
Pagi itu setelah Ayu membantu Dimitri berpakaian, Daniel datang menjemput sang Bos bertepatan dengan itu Dimitribtengah memakan cake red velved buatan sang Istri dilengkapi dengan segelas kopi hangat.
"Pak Daniel, ayo masuk sarapan dulu. Mas Dimitri masih sarapan, ayo ikut serta." kata Ayu begitu melihat Daniel memasuki ruang makan.
Dengan cepat, Ayu mengambil piring kecil dan memotong kue yang dibuatnya tadi pagi. Setelah itu dia kebelakang untuk menyiapkan bekal yang dimasukkan kedalam paper bag kecil yang tampak indah dipandang mata.
"Mas, ngak papakan kalau kamu bawa bekal?" tanya Ayu pada sang Suami.
"Iya Sayang ngak masalah, makasih ya." kata Dimitri seraya tersenyum.
Melihat bagaimana ramahnya Dimitri dengan Ayu membuat Daniel mengerutkan keningnya bingung.
''Apakah ini masih Bosnya yang galak dan anti perempuan? Bagaimana bisa semanis ini pada Gadis yang bahkan dengan sangat terpaksa dia nikahi?" tanya Daniel dalam hatinya.
Tidak ingin salah bertanya Daniel memilih bersantai saja. Jika dia menanyakan begitu banyak pertanyaan yang ada akan membuat Ayu tersinggung, dan hei ayolah! Dimitri adalah orang yang mudah sekali marah, kalau dia marah maka siap-siap seharian itu hari Daniel akan serasa di neraka.
Jadi, solusi terbaiknya adalah diam dan menikmati Red Velved yang sangat manis dan nikmat dipagi hari.
"Terima kasih Nyonya, malah merepotkan." kata Daniel merasa sungkan pada Ayu.
"Tidak masalah Pak Daniel, berhubung lagi sarapan ya sekalian." kata Ayu ramah.
Dimitri? Dia lebih memilih tidak berkomentar, karena capek. Ya Dimitri tidak suka membuang tenaganya untuk hal-hal yang tidak berguna.
Setelah sarapan, Daniel dan Dimitri berpamitan untuk segera berangkat bekerja. Di mobil Daniel mengemudi dalam diam hingga pertanyaan Dimitri memecahkan keheningan diantara keduanya.
__ADS_1
"Sampai dimana kasus Dovid?'' tanya Dimitri pada Daniel.
"Seharusnya sudah bisa ditahan jika kamu ngak menunda semuanya. Tapi Bosku yang menyebalkan mengatakan nanti dulu, ya aku bisa apa." kata Daniel sok dramatis.
"Drama Anda basi sekali." kata Dimitri yang membuat keduanya tertawa kecil ditengah keheningan suasana.
"BTW, kita ke Jerman apakah Ayu akan ikut juga?" tanya Daniel pada Dimitri.
"Aku tidak ingin mengulangi kesalahan Papa terhadap Mama. Keduanya dijodohkan sehingga menggunakan dalih karena tidak saling cinta jadi Papa bisa bermain wanita. Itu terlalu mengerikan, aku pilu melihat Mama yang sering bertemu denganku dipagi hari dengan keadaan mata memerah dan sembab. Sialnya lagi, ketika ditanya Mama kenapa yang diberikan jawabn oleh Mama adalah Mama baik-baik saja. Jadi Anak yang manis dan cerdas, agar nanti kamu bisa mewarisi perusahaan Papa." kata Dimitri mengulangi setiap yang dikatakan sang Mama.
Tapi sayangnya bukan warisan yang aku dapatkan melainkan tumpukan hutang. Beruntung Papa tidak punya pilihan selain menjual perusahaan itu pada pihak asing dan dia menjelma sebagai pihak asing disini.
''Setelah kita berangkat minta Leo dan Dimas menyerahkan semua bukti pada kepolisian. Pria itu harus dihukum karena telah begitu tega melakukan hal mengerikan ini kepada Ibuku!'' kata Dimitri syarat akan dendam yang menbara didadanya. Sungguh dia tidak sanggup lagi melihat Dovid masih bebas berkeliaran diluar sana. Namun, jika menangkapnya saat Dimitri masih ditanah air maka Dimitri tidak akan tega melihat sang Papa dipenjara walaupun itu adalah pilihannya sendiri.
Ya begitulah Dimitri, beringas diluar namun lembut didalam. Bagaimanapun dia tetaplah seorang Anak, tidak ada satupun Anak yang ingin kehidupan rumah tangga orang tuanya hancur. Tidak ada satupun Anak yang ingin hidup tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Dimitri juga demikian, bukan hanya kasih sayang Rosaline yang dia harapkan tapi sejak dulu dia selalu menunggu kesadaran sang Papa.
Meski hatinya berisik tapi Dimitri tidak punya pilihan selain tetap bekerja hari ini. Dia tidak ingin tenggelam dalam lukanya, Mama butuh dirinya dan sekarang dia juga sudah punya seorang Istri yang menggantungkan harapan padanya.
"Pak, kita ada rapat dengan salah satu investor penting di Indonesia dan ini terkait dengan membangkitkan Osborn Corp dari kehancuran. Setelahnya kita juga harus meninjau bagian produksi unyuk melihat sudah sampai sejauh mana persiapan kita dalam meluncurkan produk baru." kata Daniel membacakan jadwal Dimitri pada sang Big Bos.
"Baik, kau atur saja semuanya. Nanti jika memang sudah waktunya kita akan pergi bersama. Masih ada waktu untuk rapat dengan beberapa pimpjnan kantor bukan?" tanya Dimitri dan Daniel menganggukkan kepalanya.
"Kita masih ada tiga jam sebelum bertemu Investor penting dari Indonesia. Nanti kita lanjutkan dengan kegiatan tanpa jeda, kecuali saat ishoma," kata Daniel dan Dimitri menganggukkan kepalanya setuju.
Kesibukan demi kesibukan membuat Dimitri tidak menyadari jika waktu telah berlalu begitu cepat. Langit yang tadinya cerah dan berwarna biru muda yang indah sekarang sudah berganti warna dengan warna orange. Terlihat indah, namun juga membuat yang memandangi menyadari jika matahari akan segera pulang dari shif kerjanya.
__ADS_1
Sementara dilain tempat, Ayu terlihat letih dan mengantuk. Bagaimana tidak, Ayu menyiapkan cukup banyak barang yang dibawa bersamanya.
"Semoga aja ngak ada yang kurang, aku rasa semuanya sudah aku lihat rapi-rapi dan teliti sehingga tidak ada yang tercecer lagi," kata Ayu.
"Sudahlah aku butuh tidur, sangat capek!'' kata Ayu dan memilih merebahkan tubuhnya disofa yang berada di kamarnya. Lebih tepatnya, Ayu sebenarnya tidak ingin terlelap karena takut Dimitri akan pulang lebih awal. Tapi apa boleh buat, rasa ngantuk yang tidak lagi mampu dibendung membuat Ayu terlelap di sofa panjang yang ada dikamarnya.
Tepat jam 6 sore, Dimitri sudah kembali ke apartement tempat dia menetap bersama dengan Ayu. Ya Dimitri sengaja pulang lebih awal untuk membantu Ayu berkemas karena mereka akan bertolak menggunakan jet pribadi tepat jam 3 dini hari nanti. Semua keperluan perjalanan luar negeri Ayu telah dipersiapkan oleh Dimitri.
Begitu memasuki kamarnya, Dimitri telah melihat tiga koper besar yang sudah tersusun rapi. Sebagai seseorang yang anti ribet yang kalau ketinggalan barangnya tinggal beli lagi yang baru maka hal ini adalah hal baru bagi Dimitri.
Dengan cepat Dimutri lihat barang-barang apa saja yang di kemas sang Istri. Namun sebelum dia memeriksa ternyata ada catatan yang diceklis sebagai pertanda sudah dipenuhi atau belum barang yang akan dibawa. Dengan cepat Dimitri membacanya dan ternyata Ayu membawa semua peralatan yang mungkin mereka butuhkan begitu diperjalanan ataupun ketika awal tinggal di Negara orang.
"Terima kasih Sayang. Kamu pasti sangat letih, tapi maafkan aku yang harus menjadi Suami yang tidak pengertian karena akan tetap membangunkan dirimu. Karena ini sudah senja, sebentar lagi magrib." kata Dimitri dengan senyuman.
Dimitri mendekar ke sofa tempat Ayu terlelap. Dengan perlahan Dimitri membangunkan Ayu agar segera terjaga dari tidurnya. Tidak butuh waktu lama Ayu sudah terbangun dari tidurnya..
"Mas sudah pulang?'' tanya Ayu begitu menatap sang Suami.
"Sudah jam berapa ini?'' tanya Ayu saat menyadari jika hari sudah mulai gelap karena langit sudah berwarna jingga.
"Sudah jam 18.10, mandi dulu gih." kata Dimitri dan Ayu menuruti tanpa protes.
Setelah Ayu mandi, Dimitri menunggu di kamar mereka.
"Mas, maaf aku belum sempat masak. Tadi Bibi aku minta untuk tidak memasak karena aku ingin membuatkan masakan untukmu yapi malah ketiduran. Sekali lagi maa....." perkataan Ay terpotong karena Dimitri ******* bibir manis gadis itu.
__ADS_1
"Sssssttt, sudah hari ini kita delevery saja. Bibi Hanum juga pasti tidak kalah letihnya karena kita akan berangkat jam 3 dini hari nanti." kata Dimitri dan Ayu tersenyum menanggapi.