Mencuri Pengantin Ayahku

Mencuri Pengantin Ayahku
Hanya Barang Titipan


__ADS_3

Setelah Daniel meninggalkan ruangannya Dimitri kembali berkutat dengan laptopnya kembali, mengerjakan semua pekerjaannya yang tertunda. Ya Dimitri memang sangat sibuk akhir-akhir ini, sebenarnya sangat bohong jika mengatakan Dimitri sangat sibuk akhir-akhir ini saja. Nyatanya Anak dari Nyonya Rosaline dan Tuan Dovid itu sibuk sepanjang hari, bahkan hari bergan bulan dan tahun saja tidak terasa oleh Dimitri karena setiap tiba dipembaringan yang ada matanya kan langsung terlelap dan bangun untuk sholat dan lanjut bekerja lagi. Begitulah, terbiasa selama 11 tahun dengan hari-hari yang berat maka Dimitri akan mencari-cari kerjaan jika dia senggang.


Waktu berlalu cepat dan tidak terasa waktu isya telah masuk. Dimitri pergi ke kamarnya yang ada di kantor untuk menunaikan sholat isya. Dimitri sudah berencana pulang lebih awal hari ini, mengenai pekerjaannya dia akan meminta Daniel mencarikan Asisten tambahan agar Daniel tetap punya waktu untuk dirinya sendiri. Setelah Dimitri menyelesaikan kewajibannya sebagai umat islam, Dimitri segera keluar dari ruangannya dan diluar ruagannya Danile masih sibuk dengan sejibun ppekerjaan dan jari-jari tangannya menari dengan lincah diatas keyboard laptopnya.


"Daniel, besok bukalah dua posisi sebagai asistenku agar kau tidak terlalu sibuk. Kita ini seumuran, sudah waktunya kamu memikirkan pasangan hidup. Kamu juga harus segera menikah, setidaknya nanti saat Mamaku pulih dari lumpuhnya kita sudah memiliki keluarga bahagia masig-masing. Pasti Mama akan sangat bahagia," kata Dimitri bercerta dengan raut senang dan senyum yang merekah lebar dibibirnya.


"Oh Tuhan, Pak Bos! Bisakah khayalanmu kau simpan dulu. Aku ingin menyelesaikan semua pekerjaanku dan pulang untuk bertemu Ariana Grande kesayanganku. Aku sungguh lelah dan aku butuh Istriku Pak!" kata Danile lepas kenadali juga karena jengaah dangan sikap Dimitri.


"Segeralah bertaubat, aku khawatir kau semakin tidak normal! Bagaimana mungkin kau membari nama ranjang dan kasurmu sebagai Ariana Grande dan memanggilnya Istri? Apakah kau tidak malu dengan citramu yang selalu dingin penuh wibawa itu hancur didepan para gadis karena kebiasaanmu yang memanggil tempat tidurmu sebagai Ariana Grande. Ya Allah, ternyata terlalu lama membujang bisa menghilangkan kewarasan. Rip Daniel!" kata Dimitri dan berakhir mendapat lemparan dengan pulpen oleh Daniel.


"Pergi kau Kambing!" teriak Daniel pada Dimitri.


Dimitri mengemudi dengan raut wajah riang diwajahnya, hari ini dia akan bertemu dengan sang pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan sang Istri tercinta. Masih basah diingatan Dimitri saat niatnya ingin menikahi Ayu untuk menyiksanya karena berani merebut sang Papa dari Mamanya tercinta. Tapi kalau dipikir bukankah itu hal yang terlalu konyol? Merebut? Bahkan Ayu adalah orang yang sangat sederhana bagaimana mungkin dia bisa merebut Papanya hanya karena  uang. Untungnya dia tidak seperti kebanyak laki-laki dalam novel dimana kalau terluka langsung membaper ria tanpa mau menyelidiki yang sebenarnya walau disana dia dijabarkan sebagai seorang pria yang sangat berkuasa.


Kadang Dimitri berpikir bagaimana mungkin teman-teman wanitanya semasa di kampus dulu sangat menyukai cerita CEO kaya raya yang diluar nalar. Jika dia kaya pake kebangetan seharusnya dia juga punya pikiran yang luas dan panjang tapi bagaimana bisa dia begitu bodoh. Terkadang Dimitri heran ada apa dengan para CEO dalam negeri dongeng mengapa begitu berbeda dengan didunia nyata yang lebih rasional. Bahkan Dimitri punya teman yang sudah tua tapi memilliki perusahaan besar sehingga dia seharusnya sangat sibuk tapi baginya Istrinya tetap yang utama. Banyak yang daang menggoda tapi tidak pernah berakhir dengan baik selalu berakhir ditolak mentah-mentah bahkan langsung membatalkan kerja sama dengan pihak yang mengiriminya perempuan. Sungguh Dimitri sangat salut padanya karena begitu erat memegang prinsipnya. Mampukah Dimitri melakukan hal yang sama? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawab.

__ADS_1


Setibanya di apartement yang memang dibelinya baru-baru ini ditempati sang Istri dan Bi hanum sejak mereka ada di Korea Selatan. Dimitri laangsung memasukkan sandinya dan masuk ke rumah.


"Assalamu'alaikum. Sayang! Kamu dimana?" teriak Dimitri begitu memasuki rumah yang terlihat sepi hanya terdengar suara televisi dan betapa terkejutnya saat Dimitri melihat pemandangan yang membuatnya tersenyum geli karena tampang Bibi Hanum dan Ayu yang terkejut olehnya.


"Mas, kamu pulang? Ini beneran kamu?" tanya Ayu mendekati sang Suami.


"Yaiyalah Sayang! Masa tetangga, udah ganteng dan baik hati begini rela pulang awal eh malah dipandang dengan eksperssi yang membagongkan  begini. Mas kangen Sayang..." kata Dimitri yang langsung mengecup wajah dan kening sang Istri tanpa melihat situasi kalau Bibi masih duduk disana. Bibi Hanum segera meninggalkan ruangan dan beralih ke kamarnya uuntuk menonton televisi.


"Ya Allah, semoga rumah tangga mereka selalu damai dan bahagia begini. Cukup Tuan Dovid dan Nyonya Rosaline yang berakhir tragis dalam pernikahan paksaan yang dilakukan oleh Mendiang Nyonya dan Tuan terdahulu. Bahkan hingga saat ini Nyonya Rosaline masih dalam keadaan sakit, entah kapan kembali bisa berkumpul dengan wanita malang yang baik hati itu.


"Mas, tidak sibuk? Tumben pulang sangat awal?" tanya Ayu.


"Sayang ini bukan sangat awal. Mas bahkan baru bisa pulang setelah waktu isya, jadi tidak awal sudah cukup malam juga..." perkataan Dimitri terpotong saat Ay memeluk tubuhnya erat temoat Ayu bersandar.


"Kamu ngak lagi mau melakukan perjalanan bisnis yang sangat menguras tenaga bukan? Yang nanti berakhir dengan tidak pulang dan tidak ada kabar hingga berbulan-bulan?" tanya Ayu penuh selidik.

__ADS_1


"Tidak Sayang, dalam waktu dekat Mas hanya di Korea Selatan, kalaupun harus pergi ke tempat yang memakan waktu pastinya Mas akan mengajak kamu ikut serta." kata Dimitri mengusap rambut sang Istri.


"Tidak usah mengatakan sesuatu yang hanya untuk menyenangiku sementara setelahnya kamu malah melakukan hal yang sebaliknya Mas." kesal Ayu oada Dimitri.


"Maaf ya Sayang, selama menikah aku jarang ada waktu buat kamu. Tapi aku sangat mencintai kamu, aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi aku tidak ingin kamu salah faham dengan kesibukanku yang tiada akhir. Karena itu aku meminta Daniel mengirimkan setiap potretku saat bekerja," kata Dimitri melipatkan bibirnya bingung harus bagaimana berkespressi.


Tidak lama setelahnya Ayu tersenyum dan tertawa karena gemas pada sang Suami. Lalu Ayu mengecup pipi Dimitri dan mencubit perut sang  Suami.


"Sakit Yang," kata Dimitri mengusap perutnya yang masih polos tanpa pakaian.


"Aku tidak cemburu Mas, hanya saja aku rindu karen kamu tidak kunjung pulang. Makanya aku kesal dan kadang kalap membelanjakan uang yang kamu berikan." kata Ayu dan membuat Dimitri tersenyum senang. Uang yang dibelanjakan oleh Ayu bukan untuk dirinya melainkan untuk keperluan sekolah anak-anak panti asuhan yang belakangan ini sering didatangi oleh Ayu.


Kalaupun Ayu belanja untuk dirinya sendiri juga bukan barang branded yang membuat kantong bolong tapi malah sebaliknya hanya membeli pakaian dengan harga pasaran yang banyak dibeli oleh orang-orang dengan perekonomian standar. Tapi Dimitri mensyukuri hal itu, bukan apa-apa tapi kita juga harus sadar jika apapun yang kita miliki sekarang hanyalah barang titipan yang mana kapanpun bisa diambil kembali oleh sang Pemilik yaitu Allah SWT.


"Ya sudah ayo kita mandi setelahnya kita sholat witir sebelum tidur." kata Dimitri dan Ayu hanya mengiyakan saja perkataan sang Suami.

__ADS_1


__ADS_2