
Sementara itu siluman bekicot memulai aksinya melumuri seluruh jalur dengan lendirnya, namun lendir itu tidak bisa di lihat oleh kasat mata orang biasa.
Ranger yang sedang menjemput Andre dan Wahyu pun sempat merasakan imbasnya dari lendir yang sudah di lumuri sepanjang jalur.
"Jalannya licin sekali, padahal tidak hujan" ranger hampir terpeleset.
"Iyah sangat aneh banget, padahal sepatu khusus naik gunung pun masih terasa licin" ujarnya ranger.
Mereka berdua dengan susah payah terus berjalan meskipun sesekali hampir terjatuh namun menahan dengan sekuat tenaga agar tetap seimbang dalam berjalan.
Siluman bekicot yang selalu memantau pergerakan ranger agar terhambat perjalanannya, dengan tatapan licik dan jahat siluman bekicot segera menambahkan lendir yang lebih licin lagi.
"Rasain tuh jalanan licin, ga bakalan mungkin bisa cepat sampai ke tujuan. Hahahahah " tertawa jahat siluman bekicot.
Para ranger pun terus menyusuri jalur hingga memakan waktu yag sangat banyak karena sepanjang perjalanan sangat menyulitkan yang di akibatkan oleh siluman bekicot.
Disisi lain siluman ular yang di tugaskan untuk selalu melakukan teror kepada dirwan langsung saja pergi ke tempat dirwan dalam sekejap mata saja.
jlebbb..
Di basecamp di tempat Dirwan sedang istirahat, terdapat kursi panjang yang sering di gunakan oleh para pendaki untuk beristirahat dan disitulah Dirwan sedang merebahkan badanya yang terasa lelah sekali.
Belum sempat tertidur pulas hingga terlelap, Dirwan langsung membuka matanya menoleh ke arah kanan namun tidak ada siapa-siapa, ia merasakan seperti ada orang yang lewat di sampingnya namun ketika di lihat tidak ada orangnya.
Ternyata siluman ular yang sudah mulai meneror Dirwan untuk bertujuan melemahkan mental hingga jiwanya terganggu, namun karena Dirwan mulai terbiasa dengan hal-hal yang aneh pun cuek saja.
"Perasaan ada orang lewat tadi tapi ga ada siapa-siapa" ucapnya Dirwan dalam hati.
Setelah itu ia melanjutkan rebahan lagi mengelontorkan kakinya, namun belum juga kepalanya menyentuh kursi, kakinya ada yang narik.
sreetttt....
"Aduhhh sialan siapa sih" gerutu Dirwan.
__ADS_1
Jelas sangat mengagetkan sekali begitu kakinya di tarik, Dirwan refleks langsung duduk melihat kearah kakinya itu. Memang terasa sangat berasa sekali seperti di tarik oleh dua tangan yang teksturnya kasar bersisik.
Kemudian Dirwan menekuk kakinya untuk melihat kaki yang habis di tarik tadi, dia tercengang ketika melihat di bagian mata kakinya terdapat jiplakan merah bekas tangan yang menggenggam.
Tepat di hadapannya sosok siluman ular itu sedang berdiri sambil mentertawakan Dirwan yang sedang duduk melihat kakinya. Belum puas sampai disitu, siluman ular itu merubah wujudnya menjadi seekor lebah.
Dirwan yang melihat di depannya tiba-tiba ada lebah yang mencoba menyengat dirinya pun dengan jurus tangan seribunya ia mencoba untuk menepuk lebah tersebut, namun hal itu membuat dirinya celaka, lebah itu mengarahkan ekornya yang tajam seperti jarum dan beracun mengenai telapak tangan Dirwan.
"Awwwwww sakit!!!" teriak Dirwan kesakitan.
Ranger yang mendengar teriakkan Dirwan pun langsung menghampirinya.
"Kenapa mas teriak?" tanya ranger panik melihat tangan Dirwan yang memerah menonjol.
"Ini pak saya di sengat lebah" jawabnya Dirwan.
Siluman ular yang berhasil membuat Dirwan celaka merasa sangat senang hingga tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahh hahahaha" siluman ular tertawa.
Namun dirwan yang sedang kesakitan pun tidak bisa berbuat banyak.
"Waduhhh, yaudah mas sebentar saya ambil air hangat pake garam dulu" ucapnya ranger.
Ternyata sengatan lebah jadi-jadian itu bukan racun biasa, telapak tangan Dirwan yang semakin lama semakin membengkak dan memunculkan nanah menonjol di tangannya.
"Mas rendemin dulu tangannya" ranger sambil menaruh air di ember.
Dirwan langsung memasukan tangannya ke dalam ember berisi ari dan garam. Baru saja tangannya masuk sedikit kedalam air, dirwan merasakan getaran yang menjalar keseluruhan tubuhnya di iringi rasa panas dan gatal-gatal.
"Panas...panas!!!" teriak Dirwan.
"Gapapa mas berarti racunnya sedang bereaksi" ucapnya ranger.
__ADS_1
Dirwan memejamkan matanya hingga raut wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa, dengan nafas yang terengah-engah akibat menahan rasa sakit.
Secara tidak terduga dari telapak tangan yang di sengat lebah itu keluar belatung melalui bekas sengatan tadi. Bau busuk yang menusuk dada, terhirup oleh ranger yang berada di samping dirwan pun menutup kedua hidungnya namun percuma saja bau busuk itu masih tercium.
Sumber bau busuk itu rupanya dari belatung yang keluar dari telapak tangan Dirwan, tangan Dirwan menjadi mati rasa hingga sulit untuk menggerakkan jari jarinya.
Dirwan melotot membuka matanya lebar ketika pandangannya melihat belatung keluar dari telapak tangannya, ketika mencoba menarik tangannya, namun tidak bisa karena tangan tidak merespon perintah dari otaknya Dirwan.
Tak kehabisan akal, Dirwan menggerakkan badanya agar tangannya bisa keluar dari dalam ember tersebut.
Ranger yang sudah tak tahan dengan bau busuk itu berlari menuju kamar mandi, perutnya sudah mual rasanya ingin memuntahkan semua isi perutnya.
Jantung yang mulai berdebar tak karuan membuat rasa panik muncul dalam pikiran Dirwan, ia bingung harus bagaimana untuk mengobati ini.
Dari belakang basecamp datang kakek-kakek yang berjalan membungkuk membawa tongkat menuju Dirwan.
"Bismillahirrahmanirrahim" kakek itu membaca doa.
Tanpa basa basi lagi tongkat yang di pegang si kakek itu di ayunkan hingga mengenai tangan Dirwan yang terluka.
Sambil teriak kesakitan Dirwan merasakan ada yang berjalan dari pundaknya menuju telapak tangannya, namun ketika ia melihat yang ia rasakan, seperti ular yang berjalan di dalam kulitnya yang membuat perih hingga Dirwan meringis kesakitan.
"Awwwww tolong sakit" teriak sekencang-kencangnya, Dirwan.
Ular itu keluar dari bekas luka yang di sengat tadi dengan panjang hampir dua meter dengan sisik hitam legam. Si kakek yang melihatnya pun langsung menebaskan tongkatnya ke arah kepala ular itu hingga hancur menyisakan bagian badan hingga ekornya saja.
"Sudah kamu aman nak, lain kali hati-hati jangan tidir sembarangan" ucapnya si kakek.
Tangan dirwan yang tadinya sakit, seketika sembuh total tanpa bekas luka sedikitpun dan jiplakan di kakinya pun menghilang. Ular yang sudah di bunuh oleh si kakek tiba-tiba mengeluarkan asap hingga tidak ada bangkai ular tersebut.
Dirwan yang melihat tongkat yang di pakai si kakek langsung saja teringat pada tongkat Andre yang selalu di bawanya. Belum sempat untuk berterima kasih pada si Kakek itu sudah tidak ada sampai Dirwan mencari ke sekeliling basecamp pun tidak menemukan jejak si kakek itu.
Dalam diri Dirwan sangat banyak pertanyaan tentang sosok kakek tua itu dan kenapa tongkat itu bisa di bawa oleh si kakek, semua itu masih jadi pertanyaan untuk Dirwan.
__ADS_1
...****************...
...----------------...