Mengagumimu Dalam Diam

Mengagumimu Dalam Diam
Bab 19 ( Sakit Tapi Tak Berdarah )


__ADS_3

Happy Reading ...


.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat, bahkan Aslin tak menyadari kalau sekarang sudah menunjukkan waktu 5 sore.


Dia telah berada didepan rumahnya dengan perasaan yang gugup dan takut.


Aslin memberanikan diri untuk membuka pintu besar yang berada dihadapannya mendorongnya dengan pelan.


Aslin masuk kedalam tanpa menimbulkan suara apapun hingga sutu suara menghentikan langkah kakinya.


"Dari mana saja kamu" Tanya Tio dengan suara yang terdengar tajam .


Aslin yang ditanya seperti itu hanya diam dengan wajah yang menunduk. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya tak banyak yang bisa dia lakukan selain berdiri diam dengan wajah yang menunduk.


"JAWAB" Bentak Tio yang membuat Aslin kaget setengah mati.


"Kalau ada yang bertanya itu dijawab, jangan hanya diam saja apa kamu bisu" ujar Ratna mama Aslin.


"Iya bu "ucap Aslin lirih dengan suara yang sangat kecil.


"Jangan panggil saya ibu panggil saya nyonya karna saya tidak sudih punya anak seperti kamu "ucap Ratna tanpa mempedulikan perasaan Aslin .


Saat itu juga air mata Aslin tidak bisa dibendung lagi, kata-kata yang dilontarkan oleh ibunya itu sangat membuat hatinya sakit seperti dihantam dengan batu yang sangat besar.


Aslin menangis tanpa suara tanpa isakan yang keluar dari bibirnya dia hanya diam tapi sejujurnya hati nya 1000 kali lebih sakit dibantingka dengan kekerasan fisik yang sering mereka lakukan.


Tio berjalan tepat cepat kearah Aslin dan berdiri dihadapan Aslin yang hanya diam tanpa ekspresi


"Dasar anak tidak tau diri, tidak tau malu dari mana saja kamu pulang jam segini. Apa begini sifat kamu sering pulang telat ahh " teriak Tio tepat didepan muka Aslin.


PLAK


Aslin langsung terduduk dilantai setelah mendapatkan satu tamparan yang begitu keras dari ayahnya. Aslin hanya diam tapi air matanya seolah sudah tidak bisa diajak untuk bekerja sama dia terus mengalir tanpa bisa Aslin tahan lagi.


"Kenapa kamu diam saja ah, apa kamu mu menjadi jal*ng kecil diluar sana " teriak Tio tapi tak perna ditanggapi oleh Aslin.


Wajah Tio berubah menjadi merah padam menahan amarah yang sewaktu-waktu dapat meledak kapan saja.


"Dasar anak tidak tau diri, seharusnya kamu bersukur karna saya masih mau menampung kamu dirumah ini, seharusnya dulu kamu tidak ditemukan karna kamu hanya membawa petaka buat keluarga saya " teriak Tio.

__ADS_1


Dengan wajah yang memerah Tio berjalan menuju laci meja yang tak jauh darinya berdiri dan mengeluarkan cambuk yang memang sudah dia siapkan sejak dulu.


"Dasar anak tidak tau diri" teriak Tio.


Plak ( anggap saja suara cambukkan )


"Tidak tau berterimakasih "


Plak ( anggap saja suara cambukkan )


Aslin menggigil bibirnya sendiri yang sudah terdapat luka bekar tamparan dari ayahnya itu, dia berusaha untuk tidak mendesah kesakitan atas cambukan yang tertubi-tubi dari ayahnya itu.


Dilain tempat didalam kamar yang berada di rumah yang sama Fauzan yang baru selesai mandi dapat mendengar dengan jelas suara ayahnya yang memarahi adik kecilnya itu tapi Fauzan seolah tuli dari suara cambukan-cambukan yang terus terdengar dia tetap melakukan aktifitasnya didalam kamar tanpa mempedulikan yang terjadi dibawah sana.


Sedangkan Ratna Ibu Aslin yang melihat semua itu tepat didepan matanya bersikap acuh tak acuh seolah itu sudah biasa terjadi dirumah itu.


"Bangun kamu " ucap Tio sambil menarik tubuh Aslin yang sudah lemah itu untuk berdiri dihadapannya.


Aslin hanya menurut pasrah karna sesungguhnya tubuhnya ini sudah lemas untuk melawat .


"Malam ini kamu saya hukum untuk tidur didalam gudang, biar kamu tau diri tidak  seenaknya kamu pulang jam segini apa kamu fikir ini rumah kamu sampai kamu persikap seenaknya " ucap Tio.


Tio menyeret tubuh lemah Aslin dengan tergesa-gesa menuju belakang dimana gudang berada.


Sedangkan Aslin yang dilempar seperti itu oleh ayhnya sendiri merasakan sesuatu didalam dirinya yang merasa sangat sakit seperti ditanyap beribu jarum. Aslin hanya bisa diam dengan sekujur tubuh yang merasakan sangat amat sakit bekas cambukan yang bertubi-tubi, dia lemas bahkan untuk berdiripun sangat susah hanya air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya. Lama kelamaan matanya mulai redup dan tiba-tiba matanya tertutup rapat tanpa dia minta. You now kalian pasti tau apa yang terjadi setelahnya .


*****


Fauzan berjalan menuruni satu persatu anak tangga sambil bersenandung kecil, sampainya dianak tangga terakhir tak sengaja matanya mengarah keruang keluarga dimana disana terdapat ayah dan ibunya yang sedang bersantai.


Fauzan yang melihat itu mengernyit alisnya setaunya tadi dia mendengar suara ribut diruang keluarga tapi yang dia dapat malah kemesraan kedua orang tuanya, aneh.


"Bukankah tadi ayah sedang memarahi Aslin lalu sekarang dia kemana dan lihat sifat ayah seakat tidak terjadi apa-apa saja" batin Fauzan.


Tapi pada akhirnya Fauzan memilih tak peduli dia terus berjalan menuju dapur untuk mengambil minum karna minuman yang selalu tersedia dikamarnya sudah habis total.


Fauzan langsung membuka kulkas yang berada didapur mengambil minuman dan satu toples kue yang ingin dia bawa keruang keluarga bersama dengan kedua orangtuanya.


"Ehemm "Fauzan bertehem untuk mengambil perhatian kedua orangtuanya yang sedang bermesraan tanpa memikirkan perasaannya yang masih jomblo ini.


Sedangka orang tua Fauzan yang mendengar suara yang berasal dari belakang langsung menengok kebelakang


Dan mendapatkan Fauzan yang menatap mereka dengan kesal.


Kedua orangtua Fauzan terkekeh melihat wajah kesal putra yang selalu meraka banggakan tanpa mempedulikan keadaan putra kecil mereka yang baru saja mereka siksa yang sekarang entah sedang apa.

__ADS_1


"Ayo duduk sini sayang " ucap Ratna mama Fauzan dan Aslin.


Fauzan yang menjawab tapi dia tetap melakukan perintah dari ibunya itu, Fauzan duduk sofa bersebelahan dengan kedua orangtuanya dengan merasaan yang dongkol dan kesal. Dia membuka toples kue yang dia bawa dari dapur dengan kasar dan meletakanya tutupnya disampingnya, dia langsung  mengambil kue itu dengan kasar dan memasukkannya kedalam mulut dan mengunyahnya dengan sakar pula.


Sedangkan Tio dan Ratna yang melihat tingkah anaknya itu yang sedang merajut terkekeh, mereka sudah terbiasa dengan sifat Fauzan yang sering merajut ketika melihat kedua orangtuanya bermesraan tanpa pikir tempat itu.


Ratna bangun dari duduknya dan mendekat kepada Fauzan yang masih enggan untuk melihat kearahnya.


"Ada apa sayang " tanya Ratna dengan lembut sambil duduk disamping putra kebanggaannya itu.


"Gak apa-apa " ucap  Fauzan tanpa mengalihkan tatapannya kearah Tv besar dihadapannya.


Tio yang melihat tingkah kedua orang yang paling dia sayang tersenyum, senyum yang jarang sekali dia tunjukkan didepan orang lain sekalian kepada orang yang dia sayang.


"Fauzan ngambek ya sama mama dan papa" tanya Ratna sambil mengelus rambut hitam milik putranya itu.


"Gak " ucap Fauzan singkat.


"Iya sudah Fauzan mau apa nanti  mama dan papa belikan, iya kan pah " ucap Ratna sambil meminta persetujuan kepada suaminya.


"Iya ma" ucap Tio singkat, Tio akan melakukan apapun demi kebahagian keluarganya dia tidak ingin keluarganya terluka segorespun tapi tanpa dia sadari dia telah melukai satu anggota keluarganya bahkan dia melukai fisik dan batinnya.


Sedangkan Fauzan yang mendengar perkataan ayahnya pingin sekali tersenyum tapi dia berusaha untuk tidak terpengaruh walau pada kenyataannya dia pingin sekali berteriak kegirangan tapi berusaha dia tahan.


"Tuh kan papa saja setuju ayo Fauzan mau minta dibeliin apa oleh mama sama papa " tanya Ratna.


Fauzan tetap diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya itu.


"Beneran ni fauzan gak mau "Goda Ratna. Dia tau  kalau anaknya itu hanya pura-pura tidak mau maklum Fauzan itu gengsinya itu tinggi saking tingginya itu bisa sampai langit.


Sebenarnya Ratna dan Tio pingin sekali ketawa melihat sifat anaknya yang pura-pura tak menggubrik omongan Ratna tadi.


"Iya sudah kalau Fauzan tidak mau papa tarik lagi omongan papa yang bilang setuju tadi " ucap Tio untuk menggoda anaknya itu.


"JANGAN "  teriak Fauzan tiba-tiba.


Sedangkan Tio dan Ratna sudah ketawa  lepas mendengar teriakan tidak setuju dari putra kebanggaan mereka.


______________________________


Terimakasih sudah mau mampur kecerita aku semoga kalian suka dengan Episode ini.


Jangan lupa untuk menekan tompol likenya .👍


Sampai jumpa 👐

__ADS_1


__ADS_2