Mengagumimu Dalam Diam

Mengagumimu Dalam Diam
Bab 8 ( Rumah? )


__ADS_3

Like sebelum membaca 👍


Happy reading ...


________________________________


Amri telah sampai dirumah yang tidak kalah mewah dengan rumah Rian, setelah memasukan motor kesayangnya kedalam bagasi dia langsung berjalan menuju pintu utama rumahnya itu. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Assalakualaikum" ucapnya memasuki rumah " bunda, ayah " teriaknya sambil berjalan mencari kedua orang tuanya.


Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Amri sejak dulu selalu teriak memanggil kedua orang tuannya itu. Bahkan dia akan menjadi anak manja bila berhadapan dengan bundanya itu, lain lagi jika berhadapan dengan sang ayah dia akan menjadi seperti musuh yang selalu merebut kasih sayang dari bundanya, bahkan dia tak segan-segan untuk meminta tidur dikamar kedua orang tuanya yang akhirnya membuat sang ayah kesal sampai keubun-ubun karna Bundanya itu selalu memanjakan dirinya dan juga adiknya membuat keduanya selalu di nomor satukan oleh sang bunda walaupun sang ayah ada didekat mereka.


Bila mereka sedang berkumpul maka ayahlah yang harus sabar karna istri tercintanya itu pasti akan mengabaikannya, atau bahkan acuh tak acuh dengan keberadaannya .


"Iya sayang " Teriak Anna dari arah dapur sambil belari tergopoh-gopoh untuk menyamput kepulangan putra sercintanya itu. Dengan penggorengan yang masih setia ada ditangannya.


" bunda " ucapnya manja sambil memeluk sang bunda tercintannya itu setelah Anna berada dihadapannya.


"Iya sayang ada apa hmm " tanya Anna lembut sambil mengelur rambut putra nya itu.


" kangen bunda "


" kamu ini Sa, dari mana aja anak kesayangan bunda ini kenapa baru pulang jam segini si " tanya Anna


Amri bila sedang dengan keluarganya dia biasa dipanggil Asa karna waktu kecil dia paling susah mengucapkan huruf R jadi hanya Asa yang mudah untuk dia ucapkan yang diampil dari kata pertama di namanya


" aku dari rumah Rian bunda " ucapnya.


Anna hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Amri.


Dari arah tangga terlihat seorang lelaki paruh baya yang baru saja menuruni tangga dengan wajak kesal dia adalah Reyhan ayah dari Amri dan juga Tiara adik Amri yang baru duduk dibangku kelas 2 SMP.


Dia baru saja dari kamar putri tercintanya itu yang memiliki sifat yang sama dengan anak laki-lakinya itu, Menyebalkan. Ntahlah apa yang Tiara lakukan sampai membuat sang ayah sekesal itu.


Pemandangan didepan matanya membuatnya semakit kesal dimana istri dan anak selakinya itu sedang berpelukan tanpa pembedulikan kehadiran yang suami.


"Bagus ya pulang jam segini" ucap Rey sambil berjalan menghampiri istri dan anaknya .


" apa si ayah ini, ganggu aja " ucap Amri kesal


"Tau mas ini jangan marahin anak bunda ya" bela Anna. Sedangkan Amri senyum mengejek kepada sang ayah.


"Tapi dia salah bun, dia pulang gak langsung pulang kerumah malah mampir kesana kemari dulu " ucap Rey tak mau kalah .


"Tapi bisa ditanyakan baik-baik yah" ucap Anna


"Betul tu bunda, memang bunda is debes pokonya" ucap Amri kepada sang bunda.


Sedangkan Rey yang mendengar sang istri membelah anaknya itu menjadi semakin kesal.


Ketiganya terdiam dengan posisi Amri yang masih memeluk sang bunda sedangkan sang Ayah Rey telah duduk dibangku sofa yang berada di dekat istri dan putranya berada dengan koran yang berada ditangannya.


"Bau apaan ya " gumam Amri sambil melepas pelukan pada sang bunda.


Anna dan Rey yang masih mampu mendengarkan gumaman dari Amri karna suasana yang hening sehingga mereka mudah untuk mendengarnya.


Kedua mulai mengendus-ngendus untuk memastikan ucapan dari sang putra.


" iya, kaya bau gosong gitu " jawab Rey.


Anna tetap diam dengan pikirannya tanpa membalas perkataan suami dan anaknya


"Keaaa " Teriak Anna sambil berlari kearah dapur.

__ADS_1


Anna yang memiliki sifat yang pelupa dan Ceroboh sering kali melupakan sesuatu, contohnya seperti saat ini bahkan ini bukan kali pertama Anna membuat rumah keboh dengan sifat pelipanya.


Sedangkan Rey dan Amri saling pandang dan bersamaan menepuk kening mereka masing-masing melihat tingkah pelupa dan ceroboh dari Anna.


"Semoga tidak gosong lagi " batin keduanya.


Karna Anna bila sudah memasak mau gosong sekalipun dia tidak akan mau memasak kembali untuk menggantinya karna menurutnya terlalu Cape kalau harus mengulang lagi, mubasir juga kalau dibuang banyak orang diluar sana yang mencari makan susah-susah sedangkan kita dikasih enang malah dibuang itulah jawaban Anna jika ditanya oleh suami dan kedua anaknya.


"Apa apa yah, kak " tanya Tiara yang baru turun dari tangga karna mendengar teriakan sang bunda yang menggelegar itu.


Sedangkan yang ditanya hanya saling pandang dan menghebuskan nafas pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


Tiara yang tidak mendapat jawaban dari Ayah dan Amri langsung berjalan menuju dapur menyusul Anna sang bunda.


"Ada apa bun.. " ucap Tiara terpotong setelah melihat sang bunda baru saja mengangkat ayam gorong dari wajan yang telah berubah warna menjadi gelap.


" Eh putri bunda " ucap Anna cengengesan melihat sang putri yang telah memperhatikannya mengangkat ayam goreng yang telah menjadi gosong walaupun masih bisa untuk dimakan.


Rey dan Amri berjalan memasuki dapur dan berdiri dibelakang Tiara dan memperhatikan Anna yang sedang memegang piring yang berisi ayam goreng yang telah menjadi gosong.


Keduanya meneguk air liur sendiri setelah melihat isi dari piring yang berada ditangan Anna.


"Alamat ini mah" batin Amri.


"Semoga tak sakit perut"batin Rey.


Sedangkat Tiara terus memperhatikan sang bunda tanpa mengucapkan satu katapun.


****


Sedangkan disisi lain, Aslin telah berada didepan salah satu rumah mewah dengan dua lantai, dia menghembuskan nafas sebelum membuka pintu bercat putih didepannya sekarang sudah pukul 6 sore ada rasa takut dihatinya untuk masuk kedalam mengingat dia baru beberapa minggu tinggal dirumah ini, respon orang-orang yang tinggal didalamnya pun tidak sesuai dengan harapannya. Dia fikir setelah sekian lama, mereka mampu menerima kehadiran dirinya disekitar mereka. Kenyataan tak sesuai harapan !! Mereka masih sama dengan beberapa tahun silam acuh tak acuh kepadanya.


Aslin berusaha untuk tenang sebelum memberanikan diri untuk membuka pintu


Suara pintu yang terbuka membuat orang yang berada diruang tamu yang memang satu dengan pintu masuk melihat kearah pintu.


Aslin langsung masuk kedalam dan mengucapkan salam.


" Assalamualaikum " ucap Aslin dengan melihat kearah bawah setelah dia sadar bahwa pandangan tak suka dari mereka mengarah padanya.


"Waalaikumsalam " ucap wanita paruh baya dia adalah Ratna dengan nada ketus sedangkan dua laki-laki yang berbeda usia hanya diam dengan tatapan yang datar dan tajam kearahnya.


"Dari mana saja kamu " tanya mana saya kamu tanya pria paruh bayah bernama Natan dengan tatapan tajan dan datar.


Aslin yang ditanya hanya dian sejujurnya dia takut dengan Ayah dan Ibunya yang jelas-jelas tidak menyukainya.


"Kalau ditanya orang tua itu jawab" bentak Ratna membuat Aslin kaget dengan bentakan yang baru pertama dia dapatkan setelah sekian tahun.


" aku dari rumah teman bu, yah " ucapnya takut-takut. Jujur untuk mengangkat mulut saja Aslin kesusahan.


"Kalau pulang sekolah itu pulang kerumah jangan keluyuran kamu, seenaknya keluar masuk rumah tanpa izin, ingat kamu disini hanya NUMPANG coba kalau tidak maksaan dari mom dan ded kami tidak akan menerima kamu dirumah ini, camkan itu baik-baik" bentak Ratna dengan menekan kata numpang berapi-api.


Jujur hati Aslin seperti disayat dengan pisau yang sangat tajam mengobrak-abrik dadany, air matanya sudah menumpuk dikelopak matanya dia berusaha untuk menahannya agar tidak keluar, dia berusaha untuk tetap terlihat kuat didepan keluarganya walau sejujurnya dia lemah dan tidak sanggup mendengar ucapan yang keluar dari mulut ibunya sendiri.


"Maaf " ucapnya. Hanya itu kata-kata yang dapat dia ucapkan, dengan pandangan yang tetap melihat kearah lantai dibawahnya.


"Cepat kamu ganti baju dan buatkan kami makan malam, saya sudah muak melihat wajah kamu terus menerus " ucap Ratna angkuh .


" baik bu " ucap Aslin langsung meninggalkan mereka menuju kamarnya yang berada dilantai atas.


"Tuhan kuatkanlah aku dalam menghadapi segala cobaan yang engkau berikan, berikan aku kekuatan untuk terus bersabar" batin Aslin.


Aslin berjalan menaiki tangga dengan perasaan yang tak menentu. sampainya didalam kamar dia meletakkan tas diatas meja belajar yang terdapat di sudut ruangan. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


10 menit kemudian Aslin keluar dengan keadaan mata yang bengkak dapat dipastikan kalau Aslin menangis didalam kamar mandi tadi. Dia buru-buru mengganti pakaian dan turut kebawah untuk menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


Sampainya ditangga terakhir Aslin tidak sengaja berpapasan dengan sang ibu hingga dia harus mendengar perkataan ibunya yang membuat hatinya seperti dihantam batu besar.


"Ck, kenapa kamu lama sekali kamu tidak tau kalau kami sangat lapar, ingat kamu disini numpang jadi itu semua tidak geratis kamu harus bayar dengan bekerja sebagai pembantu disini, ingat itu " ucap Ratna. Setelah mengatakan itu dia langsung pergi menuju kamarnya yang terletak di lantai dasar.


Aslin langsung berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makanan untuk keluarganya walaupun rumah ini terdapat pembantu tapi ibunya itu tidak mau orang lain yang memasak selain dirinya ntah itu bagi maupun malam.


Aslin memasak dengan pikiran yang kemana-mana dia selalu memirkan perkataan ibunya tadi yang seolah-olah mengingatkan dirinya akan kedudukan dirinya yang sebenarnya.


Selesai memasak Aslin langsung menyiapkan semuanya ke atas meja makan, setelah dirasa semuanya telah selesai dia langsung menuju ke dapur untuk membereskan alat-alat yang dia gunakan untuk memasak tadi .


" Ada yang bisa saya bantu non " ucap bi Ayu salah satu pembantu dirumah keluarga Aslin .


"Tidak usah bi aku bisa sendiri ko " ucap aslin terus lemanjutkan mencuci piring.


"Iya sudah non kalau gitu bibi mau ngerjain yang lain dulu " pamin bi ayu.


Yang dijawab dengan senyuman oleh Aslin, sejujurnya hanya bi ayu yang selalu baik kepadanya kadang kala bi ayu sering membantu Aslin dalam mengerjakan pekerjaan secara diam-diam agar ibunya tak mengetahui.


Aslin sangat bersukur dapat dipertemukan dengan bi ayu seorang paruh bayah yang telah bekerja dengan keluarganya sejak dia masih kecil.


Orang yang tau semua tentang masalah keluarga Aslin dengan Aslin sendiri.


Natan dan Ratna berjalan memasuki ruang makan di mana diatas meja telah tersedia bergai macam makanan, mereka langsung duduk dibangku masing-masing sambil menunggu putra pertamannya datang.


5 menit kemudian putra pertama mereka memasuki ruang makan dan langsung duduk dibangkunya .


Sedangkan anak keduanya adalah Aslin sedangkan putra ketiganya sekarang ada di Amerika untuk melanjutkan sekolah disana bersama dengan paman dan bibinya dari yang ibu yang memang tinggal disana.


"Maaf yah, bun aku lama " ucapnya .


"Gak apa-apa sayang, yang penting kamu turun " ucap Ratna sambil tersenyum .


Ratna langsung menyiapkan makanan untuk suami dan putranya .


Tanpa mereka sadari Aslin menyaksikan semuanya dibalik meja patri yang terhubung dengan meja makan, Aslin tersenyum kecut melihat keharmonisan keluarganya itu. Sungguh dia iri dengan kakaknya itu yang selalu mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orangtuanya. Sedangkan dirinya yang hanya dianggap pembantu dirumah ini.


Bi ayu yang berada dibelakang Aslin dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh anak majikannya itu yang selalu diperlakukan tidak adil oleh nyonya dan tuannya itu.


Sungguh masih ada orangtua yang sekejam itu kepada anak gadisnya, pikirnya .


Dari kecil Aslin memang sudah tidak dipedulikan oleh kedua orang tuanya, bi Ayulah yang mengasuhnya dari dia lahir sampai sekarang setelah beberapa tahun dia tinggal dengan nenek dan kakeknya yang tinggal di kota yang sama dengan kedua orang tuanya tapi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumah neneknya dari rumah ibunya.


Bu ayu memberanikan diri mendekat kepada anak majikannya itu.


"Non Aslin gak makan? " tanya bi ayu hati-hati sambil menyetu mundak Aslin.


Aslin tersentak dari lamunanya setelah bi ayu menyentu bundaknya. Aslin langsung melihat kearah bi Ayu dengan senyum semanis mungkin.


"Nanti saja bi aku belum lapar " ucap Aslin.


"Iya sudah non kalau non lapar, non bisa panggil saya "ucap bi ayu " iya sudah non kalau begitu bibi mau kebelakang dulu"lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Aslin.


___________________________________


***jangan lupa follow akun author


like,vote,rate dan apa bila ada kritik dan saran silahkan tulis dikolom komentar


jangan lupa juga masukan cerita ini kedalam favorit kalian


dan terimakasih telah mampir kecerita aku dan salam manis dari Author***.

__ADS_1


__ADS_2