MENGEJAR MATAHARI SENJA

MENGEJAR MATAHARI SENJA
SEKRETARIS YOOTAEYANG


__ADS_3

Hye Na masih berdiri di depan pintu ruangan Yootaeyang. Wajahnya tampak kesal menghadapi CEO tampan itu.


Tanpa tersadar ia mengomel di depan pintu lalu menyandarkan tubuhnya.


"Ngeselin banget si vampir itu. Setiap bertemu dengannya tekanan darahku pasti naik. Aish." umpatnya


Lalu lelaki itu membuka pintu ruangannya. Dan posisi Hye Na berdiri saat menyandar menjadi tidak stabil dan otomatis tubuh Hye Na terdorong ke belakang.


"Ahh.. auwh!" teriaknya kaget.


Lalu Yootaeyang yang berada di belakangnya secara otomatis menangkap tubuhnya dalam dekapan. Mata mereka saling memandang.


"Wajah memang tampan, tapi sayang hatinya mati rasa." batin Hye Na.


Dalam beberapa detik mereka terdiam dalam posisi itu. Beberapa staff perusahaan mondar-mandir berjalan dengan kesibukan mereka sambil melihat Yootaeyang dan Hye Na berada dalam posisi tangan lelaki itu mendekap tubuhnya dengan posisi setengah terjatuh.


"Apa yang sedang mereka lakukan."


"Kenapa Hye Na berada dalam dekapan CEO?"


"Mereka seperti bermain adegan drama saja.hihihi."


Beberapa staff disana berbisik sambil tersenyum.


"Hmm.., mau sampai kapan kamu berada dalam pelukan ku?" suara Yootaeyang menyadarkan Hye Na dari lamunannya.


Tangan Yootaeyang mengangkat tubuh Hye Na kembali ke posisi berdiri lalu merapikan tuxedo nya.


"Maaf pak." ucap nya enggan.


"Siapa yang kamu bilang vampir? Saya?" matanya memandang sinis.


"Bukan pak, saya hanya berkata tentang teman saya dan kemudian...."


Belum sempat menyelesaikan penjelasannya, lelaki tampan itu berjalan meninggalkan dirinya disana.


"Auh.. jinja! Ngeselin banget sih dia benar benar membuat ku ingin membenarkannya ke dalam laut yang dalam. Apa dia buta, jelas jelas aku lagi ngomong." Hye Na menggerutu dengan mata melotot dan mengepal tangannya seolah ingin meninju lelaki itu.


Hye Na tidak sadar ada beberapa staff lain yang mondar-mandir disana. Lalu ia menyengir kepada mereka dan menurunkan tangannya seakan ia benar-benar ingin merapikan rambutnya. Lalu ia kembali ke ruangannya.


                         ****


Yootaeyang tiba di sebuah toilet dan ia sibuk membersihkan noda bajunya.


"Gadis yang aneh. Selalu membuat mood ku menjadi tidak baik. Sikapnya sangat ceroboh. Kenapa Pak Jung bisa memilihnya? Aku tidak habis pikir." ia menggelengkan kepalanya.


Lalu ia mengambil handphone miliknya dan menelpon Pak Jung.


"Ya tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?"


"Pak Jung tolong siapkan pakaian saya yang baru." suaranya terdengar kesal.


"Ada apa tuan? Bukankah tadi pakaian tuan baik-baik saja?" tanya bingung.


"Sudah, Pak Jung siapkan saja. Nanti saja kalau mau bertanya." jawabnya singkat.


"Baiklah tuan muda, saya segera siapkan yang baru." lelaki paruh baya itu menurutinya.


                         ****


"Ini ada surat buat kamu." seorang staff wanita memberikan sepucuk surat kepada Hye So.


"Surat? Dari siapa?" keningnya berkerut.


"Kata orang yang memberikan surat ini namanya ada di dalam." sambung temannya itu lagi.


"Baiklah, gomawo." ucapnya


Tangan membuka surat itu lalu ia membaca tulisan singkat dalam surat itu.


"Lihat kebunku penuh dengan bunga. Lihat dirimu aku berbunga-bunga. DAWON." ia membaca surat itu dalam hati.


"Aishh.. menganggu saja si tukang gombal keliling. Aku pikir ada hal penting apa gitu dalam surat ini. Nyatanya cuma gombalan garing si Lee Dawon. Lihat saja nanti." ucapnya geram lalu memanyunkan bibirnya.


Sementara Dawon dari jauh menatap wajah Hye So yang sedang kesal. Ia hanya tersenyum dan merasa itu adalah hal yang membahagiakan buatnya.


"Hye So, Hye So aku pasti akan mendapatkan hatimu. Mau sampai kapan kamu menutup pintu hatimu buatku." batinnya sambil tersenyum.

__ADS_1


                           ****


Pak Jung mengantarkan pakaian baru buat Yootaeyang.


"Ini tuan muda. Ada apa dengan pakaian tuan? Kelihatannya kotor sekali." matanya tertuju pada noda yang ada di tuxedo Yootaeyang.


"Ini ulah si ceroboh itu." ucapnya kesal.


"Maaf, siapa tuan?" tangannya meletakkan pakaian baru di atas meja.


"Sekretaris terbaik pilihan Pak Jung. Dia selalu saja ceroboh." mulutnya mengomel.


Pak Jung tersenyum melihat tingkah Yootaeyang yang sebelumnya tidak pernah mengomel ataupun berbicara banyak tentang seseorang. Untuk pertama kalinya ia melihat tuan mudanya itu mengomel.


"Kenapa Pak Jung tersenyum. Ada yang lucu?" suaranya terdengar semakin kesal.


"Tidak tuan, aku hanya merasa sedikit itu lucu. Tuan muda mendadak berbeda dan banyak bercerita." ungkapnya sambil tersenyum.


"Aku? Ah, itu hanya kebetulan saja. Dia benar-benar menyebalkan. " ia mendadak salah tingkah.


"Saya rasa Hye Na akan membawa suasana berbeda yang lebih baik untuk tuan." lelaki tua itu mendadak tersenyum terus.


"Aku rasa tidak. Gadis ceroboh seperti dia bisa nya hanya membuat mood ku menjadi tidak karuan." tatapan wajah sinis.


"Ya sudah, sebaiknya Pak Jung arahkan si ceroboh itu untuk membuat laporan yang baik dan benar. Awas, jangan sampai ia bertindak ceroboh lagi." perintahnya.


"Baik tuan muda." Lalu ia segera menuju ruangan Hye Na.


Hye Na duduk di dalam ruangan dan sibuk mempelajari dokumen baru yang diberikan oleh Yootaeyang tadi.


"Hwaiting Hye Na! Kamu pasti bisa. Ayo tunjukkan bahwa kamu bisa lebih baik di matanya!" ucap menyemangati diri sendiri.


"Tok...tok.." suara ketukan dari luar


"Permisi nona. Apakah anda sibuk?" sapa Pak Jung.


"Pak Jung, masuklah aku tidak sibuk." ia berdiri memberi salam


Hye Na memang gadis yang sangat sopan kepada orang yang lebih tua. Kepribadiannya membuat orang nyaman berada didekatnya.


"Nona ada hal yang ingin saya sampaikan."


"Hal yang harus nona ketahui dalam menjalankan tugas sebagai sekretaris tuan muda Yootaeyang adalah beliau tidak ingin ada kesalahan sedikit pun dalam laporan dan tugas yang ia berikan. Ia selalu ingin semua terlihat sempurna. Ia memang orang yang sedikit suka mengkritik sesuatu namun itu semua untuk meningkatkan kinerja staff perusahaan." ungkap Pak Jung


"Itu sih namanya bukan kritik tapi suka memerintah orang. Vampir mati rasa yang membuatku geregetan ingin menimpuk nya dengan batu." batinnya.


"Baik Pak Jung saya akan melakukan semua pesan bapak agar si vampir itu senang." ucapnya spontan.


"Vampir?" tanya Pak Jung


"Ah.., bukan.. bukan begitu pak."  wajah ketakutan karena mengucapkan Yootaeyang seorang vampir.


Pak Jung tersenyum melihat tingkah dan wajah gadis cantik itu.


"Kenapa bapak tersenyum? Pak Jung tolong jangan bilang kepada CEO tentang ucapanku tadi. Saya tidak bermaksud." tangannya memohon.


"Nona, aku harap kamu sabar menghadapi tuan muda. Sebenarnya ia orang yang sangat baik. Nanti lama-lama nona juga akan akrab dengannya." ucapnya sambil tersenyum


"Baiklah saya pergi dulu. Jika nona butuh sesuatu tanyakan saja pada saya."


"Baiklah Pak Jung. Terima kasih banyak. Sampai jumpa." lalu ia memberi salam.


"Kenapa aku bisa keceplosan? Aishh.." ucapnya sambil memukul manja bibirnya.


                                  *****


"Aku memang tidak salah memasangkan mereka dalam sebuah pekerjaan. Aku rasa mereka akan jadi pasangan yang cocok. Semoga saja rencanaku berhasil." batinnya.


Pak Jung sudah mencari tahu tentang identitas Hye Na mulai dari data diri, kepribadian, hingga alamat rumahnya. Semua kegiatannya juga dicari tahu oleh Pak Jung.


Karena ia ingin Yootaeyang bisa menjalani kehidupan normal. Dimana lelaki yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu bisa memiliki pasangan seperti orang pada umumnya.


                            ****


Waktu menunjukkan jam makan siang. Hye Na ingin makan siang bersama Shin Min Ah. Ia keluar mencari temannya itu.


Dalam perjalanan mencari Min Ah ia bertemu lagi dengan Lee Jae Yoon.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini?" Sapa mantan manajer nya itu.


"Ya itu cukup membuat saya bersemangat pak."


"Apakah kamu ingin makan siang?"


"Iya pak saya ingin makan siang bersama Shin Min Ah."


"Hallo Pak Jae Yoon, apa kabar?"


Sapa Shin Min Ah yang kebetulan lewat dan melihat mereka sedang berbincang.


"Hallo Min Ah. Bagaimana suasana bekerja ditempat baru?" tanya Jae Yoon.


"Saya bersemangat pak. Saya di tempatkan diposisi yang sama sewaktu saya bekerja di anak perusahaan dulu. Jadi saya tidak sulit untuk menguasai pekerjaan baru saya." ungkapnya riang.


"Beruntungnya Min Ah, tidak seperti diriku yang masuk ke dalam pintu neraka." mengeluh dalam hati.


"Karena semua disini bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Mantan manajer itu menawarkan makan siang bersama.


"Baiklah pak. Ayo kita makan siang bersama." Min Ah kelihatan antusias.


                           ****


"Permisi bu, ini ada makan siang buat kamu." ucap salah satu tenaga magang disana.


"Dari siapa?"


"Saya tidak ingat namanya bu." ia meletakkan bekal makan siang yang dibalut dengan kain berwarna merah muda


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih. ucapnya tersenyum.


Lalu ia membuka bekal itu. Didalamnya ada surat. Lalu ia membacanya.


"Park Hye So, aku harap kamu makan siang dengan baik. Aku meminta ibu memasaknya untukmu."


"Kalau menahan lapar aku bisa tapi kalau menahan rindu padamu aku tak bisa." lagi-lagi menggombal.


Dawon.


Begitu isi surat nya. Berbeda dari sebelumnya Hye So sedikit tersentuh. Karena makanan ibu Dawon yang memasak untuknya.


Lalu tangannya membuka bekal makan siang itu. Dalam kotak bekal itu terdapat kimbab (nasi yang digulung dengan rumput laut kering yang berisi daging,wortel,dan,bayam), tteok ( kue khas Korea yang terbuat dari beras ketan) dan sup rumput laut.


Matanya berkaca-kaca menatap makanan itu.


"Bahkan ibuku saja tidak pernah membuatkan makanan seperti ini untuk ku." desah hatinya lirih.


                            *****


Lee Jae Yoon, Hye Na, dan Min Ah sedang menikmati makan siang di sebuah restoran di dalam perusahaan. Perusahaan itu memang terkesan sangat elit dan mewah.


"Hye Na bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini. Aku sangat iri padamu. Posisi kerjamu sangat bagus." ucapnya tersenyum girang.


"Andai saja aku dan Shin Min Ah bisa bertukar posisi pasti aku sangat bahagia dan tidak perlu menghabiskan energi hanya untuk menghadapi si vampir itu setiap hari." lagi-lagi Hye Na mengumpat dalam hati.


"Semua pekerjaan sama sama memiliki kelebihan dan kekurangan nya masing-masing Min Ah. Aku dan kamu memiliki tugas yang sama pentingnya untuk perusahaan ini." ucap bersemangat untuk menutupi kegelisahannya menjadi sekretaris CEO.


Lee Jae Yoon tersenyum mendengar kata-kata Hye Na. Lalu ia melihat Yootaeyang dan Sekretaris Jung muncul di restoran.


"Selamat siang pak, apakah bapak akan makan siang. Mari bergabung bersama kami kalau tidak keberatan."  ucap Jae Yoon.


"Tidak usah. Kalian lanjut saja kami akan makan siang di sebelah sana." jawabnya.


"Baiklah pak." ucap Jae Yoon mengakhiri percakapan.


"Untung saja dia tidak semeja dengan kami. Bisa hilang nafsu makanku." desah hati Hye Na lalu menghela nafas.


                         ****


Park Hye So menghampiri Dawon yang sibuk bekerja.


Dawon terkejut melihat gadis pujaannya tiba-tiba hadir di hadapannya.


"Ada apa Hye So?" tanya nya bingung.


"Aku hanya ingin bilang terima kasih." Lalu ia pergi sesegera mungkin. Hye So merasa malu.

__ADS_1


"Apa dia sudah membuka bekal yang aku kirim tadi. " wajahnya tersenyum merona.


Bersambung.


__ADS_2