
Seperti itulah aku, aku yang tidak tertarik dengan hal hal seperti itu. Dimana masa SMAku hanya seperti kaca yang bersih tanpa noda yang menemani kesunyiannya, tidak ada warna yang menghiasi masa remajaku saat itu. Aku hanya mengerti belajar dan belajar, aku tidak mengetahui apa itu perasaan lebih, seperti yang dialami oleh teman temanku.
Tapi saat kejadian waktu itu, aku merasa ada yang aneh, walau hanya beberapa detik bertatapan mata dengannya , itu sudah membuatku merasakan hal yang tidak biasa, entah kenapa?, aku merasa ada yang ganjal, tapi aku tidak peduli sih, belaunnya waktu akupun sadar, ternyata aku memiliki perasaan kepada cowok itu. Sudah 1 tahun, aku hanya melihatnya dari jauh, melihatnya tersenyum gembira bersama teman temannya yang lain. Awalnya, saat kejadian dikantin dulu, aku berusaha untuk tidak peduli, tapi mengapa rasanya susah untuk tidak memikirkannya.
Perasaan perasaan ini tidak mau pergi dari hati ini, aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bahagia ketika mengingatnya.
Brukk
"Aduh...
Aku meringis kesakitan, buku buku ku juga terjatuh dari genggamanku, rasanya sangat sakit, kepalaKu serasa sangat berat, kenapa ya? Ternyata bola basket sudah mendarat dikepalaku.
"Kamu tidak apa apa?
Aku mendengar suara yang sengat lembut.
Kamu tidak apa apa? Itu yang kudengar dari mulut orang itu. Saat aku mengangkat wajahku, ternyata dia, Kak Aldo? aku tidak percaya bisa melihatnya sangat dekat untuk yang ke dua kalinya, setelah kejadian 1 tahun yang lalu saat dikelas waktu itu. Jantungku serasa ingin loncat keluar dan memberi tahunya jika aku sudah hampir kehabisan nafas melihatnya sangat dekat dengan wajahku. Akupun langsung mendorongnya untuk agak lebih menjauh. Aku gugup karena kejadian barusan.
"Ee.. E.. Ngak kak, gak papa kok.
Akupun berdiri, dan membersihkan pakaianku, aku hanya menunduk terus, karena malu untuk menatapnya.
Kak Aldo membantuku merapikan buku buku ku dan menaruhnya di atas kursi taman sekolah.
"Maaf, tadi aku tidak sengaja.
Kak Aldo hendak menyentuh pundakku, tapi aku mundur dengan cepat, dan mengambil bubu buku ku dan pergi menjauh. Aku tidak punya keberanian untuk berada dekat dengannya.
"Gak papa kak, kalau begitu saya pergi dulu.
Akupun langsung pergi, karena salah tingkah.
Ekspresi kak Aldo langsung berubah dengan sikapku tadi, bagaimana tidak, dia hanya ingin membantu dan meminta maaf, Tapi akukan malu, jika aku berada disana terus, pasti mukaku langsung berubah menjadi kemerahan seperti marmut merah jambu.
Maaf kak, jika sikapku membuat kak Aldo bingung, tapi aku tidak punya kekuatan berada didekat kakak dengan waktu yang lama.
Aku memang bodoh, seperti orang kehilangan akal jika melihatnya.
Sampai detik ini setidaknya aku tahu gimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian, selama setahun lebih.
__ADS_1
Aku kira, aku gak akan ngalaman masa ini, diusia sekarang, tapi ternyata tidak. Benar kata orang orang, masa remaja adalah masa masa yang sangat penuh warna.
Aku hanya bisa menatapmu dari jauh kak, melihat senyummu bersama orang lain. Itu sudah cukup bagiku.
Sesekali kucuri pandangan dari dalam kelas, melihatmu bermain dengan bola basketmu. Sepertinya kau sangat suka dengan basket kak, aku harap aku bisa terus melihat senyum kakak, walau itu hanya dari jauh.
"Eh Yun, kamu kenapa? Kok jidat kamu memar gini?
Tanya Linda khawatir sambil memegang jidatku.
"Ngak Lin, tadi aku kena bola basket.
"APA? Siapa yang berani ngebully kamu tanya sama aku!.
Ancaman Linda sambil marah marah tidak jelas kaya orang kehabisan nafas aja.
"Apaan sih Lin, tadi kak Aldo gak sengaja lempar bola basket kearahku.
Ketusku kepada Linda sambil membuka bukuku.
"APAA?
"Apaan sih Liiin. Udah deh aku mau belajar dulu.
"Yun beneran kamu ketemu sama kak Aldo?
"Iya.
Ketusku
"Jadi gimana?
Tanya linda
"Gimana apanya?
"Yaelah Ayunda.. Kamu itukan suka sama kak Aldo udah lama, masa kamu gak ada peningkatan sih, berani dikit kek.
"Eh Lin, jangan keras keras dong, nanti ada yang dengar tahu.
__ADS_1
Tanganku langsung mendarat dimulut Linda yang cerewet itu.
"Kamu sih, kamu itu gak cape lihat dia sama orang lain, setidaknya kamu kasi tahu perasaanmu itu.
"Kamu gilaya Lin, aku tuh cewek, dan lagi, mana mungkin kak Aldo mau sama aku, palingan dia cuman ketawain aku doang, pasti ujung ujungnya aku yang malu, Orang aku berbanding terbalik sama dia.
Akupun merasa sedih dengan omonganku sendiri.
"Ya.. Trus gimana dong, kamu gak sakit apa kayak gitu terus?
"Udah Lin, mending kamu duduk, sentar lagi guru udah masuk, kamu gak inget hari ini kita ulangan harian tahu.
"Oh iyya ya... Aku lupa, nyontek ya Yun.
Linda tersenyum manis kepadaku, aku hanya mengertutkan bibirku.
"Dasar kamu, kalau nyontek aja cepet.
Linda hanya terkekeh dengan ucapanku.
Kelaspun berakhir, hari ini adalah hari sangat panjang dan melelahkan.
Bel pulangpun berbunyi.
Aku pun berpisah dengan Nur dan Linda digerbang sekolah, karena arah jalan menuju rumah kami memang berbeda.
"Sampai jumpa besok Yun.
Kata linda dan Nur.
Aku hanya tersenyum dan meninggalkan kedua sahabatku itu.
Indahnya punya sahabat seperti mereka.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung