Memuaskan Nafsu Kakak Ipar

Memuaskan Nafsu Kakak Ipar
Melahirkan


__ADS_3

Kali ini Boy benar-benar dalam keadaan emosi. Ia benar-benar hancur saat mendapatkan surat gugatan cerai dari wanita yang ia cintai itu.


***


"Apa kamu bilang? Aku wanita murahan? Lalu kamu apa? Dasar laki-laki buaya. Aku ini sekarang istrimu, dan aku sedang mengandung anakmu. Tolong hargai aku sedikit saja Boy," ucap Michel berteriak.


"Aaaarrrrgghhh," teriak Boy frustasi.


Bulan pun berganti, kini perut Cella semakin membesar. Begitu juga dengan perut Michel. Kedua wanita hamil itu kini tengah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan mereka di rumah sakit dan negara yang berbeda.


Cella sendiri ditemani oleh Ibu Mita, karena Niko telah kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Michel sendiri di temani oleh Boy, suaminya.


"Bagaimana dengan kehamilan saya dokter?" tanya Cella kepada dokter yang sudah biasa memeriksanya.


"Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Usia kandungan anda saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan, itu artinya, bayi anda bisa lahir kapan saja," jawab dokter kandungan tersebut menjelaskan.


"Baik, terima kasih dokter. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Cella kemudian meninggalkan ruangan itu.


.


.


"Bagaimana dengan kehamilan saya dokter?" tanya Michel yang di temani oleh Boy.


"Kandungan anda baik-baik saja. Dan usia kehamilan anda saat ini sudah jalan delapan bulan," jawab dokter yang menangani Michel.


"Syukurlah. Kalau begitu terima kasih dokter. Saya permisi dulu," ucap Boy dan Michel bersamaan.


"Michel, kamu pulang naik taksi saja. Aku ada keperluan mendadak," ucap Boy memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Naik taksi? Nggak, aku nggak mau. Memangnya kamu mau kemana lagi Boy?" tanya Michel menolak menaiki taksi.


"Bukan urusanmu. Ayo turun," jawab Boy membukakan pintu untuk Michel.


"Boy, aku nggak mau. Boy tunggu," teriak Michel saat sudah turun dari mobil secara paksa.


Boy terus melajukan mobilnya tanpa memperdulikan istrinya yang sedang hamil besar tersebut.


Saat Michel menunggu taksi, tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Masuk," ucap laki-laki yang ternyata adalah Brian.


"Brian?" ucap Michel dan langsung masuk ke dalam mobil hitam tersebut.


"Kamu ngapain berdiri di pinggir jalan itu?" tanya Brian sembari fokus melajukan mobilnya kembali.


"Aku di turunkan oleh Boy. Adikmu itu sekarang benar-benar sudah gila. Setiap hari dia selalu saja marah-marah. Yang ada dalam pikirannya selalu Cella.. Cella.. Dan Cella. Dia belum bisa menerima kenyataan jika dia dan Cella telah resmi bercerai," jawab Michel meluapkan kekesalannya.


"Oh ya? Lalu apa kamu diam saja?" tanya Brian.


"Lalu aku bisa apa? Setiap hari kami selalu bertengkar. Oh ya, ngomong-ngomong, apa kamu sudah tau dimana keberadaan Cella? Kemana wanita itu menghilang?" tanya Michel penasaran.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tau. Sampai detik ini aku selalu mencarinya. Aku khawatir dengan kehamilannya," jawab Brian yang merasa stres setiap kali ia memikirkan Cella.


"Apa jangan-jangan...," ucap Michel terputus.


"Jangan-jangan apa?" tanya Brian menatap Michel sesaat.


"Apa jangan-jangan Cella mengakhiri hidupnya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya?" jawab Michel membuat Brian memberhentikan mobilnya secara mendadak.


"Awwww sakiit, kenapa kamu berhenti mendadak?" protes Michel memegangi jidatnya.


"Naka dari itu. Tak semuanya wanita baik-baik itu kuat. Mana ada wanita yang kuat jika suaminya ketahuan selingkuh," balas Michel membuat Brian semakin cemas.


"Tidak.. Ini tidak mungkin terjadi," ucap Brian mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa tidak. Dia itu yatim piatu. Tidak punya siapa-siapa. Ya siapa tau dia frustasi karena tidak tau harus menceritakan masalahnya kepada siapapun juga," ujar Michel menaikkan satu alisnya.


'Michel ada benarnya juga. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana aku akan mencarinya?' batin Brian kembali melajukan mobilnya.


Setelah mengantarkan Michel pulang ke apartemennya dan Boy, Brian langsung tancap gas ke rumahnya.


Setibanya di rumah, Brian langsung masuk ke kamar Cella dan Boy. Ia berharap ada titik terang kemana perginya Cella saat itu. Namun hasilnya nihil.


Sementara itu, Boy baru saja tiba di taman tempat ia melamar Cella .


Setiap hari, Boy selalu mengunjungi taman tersebut berharap suatu saat nanti ia akan bertemu kembali dengan Cella.


'Cella, dimana kamu sebenarnya sekarang berada? Aku rindu sekali. Aku yakin saat ini perutmu pasti sudah membesar. Cella aku janji, jika kamu kembali dan memberiku kesempatan kedua, aku janji tidak akan menyia-nyiakanmu lagi. Cella aku mohon, tolong kembali. Jangan siksa aku seperti ini,' batin Boy dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Boy benar-benar menyesali perbuatannya. Ia menyesal karena telah menyia-nyiakan Cella untuk Michel.


Sementara itu, Rocky dan Andin kini telah hidup bahagia di desa tempat Andin melarikan diri dari kejaran Brian waktu itu.


Rocky sendiri telah di lepaskan oleh Brian semenjak beberapa bulan yang lalu. Semenjak Cella hadir dalam kehidupannya, Brian jadi tidak terobsesi lagi dengan diamond yang dimiliki oleh Andin.


Apalagi saat Cella kabur. Setiap hari ia hanya sibuk mencari keberadaan Cella, sehingga membuat bisnisnya terbengkalai dan di ambang kebangkrutan.


Begitu juga dengan Boy, Boy yang sudah hampir gila karena di tinggal Cella, jadi tidak fokus dalam mengurus perusahaan peninggalan orang tua mereka.


Setiap hari kerjaannya hanya melamun dan melamun saja.


Semenjak menikah dengan Michel, tak satu kali pun ia memberikan nafkah batinnya untuk wanita itu.


.


.


Beberapa Minggu kemudian, saat Cella sedang menikmati santap paginya, tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya.


Ibu Mita yang sudah siap siaga itu lalu segera membawa Cella menuju rumah sakit terdekat.


"Cella tenanglah. Sepertinya kamu akan melahirkan. Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Ibu Mita memapah Cella ke mobil.


"Sakit sekali Bu," lirih Cella dengan keringat yang sudah mulai keluar.


"Sabar ya nak. Sebentar lagi kita akan segera tiba," ucap Ibu Mita saat mereka telah di mobil.


"Cepat sedikit pak," perintah Ibu Mita kepada supir yang mengantar mereka ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Cella dan Ibu Mita pun tiba di rumah sakit.


Dengan cepat petugas tersebut langsung membawa Cella menuju ruang bersalin.


Boy yang saat ini sedang duduk memeriksa beberapa berkas di kantornya, tiba-tiba saja merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.


Sekretaris Boy yang kebetulan berada di ruangan itu seketika panik dan akan menghubungi pihak medis. Namun sebelum ia melakukannya, Boy lebih dulu melarangnya dan menyuruh wanita itu keluar dari ruangannya.


"Kenapa perutku tiba-tiba sakit sekali?" tanya Boy pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2