
**Terkadang memendam adalah pilihan satu satunya agar semua terlihat baik baik saja
Jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini.
Hanya bisa menutup luka. Menahan api cemburu. Memendam rasa kecewa, karena mau marahpun, aku sadar, aku siapa**?.
Selama setahun ini, aku hanya bisa melihatmu dari jarak jauh, enggan rasanya untuk mengenalmu lebih dalam, tapi jujur kau adalah Cinta pertamaku.
Tak terasa, ini adalah hari terakhir Kak Aldo di sekolah ini, rasanya tak sanggup melihatnya pergi. Sudah 2 tahun aku memendam perasaanku seperti orang tidak waras.
Aku tak tahu, ia akan melanjutkan sekolahnya dimana, karena aku pernah mendengar dia ingin menjadi seorang Dokter ahli beda, itu adalah cita cita sejak dari kecil. Awalnya aku kecewa, karena aku ingin menjadi seorang pelukisa hebat dan terkenal.
Apa hubungannya dengan kuu? Dia yang mau jadi seorang dokter, kok aku yang sedih sih, seharusnya aku seneng. Tapi rasanya sangat susah, aku berharap aku bisa satu sekolah lagi dengannya, melihat senyumnya dari balik pohon sudah sangat berarti buatku.
Tak terasa 1 tahunpun berlalu, ini adalah hari pelulusanku. Aku sangat bahagia namun aku juga merasa sedih karena akan berpisah dari sahabatku.
Linda yang akan melanjutkan sekolahnya diluar negeri, dan Nur akan melanjutkan sekolahnya diluar kota. Ini adalah hari hari dilemaku, aku bingung ingin melanjutkan sekolah dimana, 1 minggupun berlalu, keputusanku sudah bulat, aku memilih untuk melanjutkan sekolahku di sekolah yang Kak Aldo daftari dulu.
Ini memang gila sih.
Dan walnya aku ragu, tapi rasanya aku rindu, sudah lama aku tidak melihatnya. Entah kapan perasaanku akan pudar.
__ADS_1
"Ibu, ayah, aku akan melanjutkan sekolahku di universitas X, dan mengambil jurusan kedokteran.
Jelasku singkat dan langsung melahap roti bakar berselai kacang didepanku itu.
Sejenak ayah dan ibu kaget dengan keputusanku. Bagaimana tidak, ayah dan ibu tidak pernah kefikiran akan keputusanku sekarang. Ia hanya berfikir aku akan mengambil jurusan seni lukis, karena itu kesukaanku.
"Sayang, kamu serius?
Tanya ibu
"Mmm iya Bu, aku serius.
Tegasku.
Kata ayah sambil meminum kopinya itu.
Awalnya aku memang ingin mengambil jurusan itu, tapi ingin satu jurasan dengan kak Aldo.
Saat keputusanku sudah bulat, aku memanfaatkan waktu dengan baik untuk belajar tentang kedokteran, mulai dari hal yang paling terkecil.
Ibu dan ayah yang melihat keseriusanku itu, ia langsung mendukung keputusanku, walau sebenarnya ia tidak tahu alasanku yang sebenarnya.
__ADS_1
Kamu tak pernah melihatku, kamu tidak pernah merasakan diriku, tapi aku akan selalu mencintaimu secara diam diam disini.
Akhirnya hari itupun tiba, dengan ketekunanku belajar, dan tekadku, aku lulus untuk masuk di univ itu dan mengambil jurusan kedokteran.
Akhirnya aku menjadi seorang mahasiswi, rasa bahagia mendaki perasaanku, aku sudah tidak sabar ingin melihat Kak Aldo.
Rasanya aku seperti seorang anak yang mendapatkan isinkan dari ibu untuk keluar bermain bersama teman.
Hai kau yang disana, apa kau tahu? Aku sedang mencari jejakmu dengan garis lengkung yang tanpa bosan menemani semanagtku ini.
Aku berharap, aku bisa memiliki hubungan yang lebih baik dari pada sebelumnya, seperti teman atau sekedar kakak beradik, benar kata Linda dan Nur, aku harus mempunyai peningkatan dan maju. Walaupun itu hanya sekedar saling sapa.
Kak, entah sampai kapan aku akan memendam rasa ini, aku tidak tahu, apa nanti aku akan mempunyai keberanian saat melihatmu, sudah setahun lebih aku tidak melihatmu.
Akan Kubuka kembali lembaran baruku disini, untukmu yang disana.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung