
Harap perhatian, para penumpang pesawat blablabla dengan nomor penerbangan blablabla, bersiap-siap karena 5 menit lagi kita akan melakukan landing di bandara blablabla.
(Suara pramugari pesawat)
Mendengar pemberitahuan dari Pramugari itu, menandakan bahwa kini Rafly benar-benar telah berada di kota M. Dia akan berada disini tentunya cukup lama yaitu kurang lebih 6 bulan untuk melakukan pendidikan militer. sebenarnya dia sungguh tidak menginginkan perpisahan dengan Alya ini, walau hanya 6 bulan tapi Rafly sebenarnya sangat tidak tega meninggalkan kekasihnya itu.
Sayang, kamu baik-baik yah disana selalu ingat sama aku, jangan pernah kamu lupain aku sayang, aku disini selalu setia menunggu kamu, batin Alya.
Alya sedari tadi masih terus saja memikirkan kekasihnya itu, padahal waktu telah menunjukkan pukul 17:25 Wib yang artinya sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib, tapi dia tidak kunjung mandi juga dan bersiap-siap sholat. Alya benar-benar seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk melakukan sesuatu, badannya terasa sangat lemas, hatinya sangat sedih dan air matanya masih saja terus mengalir.
Tok...tok...tok...tok......
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Alya, suara ketukan itu membuat Alya langsung mengusap air matanya dan dia berusaha untuk kelihatan baik-baik saja disaat membuka pintunya itu.
"Al, kamu gak mandi nak?" ucap nenek Alya. Yah, yang mengetuk pintu itu adalah nenek Alya, dia khawatir karena tidak biasanya cucunya itu seperti ini.
"Iyah Nek" ucap Alya sembari membuka pintu kamarnya. "Bentar lagi, 5 menit lagi lah Nek, Alya soalnya lagi rapiin lemari nih Nek" sambung Alya yang beralasan agar neneknya tidak curiga dan mengiranya sedang baik-baik saja.
"Owh lagi rapiin lemari yah, ya udah kalau gitu nanti mandi yah Nak, udah mau jam setengah enam loh kan itu artinya bentar lagi sholat maghrib!" ucap nenek Alya, yang mengingatkan cucuknya itu untuk segera mandi karena sebentar lagi maghrib.
"Iyah Nek, siap" ucap Alya singkat.
"Ya udah Nenek cuman mau bilang itu Nak, Nenek lanjut masak dulu yah Nak" ucap Nenek Alya sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
Yah, itu lah nenek Alya yang hanya sekali-sekali saja perhatian kepada Alya. Maklum juga karena neneknya sudah tua, belum lagi dari pagi sampai sore neneknya harus bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhan Alya juga.
__ADS_1
Tok...tok...tok....tok..tok...
"Assalamualaikum, buk" ucap Rafly sembari mengetuk pintu rumah ibunya.
"Wa'alaimumussalam, siapa yah?" jawab ibu Rafly sembari membukakan pintu rumah. "Nak Rafly, kamu udah sampai nak!" sambung ibu Rafly dengan penuh senyuman di wajahnya.
"Iyah Buk, Rafly udah sampai tadi sengaja Rafly gak kasih tau Ibu biar jadi surprise, hehehehe" ucap Rafly sembari memeluk erat ibunya itu.
Akhirnya perasaan rindu Rafly kepada ibunya selama 3 tahun ini hilang, sirna, ketika Rafly telah memeluk ibunya itu.
"Buk, aku kangen banget" ucap Rafly yang masih dalam keadaan memeluk ibunya. "Ibu disini baik-baik aja kan?" sambung Rafly.
"Sama Nak, Ibu juga kangen banget sama kamu" balas ibu Rafly sembari memeluk dan mengelus-elus belakang anaknya itu. "Iyah Nak, Ibu baik-baik aja kok" sambung ibu Rafly.
Setelah pelukan pelepas kerinduan itu, Rafly dan ibunya pun masuk ke dalam rumah. Rafly kemudian membuka pintu kamarnya secara perlahan dan setelah dia buka, spontan semua ingatannya tentang masa kecilnya di rumah itu kembali lagi di pikirannya. Yah, karena di rumah itu banyak sekali kenangan-kenangan masa kecil Rafly, mulai dari yang menyenangkan sampai dengan yang sangat melukai hatinya, semuanya spontan langsung kembali di pikiran Rafly.
8 tahun yang lalu
Setelah 8 tahun yang laluaku pulang dari sekolah, aku melihat ayah tiriku, ibu dan adikku Aini sedang bermain monopoli. Setelah aku mengganti pakaian sekolahku, aku pun bergegas untuk makan dan betapa kagetnya aku ketika mendengar suara bendah yang jatuh sangat keras seperti benda yang sengaja di lemparkan oleh seseorang. Yah, itu adalah asbak rokok yang di lemparkan ayah tiriku ke dada adikku Aini.
Aku langsung pergi melihat kejadian itu, dan nampak ayah tiriku yang berwajah kejam, berambut gondrong dan berkumis tebal itu ternyata sedang marah ke adikku Aini karena permainan monopoli.
"Astaga.....ayah kenapa kamu melemparkan asbak rokok itu ke dada Aini, inget yah kamu boleh kasar ke aku asalkan kamu jangan pernah kasar ke anak-anakku!" ucap ibuku yang saat itu tidak terima karena perlakuan ayah tiriku kepada adikku Aini.
"Dasar, masih kecil aja udah berani ngomong gitu ke orang tua!" ucap ayah tiriku dengan nada keras membentak adikku Aini.
__ADS_1
"Cukup....yah....cukup...kenapa kamu memperlakukan anakku seperti itu?" ucap ibuku sambil menatap ayah tiriku itu dengan tatapan yang sangat tajam dan raut wajah yang sangat marah.
"Itu anakmu sudah kurang ajar ke aku, kasih ajar itu anakmu tentang cara berbicara sopan santun kepada orangtua!" ucap ayah tiriku sembari membakar rokok yang ada di tangannya.
"Emang...emangnya dia ngomong apa ke kamu yah sampai kamu segitunya banget ke dia?" ucap ibuku sambil terbatah-batah. "bukannya dia hanya bilang kalau kamu itu udah kalah main monopolinya?, terus kenapa kau marah sampai segitunya ke dia?" sambung ibuku yang sangat tidak terima atas perlakuan ayah tiriku terhadap adikku Aini tadi.
"Terus aja, terus belain kelakuan anak kamu itu" ucap ayah tiriku sembari mengambil gelas kaca tempat kopinya di meja. "Coba sekali lagi kamu belain anak kamu seperti itu aku pecahin gelas ini di muka anakmu itu.
Mendengar ucapan ayah tiriku yang sudah sangat keterlaluan itu, aku sungguh tidak terima jika adik dan ibuku di perlakukan seperti itu. Aku kemudian langsung bergegas menuju ke dekat mereka semu. Sesampainya tepat di hadapan mereka semua, aku langsung membuka mulut dan berbicara langsung kepada ayah tiriku itu.
"Ayah jangan sekali-sekali berani untuk menyakiti adik dan ibuku, kalau ayah seperti itu lagi aku akan melaporkan ayah ke polisi!" ucapku dengan perasaan yang sangat marah.
"Berani-beraninya yah kamu nasehatin ayah, lama-lama Ayah injek juga batang leher kamu itu dasar bocah ingusan" ucap ayah tiriku dengan nada suara yang sangat keras.
"Ayah itu sudah sangat keterlaluan selama ini ke aku, Aini dan Ibuk, Ayah benar-benar tidak tau bersyukur, seandainya bukan Ibu yang kerja keras mati-matian kita tidak mungkin hidup seperti sekarang ini yah" ucapku sembari menatap jelas mata ayah tiriku itu. "Tapi apa.....apa balesan ayah ke Ibu?, ayah malah sering marahin Ibuk, sering juga mukulin Ibu" sambung aku yang benar-benar sudah sangat marah kepada ayah tiriku itu.
Mendengar ucapanku itu, membuat emosi ayah tiriku semakin naik dan membuat kelakuan dia semakin menjadi jadi.
"Kurang ajar kamu yah, masih kecil-kecil udah sok tau banget sama urusan orang tua. Sini kau biar ku kasih pelajaran agar mulutmu itu kau jaga!" ucap ayah tiriku sembari berdiri siap untuk memukuliku.
BERSAMBUNG........
Jangan lupa vote dan komen yah sahabat
Saran dan kritikannya selalu author nantikan
__ADS_1
Makasih
Salam manis Author