
Claudya mengikuti Lian sampai teras rumah mewah itu..
Ia meraih tangan Lian dan mencium nya...
Sedangkan Lian mengusap kepala istri nya dan mencium sekilas bibir manis Claudya...
***
Setelah mobil yang Lian kendarai pergi meninggalkan rumah, Claudya kembali masuk kedalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya.
Claudya tak menyangka kalau dia kini telah menjadi seorang istri. Ia begitu sangat bahagia dengan status dan kehidupannya yang sekarang.
Saat sedang berdiri di balkon kamarnya. Ponsel Claudya berbunyi, dilayar tersebut tertera nama PAPA. Claudya bergegas mengangkat panggilannya karena ia begitu sangat merindukan papa nya tersebut.
"Halo pa. Papa apa kabar?" tanya Claudya memulai percakapannya.
"Papa baik Claudya. Kamu sendiri bagaimana? apakah Lian memperlakukan mu dengan baik? apakah kamu bahagia?" tanya Dominic kepada putri kesayangannya.
"Claudya baik pa. Claudya sangat bahagia. Lian memperlakukan Claudya dengan sangat baik," jawab Claudya antusias.
"Ya sudah kalau begitu. Kapan-kapan ajaklah suamimu berkunjung ke rumah papa," tawar Dominic kepada putri nya.
"Baik pa. Nanti Claudya akan memberi tau Lian. Mama Lola apa kabar pa?" tanya Claudya yang teringat dengan istri muda papa nya.
"Mama Lola baik. Dia sedang memasak di dapur," balas Dominic.
"Ya sudah, kalau begitu Claudya tutup ya pa. Claudya mau mandi dulu," ujar Claudya hendak memutuskan panggilannya.
Claudya pun memutuskan panggilan telponnya dengan Dominic.
Sedangkan Lian yang baru sampai di kantornya segera masuk kedalam ruangannya.
Di sana sudah ada Lee yang sedang duduk menyeruput kopi paginya.
"Pagi tuan muda. Bagaimana kabar anda?" tanya Lee melihat Lian sudah duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Baik. Lee bagaimana keadaan Loli dan anaknya sekarang?" tanya Lian melihat ke arah Lee duduk.
"Sejak tuan muda menyuruh mencarikan dokter terbaik, keadaan Nona Loli jadi ada kemajuan tuan. Sepertinya tidak beberapa lama lagi Nona Loli akan pulih kembali. Begitupun dengan Zafran anaknya. Anak itu terlihat sangat cerdas. Kalau menurut saya, bagaimana kalau tuan muda membawanya tinggal di rumah saja. Dengan begitu tuan muda bisa mendidiknya langsung, dan mendaftarkan nya di sekolah terbaik," jelas Lee panjang lebar.
Lian tampak berfikir sejenak. Lian mencoba mempertimbangkan saran dari Lee. Tak ada salahnya jika Zafran tinggal di rumah mereka. Lagian cepat atau lambat Zafran juga akan tinggal di rumahnya.
"Kau benar Lee. Cepat atau lambat Zafran juga akan kubawa tinggal bersama ku. Lambat laun aku akan memperkenalkan Zafran pada Dominic," terang Lian.
"Iya tuan muda. Kalau begitu saya akan urus dokumen-dokumen untuk kepulangan Zafran dari panti asuhan," ucap Lee lalu meminum sisa kopi nya.
Saat sedang berbicara dengan Lee. Ponsel Lian mendapat panggilan dari istrinya Claudya.
"Halo Claudya," jawab Lian mengangkat telpon istrinya.
"Mas, tadi papa menelpon. Dia menawari kita untuk berkunjung ke rumahnya. Bagaiman menurut mu mas?" tanya Claudya.
"Baik, kalau begitu nanti setelah pulang kantor kita akan ke rumah papa mu. Kamu siap-siap di rumah," jawab Lian menerima tawaran mertua nya.
"Makasih mas. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Maaf mengganggu pekerjaan mu," ucap Claudya lalu mutuskan panggilannya.
Lian memasukkan kembali ponselnya kedalam sakunya.
"Lee nanti aku akan pergi ke rumah Dominic. Apa kau punya rencana?" tanya Lian. Ia akan memulai balas dendamnya di setiap kesempatan yang ada. Dan nanti malam adalah awal pembalasannya.
Lee tampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian Lee tersenyum licik dan ia menatap Lian sesaat.
"Saya punya ide tuan muda. Bagaimana kalau kita menaruh obat yang mampu membuat Dominic lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan begitu, Dominic tidak akan bisa berbuat banyak," usul Lee dengan senyuman licik nya.
"Membuatnya lumpuh? Itu berarti dia akan menderita menjelang ajal nya," ucap Lian tersenyum licik.
"Iya, betul tuan muda. Tak ada salahnya kalau kita bermain sedikit dengan Dominic di sisa hidupnya," timpal Lee dengan wajah dinginnya.
"Kau benar Lee. Ternyata jiwa mafia mu lebih kejam dariku," puji Lian kepada kaki tangannya itu.
Lee hanya tersenyum mendengar pujian dari Lian. Baginya, orang yang telah menghancurkan keluarga Abraham, sama saja telah menghancurkan keluarganya. Lee telah menganggap keluarga Abraham sebagai keluarga nya sendiri. Begitu juga dengan keluarga Abraham. Baginya Lee sama saja dengan Lian.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi tuan muda. Saya akan keluar untuk memesan obatnya terlebih dahulu," ucap Lee pamit dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kau tunggulah sebentar lagi Dominic. Kau pasti akan membayar tunai semua hutang-hutang mu." gumam Lian tersenyum licik.
Hari pun sore. Lian yang seharian berkutat dengan urusan kantornya sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
Tak lupa ia membawa obat yang tadi telah dibeli oleh Lee ke dalam tas kerjanya.
Satu jam kemudian, Lian sudah sampai di pelataran rumahnya. Tampak Claudya yang sudah berdiri di teras rumah menyambut kedatangan suami nya itu.
Seperti biasa, saat akan pulang dari kantor, Lian kembali merubah penampilannya menjadi culun kembali, agar tak ada orang yang waspada terhadap dirinya.
"Mas sudah pulang?" sapa Claudya mengambil tas kerja milik suaminya, lalu mencium tangan Lian.
"Sudah sayang. Apa kita jadi ke rumah papa mu?" tanya Lian sembari mencium kening istrinya, lalu merangkul pinggang ramping Claudya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Jadi mas. Mas mandi dulu ya. Aku sudah siapkan baju ganti mu di kamar," jawab Claudya mengikuti langkah suaminya ke kamar.
Saat tiba dikamar, Claudya membukakan jas yang menempel di tubuh atletis Lian. Ia juga membukakan kancing kemeja yang menutupi tubuh kekar suaminya itu.
Lian yang dari tadi hanya diam, kini tangannya merayap membelai pipi mulus istrinya, lalu berpindah ke punggung dan berhenti di bokong indah istrinya.
Lian meremas dan mendorong bokong Claudya hingga beradu dengan kepunyaan milik Lian yang telah mengeras.
Ia kemudian mengangkat wajah istrinya lalu mencium bibir ranum milik Claudya tersebut.
"Mas," lirih Claudya saat ciuman mereka berhenti.
"Bolehkah sayang?" tanya Lian dengan suara yang sudah serak. Claudya menatap mata elang suami nya, dan Claudya mengangguk pertanda ia setuju untuk melayani suaminya itu.
Lian membopong Claudya ke ranjang king size milik nya. Ia menindih Claudya, menciumi bibir manisnya. Sedangkan tangan Lian menyelinap kedalam baju yang Claudya gunakan.
Nafas Claudya memburu saat sentuhan demi sentuhan yang Lian berikan kepadanya.
Claudya mendesah pelan, membuat Lian menjadi sangat bergairah dan tak butuh waktu lama kedua insan yang akan memadu kasih itu telah membuka seluruh pakaian yang menempel ditubuh nya masing-masing.
__ADS_1
Lian menenggelamkan kepala nya di dada milik Claudya yang menantang. Ia memainkan ujungnya dan membuat Claudya merasakan merinding di seluruh tubuhnya.
Setelah Lian merasa cukup dengan pemanasan nya. Lian langsung menyatukan miliknya kedalam lubang Claudya.