
Waktu perjalanan yang harusnya hanya 2 hari di Jerman ditunda menjadi 7 hari di Jerman. Dimitri tidak sanggup meninggalkan sang Mama terlalu cepat, dia masih sangat merindukan sang Mama.
"Ayo Ma, makan dulu.." kata Ayu yang menyuapi Mama bubur. Mama menerimanya dengan susah, karena keadaannya yang lumpuh sehingga susah membuka mulut.
Dimitri memandangi sang Mama yang tengah disuapi sang istri dengan hayi yang damai. Dia bahagia ketika melihat Mamanya ada didepan mata, namun halnini tidak berlangsung lama karena Dimitri sekarang mulai membuka cabang bisnis di Korea Selatan. Ketika membuka cabang Dim'O yang batu tidak mungkin Dimitri meninggalkannya begitu saja.
Bahkan meski sekarang fisiknya masih bersama sang Ibunda namun pikirannya sudah berjalan ke Korea Selatan untuk menyiapkan langkah awal yang dia lakukan pada saat di Korea Selatan nanti.
"Mama harus segera sehat, Mas Dimitri pasti sangat merindukan Mama. Jadi Mama harus segera sembuh, agar kita bisa berkumpul bersama." kata Ayu dengan suara pelan yang membuat air mata Mama menetes.
Sangat, Rosaline sangat ingin bisa berkumpul dengan Anak dan Menantunya. Terlebih Dimitri tidak pernah sekalipun pulang sejak kepulangan terakhirnya saat dia tengah bertengkar dengan Dovid. Naasnya lagi, Dimitri bahkan kembali lagi ke Negara orang tanpa dia menyadari jika sang Putra telah pulang ke rumah. Dia bahkan mengetahui kepulangan Dimitri dari Bibi Hanum.
Sekarang Dimitri cukup lama bersamanya, dua bulan selama di Indonesia. Rosaline berobat selalu ditemani Dimitri, bahkan sang Putra selalu ada saat jam dia makan obat. Karena itu juga salah satu alasan yang membuat Dimitri tidak tinggal bersama Ayu selama dua bulan awal pernikahannya. Selain mengurus semua hal yang bersangkutan dengan akuisisi perusahaan Osborn Corp dibawah kekuasaan Dim'O Corp.
Otak jenius Dimitri sangat ribut setiap harinya jadi dia hanya ingin sang Ibunda yang selalu berada diaampingnya untuk dua bulan awal pernikahannya, seraya dia juga menyelidiki semua latar belakang Ayu.
Bukan apa-apa, Dimitri masih sama dengan kebanyakan orang di muka bumi ini. Dia tidak bis alangsung percaya begitu saja pada orang yang baru dia temui.
Jadi Dimitri memilih menyelidiki dari pada menyesal dikemudian hari. Apa motif, siapa dan bagaimana Ayu. Semuanya diselidiki dengan komplit oleh Dimutri tanpa ada yang tersisa.
__ADS_1
Tidak lama setelah Ayu menyuapi Rosaline makan, Dimitri mengkampiri keduanya dengan obat yang sudah dicairkan untuk disuapi pada Mama.
"Ma, makan obat dulu ya. Ini Dimitri hancurkan dengan air agar Mama tidak kesulitan, 30 menit lagi Suster akan datang memberikan Mama suntikan obat. Mama harus sembuh segera dan bisa ikut denganku, aku tidak ingin lagi berjauhan dengan Mama." kata Dimitri seraya mengusap pipi sang Mama lembut dan mengecup pipi Mamanya.
"Sayang, aku titip Mama sebentar ya. Aku ada keperluan diluar sebentar." kata Dimitri pada Ayu. Ayu hanya menganggukkan kepalanya dan menunjukkan jempolnya pada Dimitri.
Dimitri berjalan ke arah atap gedung, kebetulan di atap gedung ada tempat duduk yang memang disediakan disana. Lama Dimitri memejamkan matanya menikmati suasana gelapnya malam, bukan sepenuhnyangelap karena banyak bintang dan juga kemerlap lampu dari bawah suasana kota. Dia tidak menyesal untuk tidak pernah pulang, karena dia memberikan semua effort yang dia punya untuk karirnya. Tapi hatinya pilu saat melihat keadaan sang Mama.
Bukan hanya karen akondisi Mamanya, tapi juga sang Papa. Dovid! Sebejat apapun dia, bagi Dimitri dia tetaplah Ayahnya. Sungguh sebenarnya Dimitri tidak tega membawa kasus ini hingga ke pengadilan. Namum, lagi ini bukan hanya perkara harta dan berselingkuh. Tapi ini adalah perkara percobaan pembunuhan.
Sang Papantelah begitu tega menyuntikkan obat pelumpuh tulang pada Mamanya. Bukan hanya itu keadaan Rosaline seperti ini juga karena kejahatan Dimitri dan wanita tidak sahnya.
"Pa, aku harap Papa bisa merenung didalam sana. Bukan maksed Dimitri tidak sayang pada Papa, tapi lagi ini adalah hak unyuk hidup bagi seseorang dan Papa merenggut utu dengan teganya dari Mama. Jadi terpaksa aku lakukan itu pada Papa." kata Dimitri lirih.
''Ada apa ini siapa?'' tanya Dimitri pada dirinya sendiri tapi saat dia membuka matanya yang oertama dia lihat adalah wajah datar Daniel yang melihat kebarah depan.
"Apa ada masalah?" tanya Dimitri.
"Bukan aku yang bermasalah tapi kamu. Makanya aku ingin bertanya masalah apalagi yang kamu dapat sekarang? Bukankah kita sudah mendapatkan tender saingan kita setelah diskusi panjang kemarin? Seperti biasa kamu selalu melakukan yang terbaik." katanDaniel yang duduk disebelah Dimitri.
__ADS_1
"Aku merasa semuanya semakin rumit karena halhal baru yang aku temui..." kata Dimitri menerawang.
"Kita pernah merasakan lebih pahit dari sekedar hal ini bukan? Lantas mengapa malah merasa begitu baru dan canggung. Hadapi semuanya seperti Dimitri yang selama ini aku kenal, tanpa perasaan dan emosional." kata Daniel.
Dimitri hanya tersenyum tanpa melihat. Dia tanpa perasaan dan emosional? Mungkin hanya pada lawan jenis, ini tidak berlaku pada ke dua orang tuanya.
"Selama ini aku selalu menggunakan emosi dan perasaan saat membangun bisnis. Aku gunakan emosi saat melihat Mama dan Papa bertengkar, aku harus bangkit dan berubah agar bisa membawa Mama pergi dari sisi Papa... Tapi saat menyadari jika Mama mungkin saja mencintai Papa aku malah undur diri. Aku tidak sekuat itu untuk melihat Mama menangis disetiap keadaan, hingga kondisi Mama seperti sekarang masih disebabkan oleh dirinya." lirih Dimitri.
Daniel menghela nafas panjang, dia juga tidak atahu mengapa makhluk perempuan begitu perasa. Apapun halnya selalu menggunakan perasaan, Daniel bukan orang yang serumut itu.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Jadi sekarang lakukan yang seperti biasa kamu lakukan, kamu adalah Anak dan Suami yang baik. Hal seperti ini sudah biasa kamu rasakan bukan, kqrena pertikaian antara Nyobya Rosaline dan Tuan Dovid pasti bukanlah hal yang pertama kalinya hingga kamu harys terkejut." kata Danile yang membuat Dimitri menganggukkan kepalanya. Seharusnya dia tidak begitu terkejut. Karena memang Papa dan Mamanya selalu bertikai.
"Ayo turun ke bawah, sudah cukup menyendiri. Tidak baik bagi seorang Dimitri Osborn bergalau ria hingga ke tahap yang separah ini. Apapun yang telah terjadi itu diluar kuasa kita," kata Daniel.
"Kau turunlah lebih awal. Aku masih ingin disini sebentar," kata Dimitri.
Daniel menganggukkan kepalanya dan meninggalkan sang Bos sendirian. Meski tahu betul apa yang dirasakan oleh Dimitri tapi Daniel juga percaya jika Dimitri mampu mengatasi semua ketakutannya sendirian.
Setelah cukup lama merenung Dimitri turun ke bawah. Hari kemarin adalah sejarah yang telah dia lalui, hari sekarang adalah sebuah anugrah yang dia miliki dan besok masih misteri tentang apa yang terjadi. Jadi mari nikmati seiring hembusan nafas.
__ADS_1
"Ma, besok aku harus beryolak ke Korea Selatan. Aku harap Mama bisa cepat sembuh dan bisa kembali bersama Aku dan Ayu. Mama jangan banyak fikiran, sekarang aku sudah dewasa. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa, aku tidka akan mengecewakan Mama.'' kata Dimitri ke telinga sang Mama saat Mamanya tengah berbaring.
Lagi air mata tanpa suara itu mengalir karena tidak rela harus kembali berpisah.