
Mendengar perkataan ayah tiriku yang ingin memukuliku itu, ibuku sontak berkata "Jangan pernah kau pukuli anak-anakku yah, kalau kau mau kasar sama aku silahkan tapi jangan ke anak-anakku"
"Halah, kau dan anakmu sama aja, aku bunuh juga kalian semua kalau aku mau" ucap Ayah tiriku tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Mendengar perkataan Ayah tiriku itu yang sudah benar-benar kelewatan, aku langsung saja ingin memukulinya tapi ibuku malah menahanku. Aku pun emosi dan meninggalkan mereka semua. Yah, walaupun saat itu umurku baru 10 tahun, tapi aku tidak pernah takut melawan siapapun apa lagi jika orang itu berani-berani menyakiti hati ibuku.
Aku kemudian pergi ke tempat tongkronganku, lalu Aku bercerita kepada teman-temanku mengenai itu semua, dan sontak saja respon teman-temanku begitu membuatku merasa mempunyai banyak dukungan. Bagaimana tidak, semua teman-teman tongkronganku adalah remaja-remaja yang sudah tidak melanjutkan sekolahnya lagi dan mereka siap membantuku untuk membunuh ayah tiriku itu sebelum dia membunuh kami semua.
FLASHBACK OFF
Astaga mengapa aku memikirkan semua ini, apa ini tandanya aku masih memiliki rasa dendam ke ayah tiriku, batinku.
Aku pun beranjak keluar dari kamarku, dan aku melihat di dapur ada sosok wanita yang sedang menyiapkan makanan untukku. Yah, itulah dia ibuku, sosok yang benar-benar sangat perhatian ke aku, walaupun aku tidak tinggal dengannya tapi aku tau itu semua juga demi kami anak-anaknya.
Ibuku rela merantau mencari kerjaan ke provinsi lain demi membiayai kami semua, karena semenjak perceraian ayah dan ibuku, hanya ibuku lah yang sangat peduli dan perhatian ke aku dan adik-adikku, sedangkan ayah tiriku sibuk berbahagia dengan keluarga barunya. Dalam setahun saja, ayah kandungku hanya memberikan aku uang sebesar Rp.100.000 saja itu pun masih jarang juga, selama ini yang membiayai hidup dan sekolahku hanya ibuku, yang banting tulang mencarikan kami semua nafkah hanyalah ibuku, sungguh ibuku benar-benar wanita yang baik. fikirku.
"Nak, makan yuk. Ibu udah siapin makanan kesukaan kamu nih, Nak" ucap ibuku sembari memegang pundakku.
"Iyah buk, siap" jawabku sembari berjalan menuju meja makan.
SAAT DI MEJA MAKAN
"Wah, Ibu masih ingat saja nih makanan kesukaan aku" ucapku sambil melihat makanan yang ada di meja makan itu. "Ini Ibu semua yang masak?" sambung aku yang bertanya kepada ibuku.
__ADS_1
"Iyahlah Nak, kan special buat kamu. Lagian ibu kan juga jarang-jarang Nak bisa masakin kamu, makanya mumpung kamu lagi ada disini sama Ibu, Ibu mau masakin kamu semua makanan kesukaan kamu!" ucap ibuku dengan penuh senyuman di wajahnya.
"Makasih banyak yah Buk, Ibuk memang orangtua yang terbaik buat aku!" ucapku sembari memeluk ibuku.
"Iyah Nak, ya udah kamu makan yah Nak, habisin makananya"
"Iyah, ayok kita makan bareng buk"
Hari itu aku benar-benar sangat bahagia karena aku bisa kumpul lagi bersama ibuku, sampai-sampai aku lupa mengabari pacarku Alya yang saat itu mungkin sedang menunggu kabar dariku.
Setelah makan malam bersama ibuku tadi, aku pun bergegas mandi, sehabis mandi aku pun merebahkan badanku di ranjang kamarku yang begitu sudah tidak asing lagi bagiku. karena itu merupakan kamar sekaligus ranjang ternyaman bagiku, yang telah ku tempati dari kecil.
Aku pun terdiam sejenak menikmati empuknya kasurku itu, tiba-tiba aku tersadar bahwa aku belum mengabari Alya kekasihku. Aku pun segera mengambil ponselku dan mengabari dia bahwa aku telah sampai di kota M dengan selamat dan telah bertemu ibuku.
Kringg.....kring....kring...
terdengar suara telfon dari ponsel Alya "Itu pasti Rafly sayang" ucap Alya sambil tersenym.
"Assalamualaikum, sayangku" ucap Rafly yang langsung menyapa Alya saat telfonnya di angkat.
"Wa'alaikumussalam, sayang" balas Alya dengan lembut. "Kamu udah nyampekan sayangku?" sambung Alya dengan nada suara yang sedikit panik.
"Iyah udah kok sayang, maaf yah aku lambat ngabarinnya, pasti kamu udah nungguin kabarku dari tadi yah sayang?" ucap Rafly dengan suara yang sangat lembut.
__ADS_1
"Iyah, gak apa-apa kok sayang" ucap Alya singkat. "Iyah nih sayang aku nungguin kamu dari tadi, hehehehe" sambung Alya sambil tertawa pelan.
Aku dan Alya pun menghabiskan sisah malam itu dengan telfonan berdua.
ke esokan harinya, aku dan ibuku pergi ke Batalyon tentara tempat aku akan mendaftar itu, dan nampak dari kejauhan banyak para pria bertubuh kekar sedang latihan. Yah, itulah para tentara-tentara RI. Setelah aku masuk dan melihat semua persayaratannya, ternyata disitu tertulis bahwa semua yang mengikuti pendidikan tentara itu selama 6 bulan tidak boleh membawa alat komunikasi beruba Hanphone, sontak aku pun langsung teringat Alya.
Aduh, bagaimana ini aku bisa ngabarin Alya nantinya kalau membawa hanphone saja tidak di perbolehkan, batinku.
Aku kemudian keluar sejenak dari ruangan batalyon itu untuk menelfon Alya dan memberitahukan kepadanya perihal konsekuensi masuk pendidikan tentara ini.
"Assalamualaikum, Sayang" ucapku memberikan salam terlebih dahulu saat telfonnya di angkat oleh Alya.
"Wa'alaikumussalam, Sayangku" jawab Alya.
"Sayang, aku ada berita yang kurang mengenakkan nih buat kamu" ucapku dengan nada suara yang sangat pelan.
"Kabar apa itu sayang?" tanya Alya singkat.
"Ternyata semua calon peserta pendidikan tentara tidak di perbolehkan membawa handphone sayangku, kalau ketahuan membawa bisa-bisa tidak lolos pendidikannya ini sayang" ucapku yang menjelaskan semuanya ke Alya.
"Oh gitu yah sayang, kalau emang peraturannya seperti itu ya udah gak apa-apa kok sayangku, itu semua juga kan demi masa depan kamu sayang" ucap Alya yang berusaha tegar padal di dalam lubuk hatinya dia tambah sedih mendengar kabar ini.
Ya Allah, kini aku dan bang Rafly benar-benar akan terpisah dan tidak berkomunikasi untuk sementara waktu, tolong kuatkanlah hati ini ya Allah, batin Alya.
__ADS_1
BERSAMBUNG........