Mencitai Sendirian

Mencitai Sendirian
Matahari terbenam


__ADS_3

Memang sangat perih mencintai seseorang dalam diam, kita hanya bisa melihat senyumnya dari jauh dan meliriknya penuh harap bahwa ia meniliki perasaan yang sama kepada kita. Meski berat dan kadang membuat kita sedih, namun beberapa orang memilih cara ini, entah apa yang dipikirkan mereka, meski terkadang ada rasa hendak mengungkapkan perasaan kita, namun dihati masi takut dan bimbang.


Sudah 3 minggu berlalu, kami menghabiskan waktu di desa indah ini, tinggal seminggu lagi kita akan berpisah dengan tempat indah ini dan berjumpa kembali dengan kota yang macet disana.


" Kak, ko Yunda belum pulangya? Inikan udah hampir magrib.


Kata Lisa


Saat itu semua orang terkejut mendengar perkataan Lisa barusan, kareka mengira aku sudah sejak tadi ada di rumah.


"Emang Yunda kemana? Bukannya tadi pulang duluan sama kamu?


Ujar kak Natan


"Iya Lis, tadikan Yunda pulangnya sama kamu.


Kata kak Nisa


"Ada apa?


Kata Bu Sri melihat kepanikan mereka


"Yunda belum pulang bu, padahal sudah sore.


Ujar Lisa


"Coba telfon bapak, mungkin Yunda ada di kantor bapak.


Kata bu Sri


Saat itu Lisa mengambil telepon genggamnya dan menelfon Pak Bambang


Telepon tersambung


"Assalamualaikum Halo Pak, Apa Yunda ada disitu bareng bapak?


Ujar Lisa bertanya kepada Pak Bambang


"Enggak nak, Yunda gak ada disini, emang kenapa?


Tanya Pak Bambang


"Yunda tadi pergi katanya ada urusan sebentar, tapi sampai sekarang belum pulang pak.


Ujar Lisa khawatir


"Kalau gitu, setelah pulang nanti bapak cari Ayunda ya.


Ujar Pak Bambang


"Iya pak


Kata lisa menutup teleponnya itu.


Setelah menelpon Lisa menjelaskan kalau Yunda tidak bersama Pak Bambang.

__ADS_1


"Aku pergi cari anak itu dulu.


Ujar kak Natan seraya keluar mencariku.


****


Ni anak merepotkan banget sih, ini untuk yang kedua kalinya dia buat kesalahan yang sama.


Yun kamu dimana sih, awas kalau ketemu, aku akan remukin kamu berkeping keping.


Lama mencari, kak Natanpun menemukanku sedang berdiri dipinggi danau.


Ternyata kamu disini rupanya, buat orang khawatir aja.


"Heh kamu ngapain disini? Gak tahu kalau aku sedang khawatir sekarang.


Ketusnya


Khawatir? Kak Natan khawatir? Ke aku?


Lamunanku buyar karena omelan kak Natan


"Maksud aku, semua orang khawatir sama kamu, kenapa masih disini? Pulang sana!


Ketusnya


"Maaf kak, aku gak bilang kalau mau nunggu matahari terbenam hari ini, soalnya aku pernah lihat matahari terbenam sangat indah disini, jadi aku mau ambil gambarnya soalnya tinggal seminggu kita di desa ini.


Ujarku tersenyum melihat pemandangan desa ini.


"Kamu suka tempat ini?


"Iya


Ujarku seraya duduk beralaskan rumput ditepi danau, dan kak Natan menyusul dan duduk pas disampingku.


"Kamu tahu Yun, saat kecil dulu, ibu dan ayah suka ajak aku lihat matahari terbenam dipantai, rasanya seneng banget punya keluarga kecil yang bahagia, tapi saat ibuku meninggal semuanya berubah, gak ada lagi makan bareng, lihat matahari terbenam bareng, mancing bareng.


Ujar kak Natan seraya menatap langit yang mulai berwarna jingga itu.


Aku hanya heran melihat sikap lembutnya itu, pantas saja dia memiliki sikap dingin dan tertutup, mungkin kak Natan sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Dan kenapa kak Natan ngomong gitu ke aku? Aku hanya menatapanya dari arah samping, terlihat wajah tampan dan judesnya itu lenyap seketika berubah menjadi wajah tampan yang penuh dengan hangat, mungkin kak Natan sedang merindukan sosok ibu dan keluarga kecilnya yang bahagia.


"Sekarang aku hanya punya Angga, dia temanku sejak kecil, Angga sudah seperti keluargaku.


Ujar kak Natan "eh maaf, ko aku malah jadi curhat sih.


Ujarnya seraya menatapku, dan saat itu aku juga sedang menatapnya, pandangan kita saling bertemu, langit jingga menyelimuti keheningan kita berdua, sepertinya perasaanku jadi aneh setelah mendengar isi hati kak Natan barusan.


"Eh ngapain lihat aku gitu amat? Aku tahu aku ganteng, tapi aku gak kasi isin buat Kamu lihat wajahku yang mahal ini.


Ujarnya sambil mencentil dahiku dengan jari telunjuknya itu.


"Aduuhh,


Ujarku meringis dan melihat tajam kearah kak Natan

__ADS_1


Kurasa ucapanku tentang kelembutan kak Natan tadi salah, dia gak ada lembut lembutnya sama sekali.


"Apaan ganteng, biasa aja


Ketusku


Kak Natan hanya tersenyum dan kembali melihat mataharu terbenam yang indah itu.


"Wah indah banget ya kak


Ujarku


"Mmmm


Ujar kak Natan.


Ini adalah pertama kalinya aku menikmati indahnya matahari terbenam dengan perempuan selain ibu. Ibu aku sangat merindukan sosokmu , apa kabar disana bu?, tenang Bu, anakmu disini baik baik saja ko, Natan udah menyukai seseorang Bu, dia mirip banget sama ibu, anaknya periang, cantik, baik seperti ibu, tapi dia agak bandel sih bu, dia juga jago masak kayak ibu.


Gumam kak Natan


"Kak kita foto dulu yu!


Ujarku seraya mengarahkan kamera untuk memotret kami berdua, dan menarik lengan kak Natan, moment ini terasa sangat berharga buatku.


"Eeeh.


Ujar kak Natan karen terkejut


Cekret.. Cekret..


Beberapa fotopun sudah aku ambil, kelihatannya kak Natan seneng banget, syukur deh kalau kak Natan terhibur.


"Yu pulang, nanti keburu malam.


Uajr kak Natan. "Makasih ya.


"Makasih apa kak?


Tanyaku


"Makasih udah mau lihat matahari terbenam sama aku tadi.


Ujarnya


"Oo itu, iya kak, malahan aku yang berterima kasih, kak Natan udah temani aku tadi.


Ujarku tersenyum lebar.


Kak Natanpun membalas senyumanku itu.


Entah apa yang aku rasakan sekarang, Rasanya seneng banget saat kak Natan curhat tadi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2