
Saat aku terbangun, ternyata kak Natan sedang tertidur dimeja belajar, masih menemaniku rupanya, kasihan.
Akupun beranjak dari kasurku dan hendak membangunkan Kak Natan karena ini sudah waktunya makan siang, rencananya aku akan buatkan Kak Natan makanan siang sebagai tanda terima kasihku.
"Kak Natan.
Ketusku seraya membangunkan kak Natan, tapi aku gak berani megang, soalnya takut kak Natan risih, karena kak Natan gak suka disentuh sama orang lain.
Pucat amat? Atau hanya perasaanku saja?
Tapi kayaknya kak Natan bener bener pucat deh.
Gumamku
"Kak Natan.. Kak... Kok gak bangun bangun sih? Apa kak Natan sakit?
Spontan aku memeriksa suhu badan kak Natan dengan menyentuh dahinya, dan memang benar suhu badan kak Natan sangag panas.
"Kak Natan demam? Kak... Kak Natan
Tak gak ada sahutan dari kak Natan.
Aku panik dong karena lihat kak Natan demam, mana hanya ada kita berdu lagi di rumah, aduh gimanani?
"Kak Natan?
Perlahan kak Natan membuka matanya dan langsung berdiri, spontan akh terkejut dengan sikapnya itu.
"Apaan sih brisik amat.
Ketus kak Natan
"Kak Natan pucat.
__ADS_1
Hanya itu yang bisa aku katakan ke kak Natan, aku melihat ekspresi kak Natan sedang memperhatikanku, sepertinya dia memikirkan sesuatu deh.
"Aku mau kekamar.
Ketusnya sembari keluar dari kamarku.
Ada apaya sama bunglon itu? Aaiiss kurasa percuma saja aku mengkhawatirkannya. Lebih baik aku pergi masak aja, pasti kak Natan laper sekarang.
Saat didapur dan asik masak, aku mendengar suara pecahan kaca, itu dari arah kamar kak Natan. Karena panik mendengar suara itu, aku berlari kearah kamar kak Natan dan masuk tanpa isin, saat itu mataku langsung melihat posisi kak Natan sedang terbaring dilantai sisi ranjang, dan aku melihat serpihan kaca.
"Kak Natan... Kak Natan kenapa?
Ujarku sembari menghampiri kak Natan
Ini pingsan atau apa?
Gumamku.
Ketusku, tapi aku melihat kak Natan tetap tidak memberi respon, apa bener kak Natan sedang pingsan sekarang? Aku langsung menyentuh dari kak Natan seraya memeriksa suhu tubuhnya, dan benar kak Natan sedang demam sekarang, suhu tubuhnya lebib panas dari yang tadi. Aku hanya membantu kak Natan untuk berbaring diatas tempat tidur,
"Kak Natan ko berat amat si?
Ketusku sambil membantunya naik ketemlat tidur.
Nafas aku sangat berat, efek jarang olahraga nih, baru segini aku udah ngosngosan.
Saat itu aku hendak keluar mengambil handuk dan air hangat untuk menurunkan suru badan kak Natan, tapi tiba tiba kak Natan pegang tangan aku, saat itu aku terkejut dengan sikapnya.
"Jangan pergi!
Ketusnya sambil menutup mata.
"Gak kak, aku cuma mau ambil air hangat sama handuk buat ngompres kak Natan.
__ADS_1
"Gak usah, aku baik kok, tadi udah minum obat.
Ujarnya dan menarikku keatas tempat tidur, aku sangat heran dengan sikapnya ini,
"Eehhh kak Natan.
Ujarku
"Aku mohon, tetaplah seperti ini, sekali ini saja.
Ujarnya sambil memeluk pinggangku. Posisiku sekarang sedang duduk dipinggi kasur, tapi kak Natan tidur sambil memelukku. Awalnya aku sangat heran kenapa tiba tiba kak Natan bersikap seperti ini, mungkin karena dia sedamg sakit,
Kenapa ni orang? Aduuhh... Ternyata kak Natan orangnya manja juga. Tapi badannya panas banget.
"Kak kalau gak dikompres nanti demamnya semakin tinggi.
Ujarku
Tapi kak Natan gak ngomong apa apa, malahan hanya memperkuat pelukannya itu, sepertinya dia membutuhkanku sekarang. Kasihan juga sih lihatnya sedang sakit.
Aku hanya mengusap kepalanya itu sampai ia tertidur, untuk membuatnya tenang, kasihan juga melihat kak Natan kaya gini, tapi tadi baik baik aja ko, ko tiba tiba bisa kayak gini?
Kumohon, tetaplah seperti ini! Sekali saja, dan aku takkan memintanya lagi :)
Gumam kak Natan.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1