Memuaskan Nafsu Kakak Ipar

Memuaskan Nafsu Kakak Ipar
Menikahi Michel


__ADS_3

"Boy, ini semua tidak seperti yang pikirkan. Ini semua hanya akal-akalan kak Brian saja. Aku yakin dia sengaja menuduhku karena aku tidak mau menerima cintanya. Aku mohon jangan percaya dengan ucapannya Boy," ucap Michel. Ia tidak bisa terima jika Boy benar-benar membencinya.


***


Boy tak menjawab ucapan Michel, laki-laki itu kemudian mematikan ponselnya lalu kembali termenung memikirkan kemana ia harus mencari Cella sekarang.


Sementara itu, Michel kini tengah uring-uringan. Ia kemudian menelpon Brian dan melepaskan kekesalannya kepada laki-laki tersebut.


"Haha.. Kenapa kamu panik begitu. Aku tau seperti apa Boy. Dia itu laki-laki yang bertanggung jawab. Jika kamu hamil anaknya, maka Boy akan menikahi mu. Percaya padaku. Aku ini kakaknya dan aku lebih tau semua tentang dirinya," jawab Brian dalam sambungan telepon.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita juga harus mencari Cella? Kemana wanita itu pergi?" ucap Michel kepada Brian.


"Entahlah, aku sendiri tidak tau Cella pergi kemana. Nanti kita akan mencarinya bersama-sama," jawab Brian yang masih memikirkan kemana Cella pergi.


Sedangkan di rumah Ibu Mita, Cella kini tengah membantu wanita itu membersihkan sisa-sisa makanannya. Meskipun Ibu Mita sudah melarangnya, namun Cella tetap bersikeras untuk melakukannya.


"Bagaimana Cella menurut kamu Niko?" tanya Ibu Mita kepada putra semata wayangnya itu.


"Maksud mama apa?" jawab Niko yang sedari tadi memperhatikan Cella.


"Mama lihat sedari tadi kamu selalu memperhatikannya. Kamu menyukainya?" jawab Ibu Mita membuat Niko langsung terdiam.


"Hhhhh, mama bicara apa sih? Dia itu istri orang lo," jawab Niko seperti sadar siapa dirinya.


"Haha.. Niko.. Niko.. Cella itu sebentar lagi akan bercerai dengan suaminya. Kamu pikir ada gitu wanita yang mampu bertahan jika memiliki suami dan kakak ipar seperti itu," ucap Ibu Mita secara tidak langsung memberi lampu hijau kepada anaknya itu.


Niko adalah tipe laki-laki yang jarang dan susah sekali untuk jatuh cinta, maka dari itu, Ibu Mita selalu memberi lampu hijau kepada wanita yang mampu mengambil hati anaknya. Karena menurut Ibu Mita, Niko tak akan sembarangan memilih wanita untuk teman hidupnya.


"Entahlah ma. Niko mau ke kamar dulu," ucap Niko mengalihkan pembicaraan mereka dan langsung berdiri menuju kamarnya.


"Anak itu, jika sudah jatuh cinta, selalu saja begitu," gumam Ibu Mita memandangi punggung anaknya yang semakin menghilang itu.


Ibu Mita kemudian beralih menatap Cella yang sedang membersihkan dapur. Wanita itu tersenyum melihat kerajinan Cella yang bekerja dengan telaten.


"Tak jadi masalah jika Niko benar-benar mencintaimu, meskipun kamu hamil anak laki-laki bajingan itu, selagi anak itu di didik dan dirawat olehmu, maka aku tidak keberatan menjadikan dia sebagai cucuku sendiri," gumam Ibu Mita sembari menatap Cella.


Sementara itu di kamar, Niko tengah tiduran di ranjang king size miliknya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku mencintai wanita itu, aku saja baru mengenalnya beberapa saat yang lalu," ucap Niko berbicara pada dirinya sendiri.


.


.


"Kemana aku harus mencari Cella? Bagaimana pun juga, aku harus bisa menemukannya kembali. Aku tak akan melepaskan wanita ku sekali lagi," ujar Brian yang mondar mandir sedari tadi di dalam kamarnya.


Beberapa hari kemudian, saat Niko selesai meeting dengan koleganya, ia mendengar omongan-omongan para stafnya menenai orang hilang yang bernama Pricella atau Cella.


Mereka berkata jika Cella merupakan istri dari pengusaha muda Boy Dinata. Tak hanya itu, barang siapa yang bisa menemukannya, maka si penemu akan diberikan hadiah sebesar satu milyar rupiah.


Setelah mendengar informasi sayembara tesebut, Niko langsung pulang ke rumahnya untuk memberikan kabar ini kepada Cella dan mamanya.


"Bagaimana ini ma? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Niko dengan nada panik.


Hubungannya dan Cella yang sudah mulai dekat membuat Niko takut jika harus kehilangan istri orang tersebut.


"Tenang, kamu tidak perlu cemas seperti itu. Mama sudah punya ide yang cemerlang," jawab Ibu Mita memegang bahu anaknya.


"Kita akan bawa Cella ke luar negri. Setelah dia melahirkan, kita akan merubah wajah Cella dengan cara operasi plastik. Dengan begitu, Cella akan aman dari kejaran Boy dan juga Brian," jawab Ibu Mita menatap Niko dan Cella bergantian.


"Bagaimana Cella? Apa kamu setuju?" tanya Niko menatap Cella.


"Aku setuju saja kak. Asalkan aku bisa lepas dari Boy dan juga kak Brian," jawab Cella menurut.


"Bagus, kalau begitu aku akan urus penerbangan kita segera. Kamu tenang saja. Para bajingan itu tak akan bisa lagi menemukanmu," ucap Niko menatap Cella.


"Kita berangkat dengan privat jet saja, biar data dan identitas Cella tidak bisa di lacak," usul Ibu Mita membuat Niko menganggukkan kepalanya.


.


.


"Sudah hampir satu Minggu Cella meninggalkan rumah ini. Bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana dengan kandungannya?" ucap Boy yang saat ini tengah duduk di balkon apartemennya dengan ditemani sebatang rokok.


Semenjak ia mengetahui jika Brian menjadikan Cella sebagai pemuas nafsunya, Boy tak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah utama itu lagi. Ia memilih tinggal di apartemen yang baru saja ia beli.

__ADS_1


Saat Boy tengah sibuk memikirkan Cella, tiba-tiba pintu apartemennya di ketuk oleh seseorang.


Dengan malas, Boy pun beranjak dari zona nyamannya dan membukakan pintu untuk seseorang di luaran sana.


"Kamu? Ngapain kamu kesini?" tanya Boy yang kaget melihat siapa tamunya.


"Kenapa? Aku ini hamil anakmu, kamu tidak bisa lari dari kenyataan itu Boy. Kemanapun kamu pergi, aku akan mencari mu," jawab seorang wanita ternyata adalah Michel.


"Aku tau, tapi tolong jangan ganggu aku dulu. Dari mana kamu bisa tau aku tinggal disini?" jawab Boy kembali bertanya.


"Tidak penting aku tau dari mana. Boy aku mau bicara padamu," jawab Michel memaksa masuk ke dalam apartemen Boy.


"Bicara apa?" tanya Boy mengiringi Michel yang sudah dulu masuk ke dalam apartemennya.


"Aku mau kita menikah," jawab Michel membuat Boy mengusap wajahnya kasar.


"Menikah? Tidak. Aku tidak mau menikahi mu," jawab Boy menolak.


"Kenapa?" tanya Michel kesal.


"Karena aku tidak mencintai mu. Aku hanya mencintai Cella," jawab Boy apa adanya sehingga membuat Michel kesal.


"Lalu, bagaimana dengan anak kita ini?" tanya Michel sembari menangis.


"Baik, aku akan memberimu dua pilihan. Pertama kamu gugurkan anak itu dan aku akan menjamin hidupmu. Kedua, jika kamu mau melahirkannya, boleh juga, aku juga akan menanggung biaya hidupmu dan juga anak itu, dengan catatan kita tidak akan menikah sampai kapanpun," jawab Boy menaik turun kan kedua alisnya.


"Tidak. Aku tidak mau dengan pilihanmu itu. Aku mau kamu tetap menikahi ku. Tidak masalah jika kita harus menikah secara siri dahulu," balas Michel menolak semua pilihan Boy.


"Aku tidak mau menikahi mu," ucap Boy bersikeras.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga," jawab Michel berlari ke balkon dan memanjat pagar pembatas tersebut.


"Jangan gila kamu Michel. Kamu dan kandungan mu bisa mati," teriak Boy panik.


"Aku tidak peduli. Jika kamu tidak mau menikahi ku, maka aku akan loncat sekarang juga," jawab Michel mengancam.


"Baik. Oke, aku akan menikahi mu, sekarang turun," ucap Boy mengalah.

__ADS_1


__ADS_2