Menangis Di Bawah Sinar Bulan (Kisah Pendakian)

Menangis Di Bawah Sinar Bulan (Kisah Pendakian)
Teror Yang akan datang


__ADS_3

......................


Ranger yang mendengar erangan Dirwan yang kesakitan langsung menghampiri dirwan sambil membawa kopi yang sudah di buatkan.


"Mas kenapa ?" masyaallah kenapa banyak darah begitu mas?" dengan raut wajah panik.


"Gatau pak, tiba-tiba saja banyak darah keluar dari kepala saya" sahutnya Dirwan.


Gelas yang berisi kopi panas langsung ia simpan di atas meja, tanpa pikir panjang langsung mengambil kotak P3K guna memberi pertolongan pertama.


trekkk...Suara kunci dari P3K terbuka.


Ranger itu ngambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan kepala kemudian di olesin salep antibiotik agar tidak terkontaminasi bakteri dari luar, kemudian di perban untuk menutupi luka tersebut.


"Terimakasih pak, tolong kabarin keluarga saya" Ucap dirwan sambil memberikan nomer ibunya.


"Oke oke nanti saya hubungin keluarga kamu" jawabnya ranger


Belum sempat memberi tahu siapa namanya kepada ranger itu, tubuh Dirwan bergetar dengan mata terbalik hingga yang terlihat hanya bola mata putih saja dan akhirnya pingsan.


"Mas kenapa mas" panik melihat di hadapannya ranger.


Tanpa pikir panjang ranger itu langsung mengeluarkan handphone yang berada di sakunya, lalu menghubungi nomer yang Dirwan berikan.


tuuuttt... "Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif mohon kembali beberapa saat lagi" pemberitahuan dari operator seluler.


"Ya ampun gimana ini, malah tidak aktif pula" ucapnya ranger sembari berjalan kesana kemari panik.


"Tuk tuk tuk.. Assalamualaikum" suara kakek tua mengetuk pintu.


Ranger yang mendengarnya langsung membuka kan pintu.


cekrekk..


"Waalaikumsalam kek, maaf ada apa ya ?" tanya ranger.


"Katanya cucu saya disini ?" tanya si kakek.


Kemudian ranger mempersilahkan kakek itu masuk dulu.


"Mari masuk dulu kek, maksud kakek anak ini ?" sambil mengantarkan si kakek ke ruangan Dirwan.

__ADS_1


"Iya ini cucu saya, bisa tinggalkan saya sendiri dengan anak ini" ujarnya si kakek.


"Iya kek boleh, saya permisi ke depan dulu" ranger, bejalan ke depan.


Kakek ini duduk di samping Dirwan sambil memegang kepala Dirwan yang sedang terbaring. Lalu kakek ini membacakan doa beberapa saat, dengan sendirinya luka itu sembuh secara instan dan darah yang ada di kepala pun bersih seketika.


"Sekarang kamu aman cu, lain kali jangan sembarang istirahat" ucapnya si kakek megelus kepalanya Dirwan.


Kakek ini langsung menghilang begitu saja tanpa ada orang yang lihat, setelah si kakek itu tidak ada, nafas Dirwa seperti tersedak sampai bangun langsung terduduk dengan tatapan mata kosong.


Ranger yang tadi ke depan kini kembali lagi untuk menawarkan minuman pada si kakek.


"Mas, loh udah sadar !!! kakek tadi kemana mas ?" tanya ranger yang kaget karena tidak melihat si kakek itu keluar.


Posisi Dirwan yag masih seperti itu tidak bergeming sedikitpun hanya tatapan mata kedepan dengan wajah pucat, namun setelah ranger menepuk pundaknya 3 kali langsung terperanjat kaku.


"Iya pak, saya harus cepat-cepat ke basecamp" ucapnya Dirwan sembari turun dari tempat tidur.


"Ini sudah di bascamp mas, masnya tadi pingsan" menarik tangan Dirwan.


Seketika Dirwan terdiam sejenak menatap ranger yang sedang memegang tangannya, padahal tadi pun ia sudah sadar dan menanyakan hal yang sama.


"Mas yang tenang, para ranger sedang menuju ke atas menjemput temannya mas, mas istirahat dulu saja disini" ujarnya ranger yang belum menyadari bahwa luka Dirwan sudah tidak ada bekasnya saa sekali.


"Pak boleh saya minum kopinya?" tanya Dirwan.


"Boleh mas, kan tadi masnya yang minta" jawabnya ranger.


Tanpa basa-basi lagi kopi yang masih panas langsung di minum sekaligus oleh Dirwan. Ranger yang melihatnya melongo terperangah.


"Kopinya masih panas mas" ujarnya ranger.


"Ngga kok pak, dingin malahan" jawabnya Dirwan.


Ranger yang mulai curiga oleh tingkah laku Dirwan yang tak wajar membuatnya bertanya-tanya dalam hatinya, sempat berpikir kalau Dirwan ini bukanlah manusia namun fisik nya nyata.


Pandangan Dirwan seketika pertuju pada sudut ruangan, ia melihat sosok nenek-nenek berdiri dengan rambut menutupi bagian wajah yang sedang memperhatikan ke arahnya.


"Pak itu nenek siapa?" tanya Dirwan sembari mengarahkan telunjuknya ke sudut ruangan.


"Disini ga ada nenek-nenek mas, ga ada orang lain juga" jawabnya ranger, merasakan merinding di sekujur tubuhnya ketika ia melihat ke sudut ruangan.

__ADS_1


Terlintas dalam benak ranger tentang mitos yang beredar disana ada sosok nenek-nenek yang sering meneror para pendaki yang sering di sebut nyi pelet.


"Itu beneran ada pak lagi melihat kearah kita" dengan posisi menunjuk seperti awal.


"Sudah mas jangan di tanggepin" ujarnya ranger.


Meskipun Dirwan mencoba mengabaikan sosok nenek itu, tapi tetap saja terlihat oleh matanya. Rasa takut dalam diri Dirwan mulai muncul sampai merinding.


Pada saat mengedipkan matanya, sosok nenek itu sudah menghilang dari sudut ruangannya.


Ranger yang sadar jika luka Dirwan sudak tidak ada ia langsung memegang kepalanya secara spontan.


"Lukanya ga ada" ucapnya pelan, ranger.


"Luka apa pak, saya sehat-sehat saja" sahutnya Dirwan yang mendengar ucapan ranger.


"Gapapa mas, kirain luka eh ternyata rambutnya mas" menutupi kejadian yang tadi sebelum Dirwan pingsan.


Mereka berdua mengobrol santai biar mencairkan suasana yang tadinya mencekam. Waktu sudah mulai sore sekitar jam 3 ashar, dirwan yang belum makan pun merasakan gejolak di perutnya.


"Pak disini ada warung yang jual makanan ngga ?" tanya Dirwan memegangi perutnya yang keroncongan.


"Ada mas, tapi mas nya makan aja disini, masih ada bnyak makanan disini juga, tinggal ambil aja apa yang masnya mau" jawbnya ranger.


Rasa lapar yang sudah tidak bisa di tahan lagi, dirwan pun mengiyakan tawaran ranger itu. Ranger itu mengantar ke dapur bersama Dirwan. Mereka makan bersama.


Disini lain, di kerajaan nyi pelet sedang duduk di singgasananya memantau keadaan Dirwan lewat wadah dari tanah yang berisikan air dan bunga-bunga.


"Sebentar lagi kamu akan jadi budakku" sambil tertawa lepas.


Rupanya nyi pelet sudah memilih Dirwan untuk di jadikan budak sejak ia menginjakkan kakinya di gunung Ciremai ini, tujuan nyi pelet memilih Dirwan untuk di jadikan budaknya tak lain hanya karena Dirwan tidak mempunyai sosok pendamping dalam tubuhnya dan mudah untuk di kendalikan.


Setelah memantau keadaan Dirwan, nyi pelet menyuruh anak buahnya untuk meneror Dirwan kembali, ia menyuruh siluman ular dan siluman bekicot.


"Kamu siluman ular ada tugas untukmu, kamu ganggu dia dan jangan sampai membahayakan nyawanya" ucapnya nyi pelet.


"Baik nyai" jawabnya siluman ular.


"Dan untuk kamu siluman bekicot, kamu saya tugaskan untuk melicinkan semua jalur" ujarnya nyi pelet.


"Baik ratu saya laksanakan" ucapnya siluman bekicot.

__ADS_1


Kedua siluman ini pun pergi meninggalkan kerajaan nyi pelet ini.


...****************...


__ADS_2