
Sudah seminggu kita di desa ini, gak terasa semuanya begitu cepat berlalu, rasanya ingin berlama lama di desa ini.
Udara pagi di desa ini benar benar sangat sejuk dan segar, tidak bising karena suara kendaraan seperti di kota, hanya nyanyian burung yang menghiasi pagi di desa ini, embun yang menyelimuti daun dan rerumputan membuat pemandangan jauh lebih indah.
"Eh Yun, ternyata kamu disini, aku tadi cari cari kamu tahu, kenapa pagi pagi gini udah diluar?
Tanya Lisa
"Enggak, cuman mau hirup udara segar aja. Gak terasaya kita udah seminggu didesa ini.
Ujarku seraya menatap langit birunya pagi ini.
"Mmm, begitulah, disini tenang banget ya Yun, gak kayak di kota, ributnya minta ampun, apa lagi kalau udah berhadapan dengan macet, ampun deh..
Ujar Lisa seraya memukul jidatnya itu.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya itu.
"Ada ada aja kamu.
Ujarku, kamipun tertawa bersama.
Di desa ini, aku merasakan persahabatan, kekeluargaan dan kemanusiaan, rasanya adem, nyaman, gak ada beban disini. Hanya saja kalau bertemu dengan pasien yang banyak komplen, bebannya minta ampun.
"Eh Yunda, lisa, ngapain pagi pagi diluar, dan mana pak Bambang?
Ujar kak Nisa.
"Pak bambang lagi ke kantor camat kak, katanya ada urusan.
Ujarku
"Kalau gitu yu sarapan dulu.
Ujar kak Nisa.
Kami bertigapun masuk untuk sarapan. Pagi itu kita hanya sarapan roti selai kacang dan susu, karena kemarin gak sempat untuk beli stok makanan.
Setelag sarapan, kamipun bergegas untuk ke puskesmas desa ini, dan kami hanya menjalankan aktifitas seperti biasa, memeriksa pasien, kak Natan dan Lisa pergi ke rumah penduduk desa untuk konsul kesehatan. Sedangkan aku, tugasku hari ini adalah memeriksa perlengkapan dan stok obat.
"Kak Aldo, ada beberapa obat yang hampir habis.
Ujarku seraya memberikan catatanku ke kak Aldo.
"Mmm banyak juga ya.
Ujar kak Aldo
Aku hanya menggukkan kepalaku seraya mengiyakan.
" Kak Natan dan lisa udah pulang?
__ADS_1
Tanya kak Aldo
"Belum kak
Ujarku
"Kalau gitu sentar sore kamu temani akuya buat beli beberapa obat yang hampir habis.
Ujar kak Aldo.
Apaa? Pergi berdua bareng kak Aldo, gak salah tu.
"Kenapa? Gak mau ya?
Tanyanya
"Eeh ngak kak, aku mau ko.
Ujarku seraya menggelengkan kepalaku dengan cepat
Ya kali aku gak mau pergi bareng kak Aldo.
****
Di rumah
"Kak Aldo sama Yunda mana?
"Yunda pergi bareng Aldo beli beberapa obat yang hampir habis.
Ujar kak Nisa
"Oooooh
Ujar lisa seraya menganggukkan kepalanya.
"Tan, lo udah konsul berapa tempat tadi?
Tanya kak Angga
"5
Ujarnya singkat
"Wadidaw banyak amat, pantas aja muka Lisa udah kayak belut aja.
Ujar kak Angga dan disusul oleh tawaan kecilnya itu.
"Apaan sih kak Angga, kecil kecil imut gini, aku kuat ko.
Ujar Lisa dengan ekspresi membanggakan dirinya itu.
__ADS_1
"Idih apaan imut, kalau kecil dan pendek sih iya.
Ujar kak angga seraya mengejek.
Kak angga, kak Natan, dan kak Nisa pun tertawa melihat ekspresi kecewa Lisa.
"Aaaa kak anggaaaa
Rengekan Lisa.
****
Lain denganku, saat ini aku melihat kak Aldo sedang mengambil beberapa obat. Rasanya aku teriak karena sangat bahagia melihatnya dengan puas.
Walau aku hanya bisa melihatnya dari jauh dengan tatapan sepertu ini, tentu saja aku tidak birani menatapnya seperti ini secara dekat, bisa bisa dia jadi risih karena tingkahku.
"Kamu kenapa? Ko melamun.
Uajar kak Aldo
"Eehh ngak kak, gak papa ko
Ujarku sambil menundukkan kepalaku.
"Kamu udah ambil semua yang kita perlukan?
Tanya kak Aldo
Aku hanya menganggukkan kepalaku
"Kalau gitu ayo bayar dan pulang, aku cape banget Yun.
Ujar kak Aldo
Waaa ko kak Aldo curhat ya? Apaan sih Yun baru gitu aja udah senengnya minta lagi😄.
Setelah urusan dengan kasir selesai kamipun langsung pulang ke rumah. Saat diatas motor aku hanya diam, dan sesekali melihat wajah kak Aldo dikaca spion motor.
Ketika aku tak dapat menyentuhmu, aku hanya bisa menatapmu dari jauh, dan mencintaimu dalam diam.
Kak Aldo, terima kasih, terima kasih sudah baik kepadaku, walau hanya sebatas kaka adik, tapi ini sudah menjadi impianku sejak dulu, dan sekarang impianku sudah terwujud, terima kasih.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1