
"Kenapa kalian berada disini?* tanya Boy menatap Selin.
"Bukan urusan kalian," jawab Niko kesal karena dimana-mana pasti mereka selalu bertemu dengan Boy.
***
"Cahaya Anastasya," panggil suster yang keluar dari ruangan poli anak.
Dengan cepat, Niko dan juga Selin bergegas untuk masuk ke dalam ruangan dokter anak tersebut.
"Cahaya Anastasya? Apa itu nama anak mereka?" tanya Brian merasa ada yang aneh.
"Sepertinya iya kak. Memang kenapa?" jawab Boy kembali bertanya.
"Boy, bukannya nama belakang Cella juga pakai Anastasya?" tanya Brian membuat Boy seketika ingat dengan nama panjang mantan istrinya itu.
"Iya, kakak benar, memang kenapa?" jawab Boy balik bertanya.
"Kamu dengarkan suster itu memanggil nama anak Niko. Namanya Cahaya Anastasya. Kamu merasa ada yang aneh gak sih Boy?" tanya Niko membuat Boy juga merasakan sesuatu.
"Iya ya kak. Kenapa aku gak ngeh? Sebenarnya banyak kesamaan antara Cella dan juga Selin. Mereka memiliki mata dan tatapan yang sama, gaya bicara yang sama, gaya jalan yang sama, dan tak hanya itu, mereka juga memiliki suara yang sama. Darimana sebenarnya Selin ini berasal? Kenapa ia tiba-tiba bisa menjadi istri Niko? Kapan mereka menikah?" jawab Boy dengan segala tanda tanya besar di dalam benaknya.
"Entahlah, kakak sendiri juga merasakan keanehan yang sama. Kakak akan bantu kamu untuk menyelidiki semua ini," balas Brian sembari menggendong putrinya.
Tak lama setelah itu, Selin dan juga Niko akhirnya selesai melakukan pemeriksaan untuk Cahaya.
Mereka berpapasan dengan Brian dan juga Boy saat akan keluar dari ruangan dokter anak tersebut.
"Boy, kenapa dia menyembunyikan wajah bayi mereka dari kita?" tanya Brian kepada adiknya Boy.
Mana ku tau kak. Kenapa kakak tidak menanyakannya langsung kepada mereka?" jawab Boy yang saat ini merasakan suatu rasa yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata di saat melihat bayi yang dibawa oleh Selin dan melewatinya.
'Kenapa aku merasakan kehangatan dan kedekatan saat Selin berjalan di dekatku tadi ya? Tapi anehnya bukan karena adanya Selin, melainkan karena bayi yang di gendongnya itu,' batin Boy menatap kepergian Selin dan juga bayinya.
Setelah Bintang di periksa oleh dokter, mereka kembali bertemu saat keduanya tengah mengantri obat di apotik rumah sakit tersebut.
Namun kali ini, Selin dan Niko tidak menyadari keberadaan Brian dan juga Niko di belakangnya.
Bou dan juga Brian sangat terkejut saat melihat wajah bayi Selin yang begitu mirip sekali dengan Boy.
__ADS_1
Mereka berdua terperanjat dan saling tatap satu sama lain.
Dengan perlahan, Boy mengajak Brian mundur untuk meninggalkan apotik tersebut.
"Kak, kakak barusan lihat kan wajah bayinya Selin?" tanya Boy pada kakaknya itu.
"Iya, kakak lihat. Dia mirip sekali denganmu Boy. Apa Selin itu adalah Cella? Bisa saja, dia melakukan operasi bedah plastik saat di Korea kemaren," jawab Brian menerka-nerka.
"Bisa jadi kak. Kak, kakak harus bantu aku menyelidiki semua ini. Tapi ingat kak, jika Selin itu adalah Cella, kakak jangan berani untuk merebutnya kembali dariku," ucap Boy menatap tajam kakaknya.
"Ya nggak lah Boy, kakak ini sudah berubah. Apalagi saat ini kakak sudah memiliki Bintang. Kakak mau fokus untuk merawat Bintang," jawab Niko yang sudah mulai sadar.
"Baguslah kak kalau begitu.
Semoga saja Selin itu adalah Cella. Aku melihat banyak kesamaan Cella pada diri Selin," ucap Boy berharap banyak.
"Amin, semoga saja Boy. Kakak akan bantu mencari informasi lengkap tentang Selin secepatnya," balas Brian.
Setelah Selin dan Niko mendapatkan obat untuk anaknya, barulah Brian dan Boy kembali ke apotik untuk mengambil obat Bintang.
Setibanya di rumah, Brian dan Boy di buat marah dengan kelakuan Michel yang membuat rumah mereka hancur berantakan.
"Gak usah Boy. Kita tidak usah ladeni wanita itu, yang ada dia malah semakin menjadi-jadi. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja," jawab Brian membawa Bintang ke kamarnya.
Sementara itu, di rumah Niko....
"Niko, bukankah kita sudah mempunyai bukti yang kuat mengenai pembunuhan papamu? Kenapa kami tidak memberikannya kepada polisi agar Brian dan juga Boy langsung di tangkap?" tanya Mita kepada anaknya itu.
"Sabar ma. Kita akan lakukan itu di saat yang tepat. Biarkan saja mereka menikmati hari-harinya dulu. Aku ingin mereka menyaksikan pernikahanku dengan Selin. Dimana saat pernikahan nanti aku akan ungkapkan identitas Selin yang sebenarnya. Aku ingin membuat mereka menyesal dan merasakan sakit yang dulu mama dan aku rasakan," jawab Niko sudah mengatur semua misi balas dendamnya.
"Baiklah sayang, mama setuju. Kalau begitu, istirahatlah," balas Mita lalu pergi meninggalkan putranya itu.
Sementara itu, Cahaya baru saja tertidur, tak lama kemudian, pintu kamar Selin di ketuk oleh Niko dari luar.
"Ada apa kak?" tanya Selin pada calon suaminya itu.
"Bagaimana Cahaya? Apa dia masih rewel?" tanya Niko menanyakan anak dari Boy tersebut.
"Dia baru saja tidur. Setelah minum obat, rewelnya mulai berkurang. Kakak tidak tidur kah?" jawab Selin balik bertanya.
__ADS_1
"Ini aku mau tidur. Ku istirahatlah. Tak lama lagi kita akan menikah, jangan sampai kamu kelelahan dan sakit," ucap Niko mengusap kepala Selin.
"Baiklah, terima kasih kak atas perhatiannya," jawab Selin senang.
"Tapi itu semua tidak gratis lo sayang," ucap Niko membuat Selin tercengang.
"Maksud kakak apa?" tanya Selin penasaran.
"Kali ini aku mau meminta hadiah padamu," jawab Niko menyeringai.
"Hadiah? Hadiah apa kak?" tanya Selin semakin penasaran.
"Ini," jawab Niko menunjuk-nunjuk pipinya.
"Apa? Katakan saja. Aku sama sekali tidak mengerti," jawab Selin balik mempermainkan Niko.
"Masak kamu gak tau sih Selin?" tanya Niko kesal.
"Iya, aku benar-benar tidak tau," jawab Selin mengulum senyumannya.
"Cium maksudku," jawab Niko akhirnya to the point.
"Cium? Apa ciumnya seperti ini?" ucap Selin mencium pipi kanan Niko.
"Atau seperti ini?" tambah Selin mencium pipi kiri Niko.
"Atauuuu seperti ini," ucap Selin lagi ******* sekilas bibir Niko.
Seketika Niko terdiam dan terpana dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
Ia tak menyangka akan diberikan ciuman yang banyak oleh Selin, apalagi ciuman yang terakhir berhasil membuat juniornya berdiri tegak.
"Hello? Kak, kakak melamun?" tanya Selin kepada Niko yang masih terdiam karena shock.
"Eh, i.. Iya sayang. Terima kasih, a.. Aku suka semua ciuman yang kamu berikan, apalagi yang terakhir," ucap Niko seperti hilang wibawa.
"Hehe.. Ya sudah, kalau begitu, tidurlah, nanti setelah kita menikah, aku akan memberikannya setiap hari padamu," ucap Selin lalu menutup pintu kamarnya.
Dengan hati yang riang, Niko pun berjalan ke kamarnya. Ia akhirnya tidur dengan nyenyak dan bermimpi dengan indah.
__ADS_1