
Seekor elang memekik, mengepakkan sayap menerjang udara, dan berputar di angkasa. Matanya menatap tajam keseluruhan pergerakan sampai seseorang mengangkat tangan terbungkus sarung tangan berbahan kulit lantas hewan predator puncak tersebut menukik untuk hinggap.
Tak masalah bobot hewan pemangsa lantaran sudah terbiasa, laki-laki itu mengusap kepala si elang. Iris mata berwarna biru, dan cincin kuning di sekitarnya membuatnya terlihat hijau, menatap sepasang anak kecil tengah menundukkan kepala, lalu beralih ke arah remaja yang menghela napas panjang.
Mengulik saat usai melaksanakan takagari atau berburu dengan elang, rombongan baru saja memasuki gerbang, disuguhi oleh pemandangan Ryuji menggendong Yuka di punggungnya. Tidak ada tanggapan aneh dari orang luar saat mendapati keduanya nampak akrab, namun bagi orang di kediaman Panglima Tentara yang tahu bagaimana hubungan keduanya pasti merasa heran. Hal ganjil semacam itu akhirnya dipertanyakan Yashuhiro.
Ryuji menceritakan bahwa kaki Yuka terkilir, dan ia menggendongnya walau awalnya ditolak. Sore itu, mereka habiskan dengan kebisuan, sampai akhirnya Yuka meminta turun sebab menganggap Ryuji tidak memedulikan misi. Sementara, yang lebih tua memilih tidak menanggapi hingga akhirnya daun telinga bagian kanannya digigit sampai dengan terpaksa menurunkan Yuka.
Sekali lagi, pertanyaan tentang tidak segera mencari tahu maksud tebak-tebakan dari Kakak laki-lakinya dilontarkan, kemudian Ryuji mengatakan jika jawabannya masih belum diketemukan di tempat sekitaran danau. Yuka kembali bertanya apakah artinya Anak laki-laki itu mengerti teka-teki yang diberikan, lalu Ryuji menganggukkan kepala sebagai jawaban. Yuka meminta diberitahu lantas Anak laki-laki tersebut memberitahu. Tanpa diduga Yuka langsung berlari, Ryuji tergopoh-gopoh menyusul seraya berseru tidak seharusnya Anak perempuan itu lari, dan pemberhentian larinya Yuka adalah seonggok batu yang tidak ia sadari.
Begitu Ryuji selesai bercerita, senyum simpul terpatri di wajah kepala keluarga. Anak-anak berlarian demi permen apel yang merupakan jawaban dari misi Yashuhiro. Namun, tidak ada raut bahagia setelah menyelesaikan permainan, Ryuji bermuram durja merasa gagal menjalankan tanggung-jawabnya, sementara Yuka berwajah masam memandangi kakinya yang dibebat perban.
Lantas Shouta Riichi meminta Ryuji menghadap padanya usai membersihkan diri, dan rasa khawatir tertera di raut muka Yashuhiro mengiringi kepergian Ayah sambung diikuti para penjaga.
Ryuji memperbolehkan dirinya digiring seorang penjaga menuju ruang Panglima Tentara, melewati koridor panjang dengan kayu dipoles licin. Sunyi, dalam emang-remang berpendar dari lentera berbentuk kotak vertikal di sisi lorong, ekor matanya menangkap lukisan berbahan sutra menggantung di dinding bergambar harimau putih sedang bersantai di batang pohon tumbang.
__ADS_1
Mereka sampai di ujung lorong, pintu shoji digeser, Ryuji melangkah masuk, dan pintu ditutup oleh orang yang mengantarkannya tadi. Anak laki-laki tersebut segera berlutut, membungkuk memberi penghormatan.
Kepala keluarga meminta Ryuji untuk duduk dengan nyaman, dan yang bersangkutan menegakkan punggung setelah mengucapkan terima kasih. Iris merah tua mengamati seluruh ruangan dipenuhi buku-buku, beralih memindai lurus partisi lipat di belakang pria bersurai jingga kemerah-merahan. Lukisan sederhana namun sungguh terkesan indah tentang seekor burung bangau terbang dengan pemandangan gunung sebagai latar belakangnya.
“Ini kali pertama kita berbicara empat mata karena Yashuhiro selalu berusaha untuk memberi jarak di antara kita,” Riichi memulai pembicaraan, “apakah kamu takut padaku?” tanyanya sembari menyalakan batu bara di tungku, lalu memasukkan potongan-potongan kayu berukuran kecil, dan aroma gaharu memenuhi ruangan.
Gelengan kepala Ryuji disambut dengan kekehan ringan, kemudian buku-buku mendadak terbuka tiap helai halaman, kepulan asap dupa lenyap diterjang angin. Tidak diduga, Riichi sudah berdiri mengarahkan ujung katana kepada Ryuji. Anak laki-laki itu tidak memberi reaksi apa-apa di wajahnya, kecuali tangan yang meremat kain busananya.
Riichi mendekatkan senjata tajamnya semakin melekat di hidung bangir Anak bersurai putih. “Anak-anak lain pastinya akan menangis ketakutan, tetapi kamu terlihat biasa saja atau memang sudah biasa menghadapi senjata?”
Ryuji mendongak, tanpa keraguan mempertemukan mata dengan mata, “saya tidak akan mengusik siapa pun kecuali diganggu terlebih dahulu.”
Tangan yang lebih muda terulur. Alis rapi Riichi menukik, menatap tajam Ryuji yang mencengkeram katana miliknya seolah tak takut terluka hingga perlahan merasa ada tusukan jarum mengalir di tangannya. Anak ini tidak main-main dengan ucapannya, batinnya. Sensasi menyengat lenyap seiring Ryuji merenggangkan cekalannya pada bilah yang mengeluarkan aura kelam.
“Ucapanmu tadi, berarti kamu juga akan membalas jika orang terdekat disakiti?” tanya Riichi mengeratkan genggamannya pada ganggang pedang berwarna hitam bergaris biru.
“Benar,” jawab Ryuji tegas.
__ADS_1
Riichi menjauhkan senjatanya dari wajah Ryuji, dan menyarungkannya kembali. Katana melayang di udara, kemudian tangan kokoh bergerak mengarahkan senjata tajam itu melesat menuju ke belakang partisi lipat. “Baiklah, aku tidak ingin itu hanyalah omong kosong, buktikan kesungguhanmu, Ryuji-kun.”
Ryuji menyatakan kesanggupannya, kemudian membungkuk sampai dahi menyentuh tatami, dan menahan napas ketika terdapat tangan di kepala. Bocah berusia 8 tahun tersebut langsung mendongak, menatap mata lelaki yang tak lagi tersirat sorot mengancam. Justru mimik muka teduh seraya mengusap penuh kelembutan surai putih, lalu menjalar ke telinga.
“Apakah gigitannya tidak terasa sakit sampai tidak kamu obati?”
Mendapat pertanyaan dengan nada melunak dari sebelumnya, Ryuji malah mengantupkan bibirnya rapat-rapat, dia kebingungan atas perubahan sifat sang kepala keluarga. Dan, Riichi meminta ajudan untuk mengambilkan obat untuk si Anak laki-laki, namun atas bentuk perhatian tersebut malah membuat Ryuji tidak nyaman.
Seseorang masuk ke ruangan, memberikan obat lengkap dengan peralatan penanganan luka kepada Tuannya, kemudian undur diri, dan menutup pintu shoji. Riichi dengan cekatan membalur kunyit yang sudah dihaluskan ke daun telinga Ryuji. Amat perlahan, sebab yang lebih tua mengetahui jika bocah di hadapannya tengah membangun benteng kewaspadaan. Mungkin, jika Riichi mendadak bergerak untuk menyerang kedua kalinya, Ryuji diperkirakan mampu melukai barang goresan kecil sebab sudah mempersiapkan diri.
“Maaf….”
Kening Ryuji mengernyit lantaran terkejut menerima ungkapan permintaan maaf, sebuah garis melengkung ke atas terpampang di bibir pria itu membuatnya menganggukkan kepala. Lantas sebuah tangan mengusap kening Ryuji bermaksud menghilangkan gurat, dan tak mengelak kala Riichi mendaratkan kecupan di dahi.
Tentram, itu yang dirasakan oleh Ryuji. Riichi menghantarkan rasa tenang serta memberitahu secara tersirat kepada bocah yang diselimuti kecemasan dengan memberi rengkuhan untuk melunturkan kekhawatiran dari pembicaraan mereka beberapa saat lalu, juga sebagai bentuk rasa aman yang tak perlu lagi diragukan.
“Bisa kamu memainkan koto milikku?”
__ADS_1
Ryuji menahan napas sejenak sebelum menjawab, “bisa."
Riichi melepas pelukannya, “bagus, dengan begitu Yashuhiro akan merasa tenang begitu mendengar permainan musikmu atau ia akan selalu bersiaga, lalu berubah menjadi burung hantu.”