Memory Of Heavenly Hymn

Memory Of Heavenly Hymn
6. Keteguhan Bungsu


__ADS_3

Menjelang tengah hari di musim panas, suara tonggeret memenuhi kesunyian dari orang-orang yang kelelahan akibat suhu cuacanya terlalu tinggi. Seorang perempuan duduk di atas rumput, menyaksikan gerak-gerik yang dilakukan sepasang burung camar. Mendengarkan kicauannya sampai burung lain pergi meninggalkan burung yang masih mandi di aliran air terjun, lalu tak lama kemudian burung yang tertinggal menyusul terbang.


Sang gadis mengubah posisi duduk untuk memasukkan kedua kaki jenjangnya ke dalam air, lalu memejamkan mata, merasakan sensasi kesejukan alam. Suara riak-riak air, kicauan burung di atas pohon, kemudian lonceng angin berdentang lembut. Semua menenangkan jiwa, dan membuatnya melantunkan kidung dari seseorang.


Lonceng berdentang, hati berani


Bunga putih, kesepian berayun pada kemurnian abadi


Wewangian suci, tuangkan tangis pengorbanan


Jalan mana yang diambil?


Menapaki kehampaan ataukah mimpi nyata dari harapan nan menyakitkan


Seseorang itu, kini telah menggunakan nama klannya sebagai nama depan. Si Kakak kedua yang disembunyikan, kata si sulung kepada orang-orang. Awalnya banyak orang menaruh curiga, namun semua keraguan sirna lantaran Kakak pertama menunjukkan plakat klan Kazuya atas nama dari anak laki-laki berambut putih itu.


Hubungannya dengan orang tersebut berada di tengah-tengah keadaan antara baik dan buruk. Ia selalu menghindar karena masih tak menerima kehadiran orang lain sedangkan dirinya baru saja kehilangan banyak orang. Namun, Kakak angkatnya tidak melakukan apa-apa selain memperlakukannya dengan baik, saking baiknya sampai hatinya was-was, dan pipinya terasa panas. Padahal perbuatan itu hanya tindakan yang dilakukan saudara sebagaimana mestinya.


“Yuka,” panggil seseorang menyadarkan lamunannya.


Ia menoleh, mendapati seorang perempuan mengenakan yukata berwarna merah dengan corak bunga krisan, tersemat jepit mutiara di rambut hitamnya yang dikepang.


“Akhirnya aku menemukanmu.”


“Di mana saja kau mencariku?”

__ADS_1


“Paviliun tempatmu belajar, di lapangan bila kau sedang berkuda, juga di tempat panahan.”


Ia mengangguk mengerti, “lantas untuk apa mencariku sendiri, alih-alih memerintahkan orang lain?”


Perempuan itu memutar bola matanya jengah, kemudian duduk di sampingnya. “Dengar, aku bersyukur menemukanmu di luar kastel, karena ini tidak seharusnya didengar oleh pihak lain.”


“Tentang?”


“Saksi yang kau cari telah tewas, ditemukan di depan rumahnya dengan luka tusukan di leher. Aku sempat datang di tempat pemeriksaan mayat, juga menemukan sebuah kotak kecil perak berisikan pil saat menggeledah pakaiannya,” tutur perempuan di depannya sembari memberikan benda yang ia simpan di balik lipatan busana, “barangkali itu juga bisa jadi petunjuk untukmu mencari pelaku, karena tak mungkin seorang rakyat biasa memilikinya.”


“Kecuali ia mencuri atau memiliki banyak uang untuk membelinya,” imbuhnya. Pil-pil itu bulat, kecil, dan berwarna cokelat, lalu memasukkannya kembali, memutar-mutarnya, meneliti gambar timbul yang terpahat hingga perhatiannya terhenti di suatu corak daun terlihat sangat asing baginya. “Kau tahu daun apa ini?”


Perempuan di sisinya lantas mendekatkan diri untuk melihat apa yang dimaksud olehnya, lalu menggeleng sebagai bentuk jawaban. Ia menghela napas panjang, memijat pangkal hidung mancungnya, “kalau saja ia masih hidup aku bisa masuk ke ingatannya,” keluhnya.


“Yuka.”


Ia tahu betapa kasar ucapannya barusan, tapi segala kemungkinan bisa jadi benar. Apalagi perempuan di hadapannya adalah putri dari orang terpandang, benda yang ada di genggamannya itu hanya bisa didapatkan oleh orang seperti mereka. Ia ingin pembuktian bahwa perempuan yang lebih tua setahun darinya memang berada di pihaknya. Tinggal jawaban gadis bernama Izanami yang akan menjadi penentuan.


“Aku tahu kau menaruh syak kepadaku karena kewaspadaanmu agar ambisi Kakakmu tidak hancur berantakan. Tapi aku bukan seperti yang kau kira, Yuka,” Izanami berdiri, tangannya mengibas-kibas pantatnya agar segala hal yang kotor kembali jatuh ke tempatnya. “Meskipun orang itu keluargaku sendiri, aku tidak akan segan-segan menggantung kepalanya di depan pelataran kediaman,” imbuh Izanami.


Ia menatap lekat-lekat mata hitam pekat perempuan yang menjanjikan kepala padanya, mencoba menilik akankah ada kebohongan di sana, sampai Izanami mengedipkan mata kepadanya.


“Jika kau perlu jaminan, kita buat perjanjian darah di Kuil Dewa Danau.”


Ia memejamkan mata, “yakin?”

__ADS_1


“Tentu saja, pengkhianatan pantas dibayar dengan nyawa.”


Ia mengangguk, membuka kelopak mata, lalu mengangkat kakinya dari air. Berdiri dibantu oleh Izanami, lalu berjalan bersama menuju Kuil Dewa Danau. Membunyikan lonceng, bersujud bersama, kemudian saling berhadap-hadapan dengan wadah berada di tengah-tengah mereka.


Izanami dengan sengaja menggores telapak tangannya dengan pisau guna mengeluarkan darah sambil mengucapkan sumpahnya.


“Aku, Arisu Izanami, bersumpah tidak akan melakukan perbuatan pengkhianatan kepada Kazuya. Jika terdapat perlakuan ingkar, maka jiwaku akan dibelenggu danau.”


Pun juga ia melakukan hal yang sama, darahnya menetes bercampur dengan darah milik Izanami.


“Aku, Kazuya Yuka, bersumpah tidak akan melakukan tindakan yang membahayakan kepada pemilik darah sebelumnya. Jika terdapat perlakuan ingkar, maka jiwaku akan dibelenggu danau.”


Sumpah keduanya menjadi mantra pengikat, mereka saling pandang, tersenyum satu sama lain, dan memberikan secawan darah mereka kepada danau. Usai melakukan itu semua, Izanami pamit untuk segera kembali ke kastel, sementara ia akan tetap berada di kuil.


Sekali lagi sendirian, ia sengaja berdiam diri di tempat suci selain untuk menentramkan hati, juga menunggu kedua saudaranya untuk mendatanginya setelah 11 tahun berpisah. Biarkan saja mereka mencari di mana keberadaannya, itu semua bentuk kemarahannya karena tidak pernah dijenguk.


Lonceng kuil kembali berbunyi, suara telapak kaki berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di belakangnya.


“Jadi, sekarang kau penjaga kuil?” terdengar orang bertanya dengan intonasi rendah. “Akhirnya, kita bertemu si bungsu yang berumur 18 tahun.”


Nyatanya rencana awal untuk mendiamkan Kakaknya tidak berhasil ia lakukan, kerinduan yang terpatri dalam hati terlalu kuat hingga membuatnya segera berdiri, lalu berlari memeluk Kakak pertama. Timbal balik yang ia terima yakni dekapan hangat yang tak pernah ia temukan di mana-mana, usapan pelan di kepala dari tangan yang senantiasa menyuapinya penuh dengan kasih sayang, dan kecupan di keningnya.


“Jahat sekali,” katanya.


Si sulung menampilkan senyumannya disertai permintaan maaf, kemudian menyikut Kakak kedua yang sedari awal bungkam. Kakak angkatnya—Ryuji hanya terdiam ibarat patung yang dipahat dengan apik oleh Sang Pencipta. Mendapat desakan berupa sikut si sulung akhirnya ia bergerak maju.

__ADS_1


Ia melihat tangan kanan si Kakak angkatnya terangkat, dan mendarat di pipi kirinya. Sangat dingin, persis seperti waktu dulu.


“Cantik,” laki-laki berambut putih itu seolah tidak mempertimbangkan efek samping dari perkataannya. Berakibat pada jantungnya berdegup terlalu kencang sampai ia takut pusat peredaran darahnya meloncat keluar.


__ADS_2