
Tasya berjalan kembali ke ruangan, semua menatap Tasya saat masuk ke dalam ruangan, Bastian melihat mata sembab Tasya dan berjalan ke arahnya, lalu menarik tangan Tasya masuk ke dalam ruangannya.. "kamu kenapa Tasya.? Arthur berbuat kasar.? Arthur marah.? kenapa sampe matamu sembab Tasya." begitu banyak pertanyaan dari Bastian..
Tasya kembali menangis dan Bastian melihatnya langsung memeluk Tasya. "jangan menangis' ada aku di sini, ceritakan padaku apa yang terjadi. jika Arthur macam-macam padamu, maka dia akan berurusan denganku." Tasya tidak menceritakan apapun pada Bastian, dia hanya menangis dan kemudian berpamitan ijin pulang pada Bastian.
Bastian mengijinkan Tasya pulang, saat Tasya keluar dari ruangan Bastian, kembali melihat Tasya. max mendekati Tasya dan bertanya padanya "apa kamu baik-baik saja.?" tanya max.. "aku baik-baik saja max" kemudian Tasya m ngambil tasnya dan pulang.
Bastian naik ke ruangan Presdir dan berbicara dengan Arthur.. "Arthur, kamu apakan Tasya.? kenapa dia menangis.? apa yang dia lakukan sampe membuatmu marah padanya.?" tanya Bastian pada Arthur.
"tadi siang aku ketemu dia di resto elite, hanya orang-orang kaya yang bisa makan di sana.! kamu tahu dia makan bersama siapa.? dia makan bersama Tuan Silvester, bahkan mereka terlihat begitu mesra.. aku curiga kalau Tasya itu mata-mata dari tuan Silvester, karna proposal kerja perusahaan Arthuro Tech kalah dari perusahaan lain. padahal desain rancangan kita jauh lebih baik"
Bastian mendengar hal itu seakan tidak percaya yang di katakan Arthur. Bastian kembali ke ruangannya dan duduk memikirkan kata-kata Arthur. "apa benar Tasya seperti itu.?" gumam Bastian.
saatnya pulang kantor, semua karyawan sudah pulang dan Bastian berencana untuk membuka laptop kerja milik Tasya.. dia membuka semua desain Tasya yang ada di situ, Beta kagetnya kalau Desain taman yang ada di Perusahaan SILVELSTER CORPORATION sama seperti desain yang ada di laptop Tasya..
"apa benar dia mata-mata.? kenapa Desain ini bisa ada di laptop Tasya.?" Bastian terus memikirkan masalah Tasya. dan Bastian berencana akan menanyakan ini langsung pada Tasya.
"Hallo Tasya."
"ya Alex"
"jika kamu tidak sibuk sebentar malam pukul 8 datanglah di club' Nine teen, semua team kita berkumpul di sana."
__ADS_1
"akan aku usahakan Alex"
"baiklah."
Tasya bersiap untuk sebentar malam ke acara yang di laksanakan teamnya. Tasya hanya akan mampir sebentar dan tak berlama-lama di sana.
sesampainya di club' Tasya masuk dan menuju ruangan yang sudah di pesan teamnya itu. Tasya bergabung bersama mereka, Bastian datang bersama Arthur. Tasya hanya fokus pada teamnya karna Tasya datang atas undangan teamnya.
Bastian menghampiri Tasya, dan menyapanya seperti biasa. Arthur menatap Tasya dengan tatapan sulit di artikan karna pada dasarnya wajah Arthur selalu datar seperti itu.
masuklah beberapa wanita berpakaian seksi ke dalam ruangan itu, tasya merasa sangat risih dan mulai tidak betah, tiba-tiba Arthur berkata pada semua yang ada di ruangan itu.
Tasya ke toilet di luar ruang VVIP, Tasya bahkan tak mengunakan toilet di dalam ruang VVIP karna merasa risih dengan wanita-wanita yang berpakaian seksi itu.
saat keluar dari toilet, Tasya bertemu dengan teman kuliahnya yang sedang duduk di bartender, mereka berbincang cukup lama, hingga Tasya melupakan teamnya di ruang VVIP.
karena Tasya tak kunjung balik, Bastian mencari Tasya dan ternyata Tasya sedang duduk bersama seorang pria di bartender.
Arthur datang menghampiri Bastian dan berkata "kamu lihat sendiri kan, dia itu wanita murahan yang suka dengan lelaki berduit." Bastian hanya menatap Tasya dan kembali masuk ke ruang VVIP.
Arthur melihat Tasya semakin bertambah marah.. Arthur ke bartender di mana Tasya dan temannya sedang duduk..
__ADS_1
"jadi kerjaan kamu selain magang, merayu para lelaki di club' ini juga ya." Arthur berbisik di telinga Tasya, Tasya yang marah di bilang seperti itu, mendorong Arthur hingga terhuyung ke belakang.
"jaga mulut anda tuan Arthur."...
Arthur menarik tangan Tasya dengan kasar, teman Tasya ingin membantu tetapi Vian asisten Arthur mendorongnya.
Arthur membawa Tasya keluar dari club', hingga masuk ke mobilnya, "lepaskan aku tuan Arthur."
di dalam mobil Tasya terus berontak, hingga akhirnya Tasya berdiam dan melihat Arthur dengan tatapan marah..
"ternyata selera anda sungguh rendah tuan Arthur, anda mengatakan wanita murahan sedangkan anda sendiri menariknya hingga masuk ke dalam mobil mewah anda ini." ucap Tasya...
"justru itu aku ingin mencoba wanita sekelas kamu, aku ingin merasakan senikmat apa tubuhmu ini, dan soal bayaran, kamu tinggal sebut berapa nominal yang kamu mau"
"apa anda mampu membayarku dengan perusahaan mu.?" tanya Tasya dengan marahnya..
"wow,,, apa sespesial itukah dirimu.? aku bahkan bisa membeli 100 wanita sepertimu."
Arthur mencium bibir Tasya dengan kasar, Tasya berontak hingga pergelangan tangannya merah, Tasya berontak dan menangis. Tasya mengigit bibir Arthur dan akhirnya Arthur menghentikan kegiatannya.. Tasya mendorong Arthur, membuka pintu mobil dan berlari ke mobilnya.
Tasya pulang ke apartemen jam 12, dia pamit hanya melalui pesan seluler yang di kirim ke Bastian. Bastian bahkan tak membaca pesan tersebut.
__ADS_1