Memuaskan Nafsu Kakak Ipar

Memuaskan Nafsu Kakak Ipar
Ketahuan


__ADS_3

Setibanya di kamar, Brian langsung menghempaskan Michel ke ranjang berukuran sedang, lalu ia mulai melepas pakaian yang ia gunakan dan menyusul Michel.


"Selamat menikmati," ucap Brian lalu menciumi Michel dengan buas dan rakus.


Beberapa bulan telah berlalu. Kini perut Cella semakin membesar. Semenjak Cella hamil, Brian tidak pernah lagi menyentuh Cella, sehingga Cella bisa tinggal dengan aman dan nyaman di rumah mewah itu. Namun lain halnya dengan Boy, laki-laki itu masih sama seperti dulu. Hubungannya dan Michel masih berlanjut, apalagi saat ini perut Cella mulai membesar. Boy seakan ilfil dengan perubahan yang terjadi pada diri sang istri.


Setiap kali Cella mengidam, Brian selalu ada untuk memenuhinya, meskipun itu permintaan yang tak masuk di akal sekalipun.


Hari ini, seperti biasa Michel datang ke kantor Boy. Gadis itu dengan manja bergelayut di tubuh Boy yang sedang fokus bekerja.


"Boy, aku mau kasih unjuk sesuatu untukmu," ucap Michel memutar kursi Boy menghadap ke arahnya.


"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Boy penasaran.


Michel kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Boy.


"Kamu.. Kamu hamil?" tanya Boy kaget.


"Ya, aku hamil. Dan aku mau kamu menikahi ku Boy," jawab Michel membuat Boy frustasi.


"Menikahi mu? Kamu jangan gila Michel. Kamu kan tau aku sudah menikah. Apa yang akan di katakan Cella nantinya jika aku menikahi mu?" tanya Boy mengusap kasar wajahnya.


"Aku tidak masalah jika harus menjadi istrimu yang kedua. Yang terpenting, anak ini harus punya Ayah," jawab Michel memanyunkan bibirnya.


"Tapi itu tidak mungkin Michel," jawab Boy memegang tangan Michel.


"Kenapa tidak mungkin sih Boy. Aku tak akan meminta untuk tinggal di rumah itu, setelah kita menikah, aku akan tetap tinggal di rumahku. Kamu hanya perlu membagi waktu antara aku dan juga Cella. Harusnya kamu bersyukur bisa memiliki dua istri sekaligus," ucap Michel berusaha membujuk Boy.


"Tapi aku tidak bisa mensyukurinya," ucap Cella yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Boy.


Sebenarnya Cella sudah berdiri sedari tadi di balik pintu ruangan tersebut. Saat ia akan masuk untuk mengantarkan makan siang untuk Boy, langkahnya terhenti saat mendengar percakapan antara Michel dan juga suaminya Boy.


Betapa kagetnya Boy dan juga Michel. Mereka berdua tidak menyangka jika Cella tiba-tiba saja sudah berada di dalam ruangan CEO tersebut.


"Cella, sejak kapan kamu datang? Kenapa tidak memberi tahuku sebelumnya?" tanya Boy panik.


"Kenapa? Kenapa aku harus memberi tahuku sebelumnya? Ooo aku tau.. Supaya kamu bisa menyembunyikan kebusukan mu ini kan? Supaya kamu bisa bermesraan dengan selingkuhan mu. Begitu kan Boy?" tanya Cella dengan beruraian air mata.

__ADS_1


"Bukan sayang. Bukan begitu maksudku. Aku.. Aku..," ucap Boy terputus.


"Aku mau kita bercerai," sambung Cella membuat Boy ternganga.


"Bercerai? Tidak.. Aku tidak mau. Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan sayang. Ingat, kamu lagi hamil. Kasihan anak kita," ucap Boy mendekat ke arah Cella. Sedangkan Michel hanya diam menyaksikan drama rumah tangga tersebut.


"Lepaskan aku. Ini makananmu. Aku pergi," ucap Cella memberikan sekotak bekal ke dada bidang Boy lalu pergi meninggalkan kantor tersebut.


"Cella tunggu.. Jangan pergi," panggil Boy yang hendak mengejar istrinya itu. Namun sayang, dengan cepat Michel datang lalu mencegat tangannya.


"Boy sudah. Biarkan dia menenangkan diri dulu. Dia tidak akan pergi kemana-mana. Kamu ingat, dia itu yatim piatu. Dia tidak akan bisa pergi kemana-mana. Percaya padaku," ucap Michel meyakinkan Boy.


'Perkataan Michel ada benarnya juga. Cella tidak akan berani untuk pergi jauh, apalagi saat ini ia tengah hamil,' batin Boy kembali duduk di kursinya.


Sementara itu, Cella yang sudah mengetahui perselingkuhan suaminya, terus berjalan dengan air mata yang tak bisa ia hentikan.


Cella terus berjalan menyusuri trotoar dan teriknya matahari.


Ia sudah tidak sudi lagi untuk kembali ke rumah itu. Tak terasa sudah hampir satu jam Cella berjalan tanpa arah, hingga ia tidak bisa lagi menahan pusing di kepalanya.


Cella pun akhirnya tumbang, dan jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Brian kaget dan langsung menelpon Michel untuk menanyakan kronologi yang sebenarnya.


"Apa? Cella menggugat cerai Boy?" tanya Brian memastikan ucapan Michel.


"Iya, aku mendengarnya langsung," jawab Michel di seberang telepon.


"Lalu, dimana Cella sekarang?" tanya Brian cemas.


"Entahlah. Aku rasa dia akan pulang ke rumah. Kemana lagi gadis yatim piatu itu akan pergi?" ucap Michel menaikkan satu alisnya.


"Aku akan kembali sekarang. Terus kabari aku apa yamg terjadi kepada Cella dan juga Boy," jawab Brian mematikan panggilannya.


Karena terlalu cemas, Brian kemudian memutuskan untuk kembali ke kota A. Berkali-kali Brian mencoba menghubungi Cella, namun sama sekali tidak ada jawaban.


Begitu juga Boy, berkali-kali ia mencoba menghubungi dan mengirim pesan kepada istrinya itu, namun sama saja. Tidak ada jawaban.

__ADS_1


Sementara itu, Cella yang tadi pingsan di pinggir jalan mulai sadar dan membuka matanya perlahan.


Ia kemudian melihat ke sekeliling tempat dirinya tengah terbaring saat ini.


"Dimana ini?" tanya Cella pada dirinya sendiri. Ia mencoba bangun, namun sayang sekali kepalanya masih terlalu pusing.


"Kamu sudah bangun?" tanya seorang wanita yang cukup berumur.


"Dimana saya?" tanya Cella memegangi kepalanya.


"Kamu ada di rumah saya. saya dan supir saya menemui mu pingsan di pinggir jalan, dan memutuskan untuk membawamu ke rumah ini. Bagaimana keadaan mu?" jelas wanita tersebut dengan segelas teh hangat di tangan kanannya.


"Kepalaku pusing Bu. Terima kasih telah menyelamatkan ku. Bagaimana cara aku membalas kebaikan Ibu?" ucap Cella berusaha bangkit.


"Sudah, tidak usah memikirkan itu. Sekarang minum teh ini," ucap Ibu-Ibu tersebut memberikan segelas teh hangat kepada Cella.


"Terima kasih Bu," jawab Cella mengambil dan meminum teh hangat tersebut.


"Kenalkan, nama saya Ibu Mita. Siapa namamu?" tanya Ibu Mita memperkenalkan diri.


"Nama saya Pricella, bisa dipanggil Cella," jawab Cella mulai merasa baikan.


"Apa kamu sedang hamil?" tanya Ibu Mita memegang perut Cella.


"Iya, saya sedang hamil lima bulan," jawab Cella mengusap perutnya.


"Lalu, kenapa kamu bisa pingsan? Dimana suamimu?" tanya Ibu Mita membuat Cella kembali teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu.


"Kenapa kamu menangis Cella? Kamu bisa bercerita kepada Ibu," ucap Ibu Mita mengusap punggung Cella.


"Saya baru saja memergoki suami saya berselingkuh Bu. Dan lebih parahnya lagi, selingkuhannya itu tengah hamil dan meminta suami saya untuk menikahinya. Saya tidak sudi lagi jika harus kembali hidup bersamanya," jawab Cella menitikkan air matanya.


"Keterlaluan sekali. Lalu kemana kamu akan pergi selanjutnya?" tanya Ibu Mita merasa iba.


"Entahlah Bu. Saya tidak tau. Yang terpenting saya tidak sudi lagi kembali ke rumah itu. Saya sudah cukup tertekan selama ini," ucap Cella mengusap air matanya.


"Tertekan? Berarti kamu sudah lama mengetahui jika suamimu selingkuh?" tanya Ibu Mita sedikit kepo.

__ADS_1


"Saya baru mengetahuinya tadi. Tapi yang membuat saya tertekan adalah, saya di jadikan oleh kakak ipar saya sebagai pemuas nafsunya. Hingga saat ini saya tidak tau entah hamil anak suami saya atau hamil anak kakak ipar saya," ucap Cella dengan beruraian air mata. Sebenarnya Cella malu untuk menceritakannya karena ini merupakan aib baginya. Namun ia sudah tidak tahan memendam semua beban ini sendirian.


__ADS_2