MENGEJAR MATAHARI SENJA

MENGEJAR MATAHARI SENJA
RASA NYAMAN


__ADS_3

"Tuk..tuk.." suara high hells mahal Sae Ron terdengar saat melangkah. Ia berjalan menghampiri Hye Na dengan cepat.


"PLAK!" tangan Sae Ron mendarat di pipi Hye Na. Tamparan gadis kaya itu membekas di pipi Hye Na.


Seketika Hye Na terdiam menahan rasa sakit bercampur malu. Matanya berkaca-kaca menahan amarah.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Yootaeyang menahan amarah.


"Bukankah aku sudah memperingatinya untuk tidak mendekatimu! Dia pantas mendapatkan itu." ketusnya penuh emosi.


Hye Na berlari tanpa kata dan meninggalkan mereka di ruangan itu.


Air matanya jatuh begitu saja. Ia menangis seorang diri di dalam ruangannya itu. Ia belum pernah mendapat perlakuan kasar dari seseorang sebelumnya.


"Kim Sae Ron cukup! Kamu mau tahu alasan ku menolak dirimu. Karena tingkah laku mu yang tidak manusiawi. Yang sama sekali tidak memiliki etika. Bagaimana mungkin aku bisa bersama orang jahat seperti kamu. Sekarang keluar atau aku panggil security!" teriaknya menatap tajam.


"Kamu berubah setelah kehadiran gadis miskin itu." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia pergi meninggalkan Yootaeyang.


Kaki CEO tampan itu berlari menyusul Hye Na ke ruangannya. Ia melihat Hye Na menangis di bangkunya.


"Maafkan aku." tangannya menyentuh bahu Hye Na dari belakang.


Timbul rasa bersalah di dalam hati Yootaeyang karena perlakuan Sae Ron yang sangat kasar kepada Hye Na.


"Tidak apa-apa pak." ucapnya lirih.


Desah tangisnya terdengar di telinga Yootaeyang.


"Ikutlah denganku. Aku akan menunggumu di mobil."


Mendengar hal itu Hye Na kebingungan dan tangisnya terhenti.


"Kita mau kemana pak. Bukankah ini masih jam kantor?" ia berbalik badan.


"Sudah ikuti saja perintah ku." ucapnya lalu meninggalkan Hye Na.


Lalu Hye Na mengambil sling bag miliknya lalu. Ia berjalan mengikuti Yootaeyang yang lebih dulu pergi.


****


"Annyeong Hye So. Hari ini cantikmu mengalahkan sinar matahari yang terbit." sapa Dawon dari belakang gadis cantik itu.


"Ini dia neh yang aku cariin dari tadi. Ya iyalah matahari sudah terbit di siang hari. Masa udah tenggelam. Lain kali kalau mau ngajak ke suatu tempat ngomong ya." tangannya ngejewer telinga Dawon.


"Au.. au.. sakit!" teriak Dawon.


"Iya deh.. ampun lain kali aku akan bilang. Lepasin Hye So. Sakit!" teriaknya lagi


"Ih.. rasain itu. Kamu suka yang aneh aneh. Aku kesal jadinya." matanya melotot dan kemudian kakinya melangkah meninggalkan Dawon di sana.


"Aku hanya ingin ibuku bertemu denganmu." ucapnya.

__ADS_1


"Jangan suka kesal nanti kamu rindu sama aku." gombalnya dari jauh.


Hye So menoleh lalu menatap tajam sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun pergi meninggalkan Dawon yang sibuk cengengesan di belakangnya.


****


"Kenapa wajah nona seperti itu." sapa Pak Jung dengan wajah bingung.


"Ini semua karena si wanita miskin itu!" ucap Sae Ron kesal


"Maaf nona? Siapa?"


"Sekretaris baru my baby Yootaeyang lah siapa lagi. Ini juga salah Pak Jung. Kenapa menempatkan dia sebagai sekretaris Yootaeyang." matanya melotot menatap Pak Jung.


"Duarr!! Youngbin mengagetkan Sae Ron.


Ada apa?" kenapa jam segini sudah marah." Teriak Youngbin tiba-tiba dari belakang. Tangannya mendorong Sae Ron.


Sae Ron terkejut dan hampir terjatuh. Tangan Youngbin dengan sigap menangkap Sae Ron. Terjadilah adegan pandang memandang.


"Youngbin ternyata sangat tampan. Kenapa aku baru menyadarinya." batin Sae Ron.


"Gwencana?" tanya Youngbin sambil membantu Sae Ron berdiri.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget." ucapnya salah tingkah.


"Sae Ron bagaimana kabarmu. Lama tidak berjumpa." sapa Youngbin.


"Beberapa hari yang lalu. Kamu ada apa datang kemari. Pasti ingin melihat wajah tampan Yootaeyang ya." ledek nya.


"Aku sedang tidak ingin membahas dia." ketus Sae Ron lalu pergi meninggalkan mereka.


"Sesekali tersenyum lah Sae Ron itu akan membuatmu lebih cantik." teriak Youngbin sambil tersenyum


"Apa? Dia bilang aku cantik? Jangan mikir yang aneh-aneh Sae Ron. Dia kan memang orang yang ramah." batinnya sambil mengabaikan ucapan Youngbin.


Youngbin dan Sae Ron memang sudah kenal lama karena keterikatan kerja sama perusahaan mereka.


****


Yootaeyang dan Hye Na tiba di sebuah aquarium terbesar di Gangnam yaitu COEX Aquarium.


"Kenapa kita ke aquarium Pak?" wajah nya kebingungan.


Yootaeyang hanya diam dan tak menjawab. Hye Na sibuk mengikuti dirinya dari belakang.


Setelah membeli tiket lalu mereka masuk ke dalam tempat wisata itu.


Mereka berjalan hingga berhenti di sebuah lorong.


Disana terdapat sekumpulan lumba-lumba yang lucu.

__ADS_1


"Tatap lah ke depanmu. Apakah hatimu merasa baikan?" tanya Yootaeyang.


Hye Na melihat beberapa ekor lumba-lumba yang sangat lucu. Hatinya tersentuh dengan sikap manis CEO nya itu.


"Kenapa kita kesini pak?" tanyanya polos menatap Yootaeyang.


"Aku hanya ingin menghibur kamu. Aku ingin minta maaf." ucapnya gugup dan salah tingkah.


Maklum seumur hidup Yootaeyang tidak pernah berbuat demikian.


"Terima kasih pak. Tapi aku terkesan seperti anak kecil saja." ia tertawa lepas.


Lelaki tampan itu menatap wajah cantik Hye Na yang sedang tertawa. Ia memperhatikan mulai dari rambut hingga wajahnya.


"Maaf pak. Saya spontan ketawa." ia salah tingkah karena tatapan lelaki itu.


"Sewaktu aku kecil ibuku dulu sering membawaku kemari. Dia berkata jika suasana hatiku sedang sedih aku cukup menatap sekumpulan lumba-lumba ini. Maka sedih di dalam hati akan hanyut bersama indahnya pemandangan ini." ungkapnya.


"Ternyata dia bisa bersikap baik juga." Hye Na tersentuh dengan ucapan Yootaeyang.


"Terima kasih sudah menghibur saya pak." ucapnya sambil tersenyum cerah.


"Bapak jangan khawatir. Semua masalah yang saya lalui pasti ada jalan keluarnya. Seberat apapun masalah yang kita pikul ia akan hilang bersama datangnya jalan keluar. Karena tidak ada beban yang abadi di dunia ini." sambungnya.


Yootaeyang terdiam mendengar ucapan Hye Na. Seakan ia memberikan sebuah warna baru dalam hidupnya.


"Ternyata dia orang yang baik. Wajahnya juga sangat cantik." batin Yootaeyang tanpa sadar.


"Maaf karena saya sempat berpikiran kalau bapak orang yang paling menyebalkan yang pernah ada." ia tersenyum enggan.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanyanya cuek.


"Benar kata ibu. Jangan suka menilai seseorang dengan cepat. Sekarang saya mengerti bapak adalah orang baik. Mulai sekarang saya tidak akan menilai seseorang sebelum memahami dirinya."


"Hmm. Saya suka dengan pernyataan ibu kamu." ucapnya tersenyum.


Jantung Hye Na berdebar untuk kesekian kalinya saat menatap wajah sendu lelaki itu.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Yootaeyang.


"Bukan apa-apa pak." ucapnya tersenyum lalu salah tingkah.


"Saya juga sempat berpikiran sama. Bahwa kamu hanya bisa membuat saya merasa kesal." ucapnya.


"Saya minta maaf pak." ucap Hye Na spontan menundukkan kepalanya


"Namun sekarang tidak. Ketika rasa saling memahami itu belum ada maka pikiran berusaha mengendalikan kita. Namun jika rasa memahami itu ada hati lah yang mengendalikan pikiran itu." ungkapnya sambil menatap lumba-lumba yang sedang menari di dalam aquarium.


"Ada apa dengan hatiku? Kenapa perlahan seperti ini?" Batin Hye Na sambil menatap wajah Yootaeyang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2