
Mendengar perkataan Michel yang ada benarnya juga, Boy tak dapat menjawab apa-apa lagi.
Ia hanya diam dan mengutak-atik ponsel miliknya berusaha mencari data atas nama Selin, istrinya Niko.
Entah kenapa ia memiliki semacam dorongan untuk mencari tau lebih jauh tentang kehidupan dan latar belakang Selin, yang Niko akui sebagai istri sirinya.
.
.
Beberapa Minggu telah berlalu, hari ini Boy mendapatkan panggilan telepon dari dokter rumah sakit, jika hasil tes DNA antara dirinya dan putranya Bintang telah keluar.
Tanpa sepengetahuan Michel, Boy pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes tersebut.
"Selamat siang dokter, bagaimana hasilnya? Apa saya bisa mengetahuinya sekarang?" tanya Boy sudah tidak sabar mengetahui hasilnya.
"Selamat siang pak. Hasilnya sudah keluar, dan silahkan bapak cek sendiri," jawab dokter tersebut memberikan sebuah kertas putih.
Boy pun mengambil dan membuka kertas putih tersebut, lalu membaca hasilnya.
"Apa ini dokter? Saya sama sekali tidak mengerti," ucap Boy yang tak mengerti dengan istilah-istilah yang ada di dalamnya.
"Begini pak, hasil dari DNA tersebut adalah, bayi itu memanglah memiliki gen kecocokan yang sama dengan bapak, tapi dia bukan darah daging bapak. Bisa jadi, bayi itu adalah anak dari saudara kandung atau saudara yang sedarah dengan bapak, seperti kakak atau adik," jelas dokter tersebut membuat Boy ternganga.
"Apa? Dokter tidak salah kan? Bagaimana mungkin Bintang bukan anak saya? Jelas-jelas sayalah yang melakukan hubungan itu dengan istri saya, dan kami melakukannya sudah sering sekali sebelum dia hamil," ucap Boy tidak percaya.
"Begini pak, bisa saja, waktu bapak melakukannya dengan istri, beliau dalam keadaan tidak subur, sedangkan ketika dia melakukannya dengan kakak atau adik bapak, dia dalam keadaan subur dan siap dibuahi. Untuk itu, bukan ranah saya untuk ikut campur. Bapak silahkan tanyakan langsung kepada istri atau saudara yang bapak curigai," jelas dokter tersebut membuat Boy benar-benar marah dan malu.
__ADS_1
"Baiklah dokter, terima kasih. Saya permisi dulu," pamit Boy dengan membawa hasil tes DNA di tangannya.
Ia menyusuri lorong rumah sakit tersebut dengan cepat dan tangan yang terkepal. Tujuan utamanya adalah Brian. Ia akan pergi menemui kakaknya itu dan meminta penjelasan tentang semua ini.
Satu jam kemudian, Boy tiba di kantor milik Brian.
"Boy, ada apa? Tumben kamu ke kantor kakak," ucap Brian saat Boy telah tiba di ruangannya.
"Gak usah basa-basi. Jelaskan ini kak. Apa maksud dari semua ini?" jawab Boy membanting kertas putih dari rumah sakit tadi.
"Apa ini? Kenapa kamu marah-marah seperti ini." tanya Brian kaget.
"Lihat saja, dan jelaskan kepadaku," jawab Boy dengan tatapan tajam.
Brian kemudian mengambil kertas tersebut lalu membacanya. Sesaat kemudian, Brian mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud dari isi kertas tersebut.
"Apa ini? Kakak sama sekali tidak mengerti," ucap Brian meletakkan kembali kertas putih tersebut.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu menuduhku seperti itu?" jawab Brian gelagapan.
"Gak usah bohong kak. Disini di katakan jika anak yang di lahir kan Michel bukan darah daging ku. Dia memang memiliki kecocokan DNA denganku, tetapi hanya cocok darah saja, bukan cocok gen. Dokter bilang, kemungkinan besar ayah biologis dari Bintang adalah saudara kandungku sendiri, kakak atau adikku, sedangkan aku hanya memiliki satu saudara kandung, yaitu kakak. Sekarang tolong kakak jawab jujur, apa pernah kakak melakukan hubungan badan dengan Michel? Tolong jawab jujur kak," jelas Boy membuat Brian tak dapat menghindar lagi.
'Tidak, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kenapa Boy bisa terpikirkan untuk melakukan tes DNA? Dan, dan aku memiliki seorang anak? Oh.. Aku sungguh tidak percaya,' batin Brian benar-benar tak menyangka.
"Ayo kak jawab. Jangan diam saja. Cepat katakan," bentak Boy membuat Brian terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Baiklah, ok, kakak akui, kakak memang pernah melakukannya dengan Michel beberapa kali. Dia yang duluan menggoda kakak dalam keadaan mabuk. Tapi kakak benar-benar tidak menyangka jika Michel akan hamil," jawab Brian akhirnya jujur.
__ADS_1
"Astaga kak. Kenapa kakak selalu mengambil apa yang aku punya? Kenapa kak? Kenapa?" tanya Boy frustasi.
"Itu karena Michel duluan yang merayu kakak Boy," jawab Brian berbohong.
"Ok fine jika Michel yang merayu kakak, tapi bagaimana dengan Cella? Apa Cella juga merayu kakak?" tanya Boy membuat Brian terdiam.
"Sudahlah Boy, masalah Cella maafkan kakak. Kakak benar-benar menyesalinya," jawab Brian menundukkan kepalanya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kakak. Sekarang juga aku akan menceraikan Michel. Silahkan kakak urus anak kakak sendiri. Aku benar-benar tidak sudi jika dia tinggal di apartemenku," ucap Boy lalu pergi meninggalkan ruangan Brian.
"Boy tunggu Boy. Jangan pergi. Kamu jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi Boy. Kita akan lakukan tes DNA antara kakak dan juga Bintang," ucap Brian setengah berteriak. Alhasil semua karyawan di kantor tersebut hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran antara kakak beradik tersebut.
Satu jam kemudian, Boy akhirnya tiba di apartemen miliknya. Ia melihat Michel tengah memasak makanan di dapur.
"Michel, aku mau bicara sama kamu," ucap Boy langsung to the point.
"Boy? Kamu sudah pulang? Kamu mau bicara apa Boy? Katakan saja," jawab Michel tetap fokus pada masakannya.
"Michel katakan dengan jujur, apa kamu pernah berhubungan badan dengan Brian sebelum atau sesudah kamu menikah denganku?" tanya Boy membuat Michel menghentikan aktifitasnya sejenak.
'Kenapa Boy tiba-tiba menanyakan hal ini? Apa Boy sudah mengetahui semuanya?' batin Michel dengan jantung yang berdetak kencang.
"Ayo Michel, katakan. Aku harap kamu jangan berbohong karena aku sudah mengetahui semua nya. Aku bertanya karena aku hanya ingin kamu mengatakannya secara langsung dari mulutmu itu," ucap Boy membuat Michel tersadar dari lamunannya.
"Maafkan aku Boy. Tapi kami melakukannya hanya satu kali. Waktu itu, kak Brian dalam keadaan mabuk, dan dia memaksaku untuk melakukan hubungan terlarang itu saat aku tengah mencari keberadaan mu di klub malam itu. Aku benar-benar menyesalinya Boy. Maafkan aku," jawab Michel berbohong, dengan air mata palsunya.
"Kalian berdua sama-sama pembohong. Entah siapa yang jujur, tapi aku sama sekali tidak peduli. Yang terpenting saat ini adalah, kamu harus tau jika Bintang bukan darah daging aku. Karena kamu Ibunya, harusnya kamu tau dong, Bintang itu seharusnya anak siapa," ucap Boy membuat Michel benar-benar terkejut.
__ADS_1
"A.. Apa maksud kamu Boy. Kenapa kamu berkata seperti itu? Bintang itu anak kamu, darah daging mu. Kamu jangan seenaknya dong lepas tanggung jawab seperti ini," protes Michel yang sakit hati saat Boy tak menganggap Bintang adalah putra kandungnya.
"Haha.. Michel.. Michel.. Entah kamu tidak tau atau hanya sekedar pura-pura tidak tau, tapi kenyataannya Bintang memang bukan anak kandungku," ucap Boy dengan lantang.