
"Aku tidak peduli. Jika kamu tidak mau menikahi ku, maka aku akan loncat sekarang juga," jawab Michel mengancam.
"Baik. Oke, aku akan menikahi mu, sekarang turun," ucap Boy mengalah.
***
"Nah begitu dong. Lalu kapan kita akan menikah?" tanya Michel bergelayut manja di lengan Boy.
"Terserah kapan mau mu," jawab Boy kemudian duduk di balkon dan membakar sebatang rokoknya.
Sementara itu, Brian tengah sibuk berkeliling kota untuk mencari Cella.
Ia benar-benar mencemaskan adik iparnya itu. Entah kenapa, Brian yakin jika anak yang di kandung Cella itu adalah darah dagingnya.
"Kemana kamu Cella? Kenapa tidak memberiku kabar?" tanya Brian pada dirinya sendiri.
Seharian mencari keberadaan Cella, namun tak satupun petunjuk yang ia dapat. Brian kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sedangkan di rumah Ibu Mita, Cella tengah duduk bersantai menikmati rujak yang di buat oleh Ibu Mita sendiri.
Ia benar-benar seperti memiliki orang tua yang perhatian kepadanya.
Keesokan harinya, Niko memberi tahukan jika mereka akan berangkat ke luar negri akhir pekan ini, yang berarti dua hari lagi.
Di tempat yang berbeda, Boy dan Michel resmi menikah secara siri. Betapa senangnya hati Michel karena ia kini telah resmi menjadi istri dari seorang Boy Dinata.
"Terima kasih sayang. Sekarang kita telah resmi menjadi suami istri. Kalau begitu, mulai hari ini, aku akan tinggal bersama denganmu," ucap Michel yang tak henti-hentinya tersenyum sedari tadi.
"Terserah kamu saja," jawab Boy singkat.
Setibanya di apartemen milik Boy, Michel segera menarik suaminya itu ke atas ranjang, namun karena selalu saja memikirkan Cella, Boy pun menolak permintaan istri yang terpaksa ia nikahi tersebut.
"Aku sedang lelah Michel. Lagian kamu juga hamil muda. Sebaiknya kita tunda saja dulu," tolak Boy meninggalkan Michel ke kamar mandi.
'Aku tau kamu masih memikirkan wanita itu. Akan aku pastikan jika kamu dan wanita itu tak akan bisa lagi bersatu,' batin Michel mengepalkan tangannya.
.
.
__ADS_1
Hari ini Cella beserta Ibu Mita dan juga Niko tengah berada di perjalanan menuju bandara.
Kebetulan saat mereka telah tiba di bandara, Brian tak sengaja bertabrakan dengan Cella. Untung saja Cella menggunakan kaca mata hitam dan juga masker, jadi Brian tidak menyadari jika itu adalah Cella, wanita yang ia cari beberapa Minggu ini.
"Oh, maaf mba," ucap Brian ingin membantu Cella berdiri.
"Sudah-sudah, lepaskan. Biar saya saja," ucap Niko yang langsung menepis tangan Brian yang akan menolong Cella.
Kebetulan saat itu Niko hanya menggunakan masker, seketika itu juga, Brian langsung mengenali laki-laki yang Ayahnya tewas di tangannya dan juga Boy.
"Niko?" ucap Brian terkejut.
Ya, ini aku," jawab Niko lalu membawa Cella segera pergi menjauh dari Brian.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia bersama Niko? Dan... Wanita itu sepertinya hamil," tanya Brian sembari terus menatap kepergian Niko dan juga keluarganya.
"Sepertinya aku tidak asing dengan wanita itu. Apa dia Cella? Tapi.. Bagaimana mungkin Cella bisa bersama Niko? Tidak.. Tidak.. Itu tidak mungkin Cella, aku pasti hanya salah," tambah Brian lagi.
Dengan perasaan yang masih penasaran, Brian kemudian pergi menuju pesawatnya, karena hari ini ia ada keberangkatan menuju luar kota.
"Kak, aku tadi benar-benar takut jika ketahuan oleh kak Brian. Kalau kakak tadi tidak memberikan aku masker dan kaca mata ini, pasti aku sudah ketahuan," ucap Cella saat sudah berada di dalam privat jet.
"Iya Niko, untung saja kamu menyuruh Cella menggunakan kaca mata dan juga masker," tambah Ibu Mita.
"Terima kasih ya kak. Kakak sudah melakukan yang terbaik untukku," ucap Cella tersenyum.
"Sama-sama. Anggap saja ini sebagai pembalasan dendam ku untuk kedua kakak beradik itu," jawab Niko.
Di pesawat lain, Brian yang kini duduk di dekat jendela membuang pandanganya ke luar. Ia masih kepikiran dengan wanita yang tak sengaja bersenggolan dengannya tadi.
"Kenapa batinku mengatakan jika itu Cella ya. Dilihat dari bentuk tubuhnya, rambutnya, kulitnya, dan gaya berpakaiannya benar-benar mirip seperti Cella. Tapi jika memang wanita itu Cella, kenapa dia bisa kenal dengan Niko?' batin Niko bertanya-tanya.
.
.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Masuk," perintah Boy.
Sekretaris Boy pun masuk dengan membawa beberapa file untuk di tanda tangani oleh CEO nya tersebut.
"Maaf pak, ini ada surat untuk bapak," ucap sekretaris tersebut saat file-file yang dibawanya sudah di tanda tangani oleh Boy.
"Surat? Dari siapa?" tanya Boy penasaran.
"Kalau dilihat dari kop suratnya, ini dari pengadilan agama pak," jawab sekretaris tersebut memberikan amplop itu kepada Boy.
"Baik. Kamu boleh keluar sekarang," ucap Boy tanpa melihat wajah sekretarisnya itu.
"Pengadilan agama?" ucap Boy sembari membuka amplop tersebut.
Boy begitu terkejut saat membaca isi surat yang baru saja di bukanya itu.
Di surat tersebut jelas di katakan jika Cella telah menggugat cerai dirinya.
"Nggak.. Cella nggak mungkin menceraikan aku. Dia sangat mencintaiku. Bagaimana bisa dia meninggalkanku?" ucap Boy merobek kertas tersebut.
Setelah membaca surat cerai dari Cella, Boy pun segera pergi meninggalkan kantornya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak, dimana kamu kak. Keluar," teriak Boy saat sudah berada di rumah utama nya.
"Ayo kak keluar. Gara-Gara kakak, Cella menceraikan aku. Kakak kamu dimana? Sini hadapi aku kak," ucap Boy lagi.
Boy yang seperti orang kesetanan mengacak-acak serta menghancurkan semua barang-barang yang ada di rumah mewah tersebut.
Boy lalu mencari Brian ke kamarnya dan ke setiap ruangan yang ada di rumah itu, namun hasilnya tetap sama. Ia sama sekali tidak menemukan kakaknya itu.
Dengan rasa marah yang memuncak, Boy kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia memilih pulang ke apartemennya untuk menenangkan diri.
"Sayang, kamu sudah pulang? Kenapa kusut sekali? Apa kamu ada masalah?" tanya Michel heran saat melihat suaminya berpenampilan kusut seperti itu.
"Puas kamu Michel? Puas kamu melihat aku seperti ini? Aku hancur Michel, aku hancur. Cella telah memasukkan gugatannya ke pengadilan agama. Rumah tanggaku hancur berantakan karena kamu dan Brian bajingan itu," teriak Boy menatap benci wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
"Aku? Kenapa kamu menyalahkan aku ha? Bukankah kamu menikmati tubuhku hingga aku hamil anakmu? Aku sudah menyuruhmu berkali-kali untuk menggunakan pengaman, tapi kamu selalu menolaknya. Sekarang apa salah meminta pertanggung jawabanmu sebagai ayah dari anak ini?" jawab Michel tak kalah emosi.
__ADS_1
"Jika bukan dirimu yang menggodaku terlebih dahulu, mana mungkin aku tergoda dengan wanita murahan seperti dirimu Michel," balas Boy tak mau kalah.
Kali ini Boy benar-benar dalam keadaan emosi. Ia benar-benar hancur saat mendapatkan surat gugatan cerai dari wanita yang ia cintai itu.