menyerang, mengepalkan tangan mengincar wajah lawan.


Dengan cekatan Midori bergerak menghindari tinju, ironisnya terlalu lambat merespon pergerakan kilat berupa pukulan kencang pada perut hingga jatuh terduduk menjongkok memegangi bagian tubuhnya yang sakit. Terbatuk, tersedak oleh air liur bercampur darah, lalu diludahkan. Tak memedulikan kondisi lawan, si pelaku kejahatan berlari, kemudian menendang sampai membuatnya terkapar.

__ADS_1


“Ayo, lekaslah berdiri, lawan aku, dan buka identitasku!”


Kalimat perintah dari seorang kriminal yang telah membuatnya tersiksa di dalam sel penjara tak ubahnya penjahat itu sendiri membuatnya meradang. Midori mendengus geram, kembali berupaya bangkit, dan melakukan penyerangan pertama kali. Pergerakannya membabi buta karena retinanya menangkap sosok Adiknya berdiri cemas diapit para tentara. Ujung hatinya berdenyut nyeri melihat tetesan kristal dari kelopak mata Mika kala ia mendapat tamparan sampai merobek sudut bibirnya, ia murka karena membuat gadis penuh tawa sampai menggigit bibirnya karena khawatir terhadapnya. Mencengkeram pergelangan tangan yang mendadak menyergap dari arah belakang, lalu menarik ke depan—membanting pelaku kedurjanaan ke tanah, siku diarahkan ke ulu hati sampai terdengar gema lolongan nyaring.


Tak membuang waktu, Midori lantas segera menyibak tudung kepala. Membeliak matanya mendapati sosok tandingan tengah meringis kesakitan menatap tajam dirinya.


“Tuan Muda Fusae?!” pekik seseorang disusul seruan tidak menyangka dari mulut-mulut lain.


Seringai terbit di wajah putra tunggal pemilik ladang terbesar di Matsuko memandang Midori yang membeku.


“Kenapa kalian diam saja? Tangkap dia!” sudah jelas siapa yang memberi titah dengan suara menggelegar jika bukan lagi Kazue Aoyama agar orang-orang, lebih tepatnya anak buahnya tersadar dari ketidakpercayaan penglihatan mereka.


“Sudah cukup, semua orang telah melihat penampakan rupa asli pembunuh sebenarnya,” seloroh Tuan Muda Fusae, senyuman tersungging melihat amarah para warga, kemudian tangan kirinya menengadah ke atas langit. Sinar mentari mendadak lebih menyilaukan dari sebelumnya, sehingga orang-orang enggan membuka mata atau menerima risiko buta.

__ADS_1


“Selamat tinggal…,” pungkasnya ketika melihat seseorang di balik tirai kereta kuda.


__ADS_2