Memuaskan Nafsu Kakak Ipar

Memuaskan Nafsu Kakak Ipar
Melabrak Rumah Niko


__ADS_3

"Sebaiknya aku beri tahu Boy dulu. Sekarang yang jelas, Niko dan keluarganya sudah berada di rumahnya. Aku akan cari cara untuk bisa masuk ke dalam rumah itu," ucap Brian kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Niko.


***


"Ada apa?" tanya Boy dalam panggilan teleponnya bersama Brian.


"Boy, aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Niko dan keluarganya telah kembali.


Supir taksi yang mengantarkannya mengatakan jika mereka semua baru saja dari bandara. Kamu tau Boy, di dalam mobil itu ada Ibunya seorang wanita dan juga seorang bayi. Aku yakin jika wanita itu adalah Cella dan juga bayinya," ucap Brian membuat Boy seketika seperti hidup lagi.


"Kakak yakin? Jika begitu, aku akan menemuinya ke rumah itu secara langsung," ucap Boy lalu meninggalkan Michel begitu saja di rumah sakit.


"Mau kemana kamu Boy?" tanya Michel yang masih terbaring di tempat tidur.


"Aku ada urusan sebentar. Sebentar lagi akan ada yang menemanimu disini selagi aku tidak ada," ucap Boy lalu pergi begitu saja.


"Boy tunggu, jangan pergi," teriak Michel namun terhenti karena ia merasakan nyeri di bagian bekas operasinya.


Beberapa saat kemudian, Boy yang di temani oleh Brian tiba di rumah Niko.


Dengan memaksa masuk, ia kemudian menggedor pintu dengan sangat keras.


"Siapa Ma?" tanya Niko kepada Ibu Mita.


"Itu, Boy dan juga Brian. Kamu tunggu disini, mama buka pintunya dulu," ucap Ibu Mita melangkah pergi.


"Tunggu Ma. Biar Niko saja. Mama pegang saja ponsel ini. Niko akan memancing kedua bajingan itu untuk mengakui perbuatannya yang telah membunuh Papa dan merekamnya dengan ponsel ini," ucap Niko memberikan sebuah ponsel kepada mamanya.

__ADS_1


"Baik nak. Mama akan pegang ponselnya," ucap Ibu Mita mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Niko.


"Ingat ma. Jangan sampai mereka curiga," ucap Niko lalu membukakan pintu rumahnya.


"Ada apa kalian kemari pembunuh," ucap Niko kepada Brian dan Boy.


"Haha.. Lama tak bertemu Niko. Ternyata kamu masih ingat dengan kami berdua," jawab Brian tertawa lepas.


"Aku tak pernah melupakan kelakuan bejat kalian. Ada apa kalian kesini?" tanya Niko terus memancing Brian dan juga Boy untuk mengatakan jika mereka memang benar telah membunuh papa Niko.


"Kami kesini untuk bertemu dengan Cella. Dimana dia?" jawab Boy dingin.


"Cella? Siapa Cella? Kenapa kalian mencarinya kemari?" jawab Niko pura-pura bodoh.


"Jangan pura-pura tidak tau Niko. Aku tau Cella ada di rumah ini. Dia istriku. Cepat katakan dimana Cella, atau tidak, kami berdua akan melakukan persis seperti apa yang kami lakukan pada papamu lima tahun lalu. Jangan main-main dengan kami," ucap Boy akhirnya secara tidak langsung membuat pengakuan tentang kematian papanya. Sementara itu, Ibu Mita terus saja diam dengan memegang ponsel yang di berikan Niko kepadanya.


"Jangan mengancam. Cella memang tidak ada disini. Kenal saja kami tidak. Lagian untuk apa kami menyembunyikan istrimu disini?" ucap Ibu Mita angkat bicara.


"Dia bukan Cella. Kalian salah. Dia Selin, istriku. Kami memang berencana untuk melahirkan bayi pertama kami di Korea, karena istri saya menyukai negara itu," jawab Niko membuat Brian dan Boy saling menatap satu sama lain.


"Istri? Sejak kapan kamu menikah dan memiliki istri? Jangan berbohong, atau aku akan membunuhmu seperti aku membunuh papamu dulu," ancam Brian menambah satu lagi bukti.


"Aku tidak bohong. Kami memang sudah menikah satu tahun yang lalu secara siri. Jika kamu tidak percaya, sebentar, aku akan membawanya kemari," jawab Niko kemudian berbalik memanggil Cella alias Selin ke kamarnya.


"Selin, Brian sama Boy ada di bawah. Mereka mengira jika kamu berada disini. Turunlah dan temui dia sebagai Selin. Ingat, jangan gugup ataupun tegang. Bermain cantik lah dengan mereka berdua, karena sebentar lagi, mereka akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama," ucap Niko membuat Selin sedikit cemas.


"Tapi, bagaimana kalau mereka mengenaliku kak?" tanya Selin cemas.

__ADS_1


"Tenang saja. Mereka tak akan mengenalimu. Ayo," jawab Niko memegang tangan Selin menemui Brian dan juga Boy.


Setibanya di bawah, Brian dan Boy sudah masuk ke dalam rumah Niko tanpa di persilahkan oleh pemilik rumah.


Mereka tercengang saat melihat Niko dan Selin turun dengan berpegangan tangan.


"Lihat, ini istri saya Selin. Masih berani kamu mengatakan jika ini istrimu Cella.. Cella itu?" ucap Niko membuat Boy dan Brian terdiam.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Aku yakin jika ya g di Korea itu adalah Cella, bukan wanita ini. Boy kamu lihat sendiri kan foto yang aku kirimkan waktu itu?" ucap Brian kekeh dengan apa yang ia lihat di Korea waktu itu.


"Yang di Korea itu aku Selin. Lagian kenapa anda mencari istri anda ke rumah suami saya? Anda pikir suami saya ini tukang selingkuh apa. Sekarang mendingan kalian berdua pergi dari rumah kami, dan jangan pernah kembali lagi," ucap Selin yang mulai terpancing emosi.


Melihat Selin yang mulai emosi, Niko takut jika Selin akan keceplosan dan membuka jati dirinya yang sebenarnya. Niko kemudian berinisiatif untuk mengusir Brian dan juga Boy keluar dari rumahnya.


"Kalian berdua dengarkan apa kata istri saya. Mending kalian sekarang pergi dan jangan pernah kesini lagi. Aku bukanlah Niko yang dulu. Andai saja suatu hari nanti aku menemukan bukti pembunuhan papaku, akan aku jamin, kalian berdua akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama," ucap Niko mengancam.


"Haha..Kamu mengancam kami berdua? Sayangnya kami tidak takut," Jawab Brian tertawa lepas.


"Lihat saja nanti, memang sekarang aku tidak punya bukti apa-apa. Tapi, cepat atau lambat semuanya akan terbongkar," balas Niko berpura-pura kalah.


"Haha.. Ok.. Ok.. Terserah kamu saja. Oh ya, ngomong-ngomong, istrimu cantik juga. Apa kamu mengizinkan ku untuk mencicipinya satu kali saja?" ucap Boy mengedipkan matanya kepada Selin.


"Ya, kamu benar Boy. Gak ada salahnya berbagi Niko. Orang bilang, berbagi itu indah," tambah Brian sembari tertawa.


Mendengar ucapan Boy, Selin langsung melayangkan tamparannya di pipi Boy dengan sangat kuat dan keras. Terlihat jelas dengan perubahan warna kulit Boy yang berubah menjadi merah.


Plak

__ADS_1


"Rasakan itu. Pantas saja istrimu kabur. Aku rasa dia tidak betah tinggal dengan kalian kakak adik yang gila dan kelainan seksual. Aku harap dia tak akan pernah kembali lagi," ucap Selin sangat-sangat emosi.


Niko dan Ibu Mita sudah cemas. Mereka takut jika Selin akan membongkar rahasianya sendiri karena terbawa emosi.


__ADS_2