
"Anak anak, ini kamar untuk para gadis dan ini kamar para aktor ganteng, heheehh
Kamipun tertawa saat mendengar candaan pak Bambang.
"Makasih pak.
Kata kak Natan
Kamipun masuk dikamar masing masing, kamar kami berhadapan dengan kamar kak Angga. Hanya lorong yang memisahkan.
Setelah merapikan barang, aku hendak keluar untuk cari udara segar. Sedangkan kak Nisa sam lisa, istirahat didalam kamar.
Aku melihat pemandangan desa ini sangat menakjubkan, enak banget disini, gak berisik seperti dikota.
"Eh nak Ayu, kenapa diluar, tidak istirahat?
Kata pak Bambang.
"Eh ngak Pak, saya sedang mau keluar untuk lihat lihat pemandangan desa, kan dikota gak ada pemandangan kayak gini, heheheh.
"Kalau begitu hati hatiya nak, jangan jauh jauh, kan Nak Ayu belum tahu jalan.
"Iya pak, kalau begitu saya pergi dulu.
Aku hanya menyalami tangan Pak Bambang dan pergi untuk melihat lihat desa.
Ini adalah kesempatan untuk refresing, karena pasti besok sibuk dengan kegiatan.
Aku sangat senang di sini, entah kenapa, baru beberapa jam disini, tapi rasanya aku sudah nyaman di desa ini.
Akupun mengambil kameraku dan mengabadikan moment ini, banyak gambar yang sudah aku ambil, ada anak anak yang bermain, warga yang bekerja disawah dan ladang, dan masih banyak lagi. Wah disini sangat keren.
"Hujan? Iya ini hujan.
Dalam perjalanan pulang aku kehujanan, karena sekarang emang musim hujan. Untung saja aku melihat ada perteduhan disana, seperti pos ronda tapi kayaknya tak terurus, dan aku bertedu disana, rasanya dingin, sepi, sendirian.
Aku duduk dan hanya melihat kelangit yang sedang menurunkan hujan. Rasanya indah banget lihat pemandangan disini.
Tapi lama kelamaan hujan semakin deras, petir menyambar dengan keras, dan terciptakan suara yang sangat menyeramkan bagiku
"Aaaaa...
Aku terkejut melihat petir itu, dari kecil aku sangat takut dengan petir. Rasanya aku ingin nangis, aku sendirian disani, ketakutan, keringatku berceceran padahal sedang kedinginan.
"Ibuuuuu...... Aku takut.
Aku hanya menutup mata, dan menutup telingaku, sambil bersandar ditiang, tak lama air matakupu jatuh, entah sekarang aku sangat takut, pakainku sudah basah karena pos ronda ini tidak mempunyai dinding, hanya dilengkapi atap jerami, angin kencang menyerang tubuhku membuat badanku menggigil.
__ADS_1
***
Saat itu Pak Bambang duduk di teras rumahnya, sambil meminum kopi pahitnya.
Dan kak Natanpun keluar lalu duduk didekat pak Bambang.
"Enak Pak kopinya, hehehehe
Pak Bambang hanya tertawa melihat kak Natan
"Ada ada saja kamu, Kamu tidak istirahat?
"Saya tadi sudah tidur ko pak.
"Kamu mau teh, kopi atau semacamnya, nanti bapak buatin.
"Eh gak usah pak, gak usah repot repot.
Ujar kak Natan.
"Teman teman kamu mana?
"Masih tidur pak, kecapean mungkin.
"Kalau nak Ayu udah pulang?, soalnya tadi dia minta isin keluar sama bapak, lalu sekarang hujannya sangat deras.
Ujar kak Natan, dari nada bicaranya sepertinya kak Natan sedang khawatir.
"Iya, tadi minta isin sama bapak, katanya mau lihat pemandangan desa.
Kak Natan langsung berlari keluar dari rumah.
"Eh... Nak Natan, mau kemana? Aduh itu anak kok tidak bawa payung sih, kan saya cuma bertanya apa nak ayu sudah pulang atau belum?
Kemudian Pak Bambang mencari Ayunda didalam rumah, dan memang Ayunda belum pulang, pak Bambang terlihat khawatir.
Apa Nak ayu kehujanan?
Semoga baik baik saja, karena nak ayu sudah pergi lumayan lama.
***
"Aduuhh... Lo bikin repot aja, Yundaaa lo dimana?
Teriak Natan sambil berlari.
Memang desa itu sangat sepi, hanya ada beberapa penduduk didesa itu, dan lagi desa ini hanya dihiasi dengan sawah, ladang yang luas. Ini sudah jam setengah enam sore tapi Natan tidak kunjung menemui Ayunda.
__ADS_1
"Dasar bodoh, udah tahu gak tahu jalan malah keluyuran lagi.
Sambil berlari Natan basah kuyup, sebenarnya Natan sangat tidak suka dengan hujan.
"Bukannya itu Yunda? Iya bener itu si bocah merepotkan.
Natanpun berlari mendekati Ayunda yang sedang ketakutan itu.
Cuacapun sangat tidak mendukung, semakin lama hujannya semakin deras saja.
"Heh.. Yunda
Panggil Kak Natan sambil pegang pundak aku.
Entah kenapa saat melihatnya, akh merasa legah, spontan aku memeluknya karena merasa sangat takut. Kak Natan terkejut dengan kelakuanku, tapi Kak Natan tidak menolak pelukanku, malahan dia membalas pelukanku dan bilang.
"Jangan takut! Aku sudah ada disini, kamu akan baik baik saja.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, rasanya dia seperti malaikat yang dikirimkan tuhan . Aku kira dia itu senior yang judes, dan gak punya belas kasih, ternyata aku salah.
Eh tapi kenapa kak Natan ada disini? Inikan sedang hujan deras, masa dia keluar untuk berjalan jalan.
Tak lama kak Natan menyelimutiku dengan jaketnya, aku hanya tersenyum melihat kelembutannya,
"Jangan senyum bodoh, sekarang kamu sedang dalam masalah.
Ketusnya sambil memelukku kembali.
Aku hanya gak kepikiran dengam sikapnya yang seperti bunglon, kadang judes kadang kembut. Spontan aku melepaskan pelukannya karena geram dengan kalimatnya barusan, tapi dia menarikku kembali kedalam pelukannya, aku sangat terkejut dengan sikapnya.
"Jangan bergerak, tetaplah seperti ini!
Ujar kak Natan
Aku hanya heran dengannya yang berubah ubah, dia menuturkan kata katanya dengan lembut, seakan tak ingin melepaskanku, apa kak Natan sedang khawatir? Aaaaaa yakali senior judes ini khawatir sama aku.
"Kenapa?
Ujarku
.
.
.
Bersambung
__ADS_1