
"Aku tidak membiarkan dia menghinaku lagi. Baiklah aku akan memainkan drama ini dengan sepenuh hati." ia duduk termenung di bangku nya.
"Aku lelah sekali." hatinya mengeluh.
"Jalan satu-satunya adalah aku harus bisa dekat dengan Pak Yootaeyang. Agar bisa menyelesaikan drama ini." ucapnya sambil memikirkan sesuatu
"Tapi kenapa tiba-tiba Pak Yootaeyang bisa meminta maaf. Apa itu tulus atau cuma iseng saja. Aku harap dia bisa berubah lebih baik."
Dia sibuk bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku harus berusaha menyampingkan ego ku. Walaupun aku sebenarnya kesal dengan dia tapi aku juga harus mampu bersikap baik dengannya. Suka tidak suka dia adalah CEO. Aku masih butuh pekerjaan di perusahaan ini. Aku tidak ingin ibu nanti kepikiran jika aku terkena masalah." batinnya.
Dari dulu Hye Na selalu memikirkan perasaan ibu nya dan ia tidak ingin orang yang paling di sayangi nya itu sedih jika ia sampai di pecat hanya karena masalah itu.
Hye Na segera menemui Yootaeyang dan ingin mengutarakan niatnya. Akhirnya ia mengalah dengan ego nya.
"Permisi pak." ia melihat Yootaeyang sedang makan siang di ruangan nya.
"Masuklah." mulut lelaki itu sedang mengunyah.
"Ada yang ingin saya sampaikan."
"Katakan saja." pandangannya beralih menatap Hye Na.
"Saya ingin drama ini cepat selesai. Jadi aku akan berusaha mendekatkan diri kepada bapak. Saya akan sebisa mungkin memahami sifat dan karakter bapak layaknya seperti seseorang yang sedang melakukan pendekatan dengan lawan jenis. Dengan begitu kita akan semakin cepat menyelesaikan drama ini." ungkapnya.
"Baiklah kita lakukan apa yang kamu mau." jawab CEO itu.
"Saya hanya orang sederhana yang ingin bekerja pak, saya hanya ingin semua ini selesai. Saya akan membatu bapak sebisa mungkin agar Ibu Sae Ron bisa meninggalkan bapak. Dengan begitu saya bisa bekerja sebagai sekretaris dengan baik dan tenang."
Yootaeyang terdiam mendengar pernyataan itu. Ia berhenti menyantap makan siangnya. Bibirnya belepotan .
"Pak bibir nya belepotan." ucap Hye Na.
Yootaeyang mengelap bibirnya tetapi tidak juga bersih.
"Bukan disitu pak, tapi sebelah sini." tangan gadis itu menunjuk sebelah kiri bibir nya.
Lelaki itu tidak kunjung bisa membersihkan bibir nya.
"Maaf yah pak, sini saya bantu."
Lalu Hye Na mengambil tisu dan berusaha membantunya. Hye Na spontan mendekatkan wajah dan tangannya. Tangannya menyentuh lembut bibir Yootaeyang.
"Deg,deg!" Jantung Hye Na berdebar kencang saat menyentuh bibir lelaki tampan itu.
Aroma parfum Yootaeyang tercium erat di penciuman Hye Na. Ia perlahan menatap mata indah lelaki itu.
Yootaeyang menyentuh tangan Hye Na.
"Terima kasih, biar saya saja." ucapnya pelan sambil salah tingkah.
"Ah maaf pak, saya hanya ingin membantu saja." Hye Na pun salah tingkah dan pergi dengan terburu-buru.
Wajahnya memerah saat bertatap muka dengan Yootaeyang.
"Ada apa denganku? Kenapa rasanya seperti ini." ia kebingungan lalu menaruh tangannya di dada
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan? Tadi apa yang dia pikirkan. Auh jinja! Jeongmal babo ya!" ia merasa malu pada dirinya sendiri.
Yootaeyang terbayang kembali adegan saat Hye Na menyentuh bibir nya. Hatinya juga merasakan apa yang Hye Na rasakan.
"Apa yang dia lakukan. Ia mengangetkan ku saja." ucapnya lalu tersenyum tanpa sadar
"Aish kenapa aku harus mengingat hal itu." berusaha membantah hatinya lalu melanjutkan makan siangnya.
Sepertinya mereka merasakan getaran yang berbeda yang belum pernah mereka rasakan satu sama lain.
" 🎶Byeorul ttara dalmeun byeol hanareul ttara geu byeore be ireum me eolgul saegigo🎶" handphone Hye Na berdering.
"Omo! Aish, mengagetkan saja. Siapa lagi yang menelpon.
"Dawon? Hmm, ada apa?"
"Ya Dawon, ada apa?" jawabnya tidak bersemangat kemudian menghela nafas.
"Kenapa suara pun seperti orang yang belum makan berhari-hari." tanya bingung
"Huft.. aku memang belum makan siang." keluhnya
Ia berjalan meninggalkan ruangan menuju restoran di dalam perusahaan untuk makan siang.
"Biasanya kamu tidak pernah lupa kalau soal makan. Hihihi." ia menggoda sahabatnya itu.
"Ckckck, jadi kamu menelpon ku hanya untuk meledek ku saja. Aku tahu kamu rindu padaku. Iya kan, benar kan." ucapnya
"Ya sedikit, tapi kalau Hye So yang jadi posisi kamu akan berbeda. Aku akan berkata " sayang jangan jauh-jauh nanti rindu. Hahahha." Candanya lalu tertawa.
"Ssst..! Berisik aku semakin lapar mendengar gombalan receh mu. Berkerja dengan baik sana." ketus nya lalu menutup telpon.
"Nona Hye Na." sapa Pak Jung
"Omo! Pak Jung mengangetkan ku saja." wajahnya tersenyum
"Mau makan siang bersama nona?" ajak Pak Jung.
"Pak Jung juga belum makan siang? Baiklah mari makan bersama."
Setelah memesan makanan di restoran itu mereka duduk dan berbincang.
"Sepertinya kekasih nona sangat perhatian." ucap Pak Jung
"Kekasih? Saya?" ia bertanya sambil tertawa.
"Saya tidak punya kekasih Pak Jung." wajahnya tersenyum.
"Bukankah tadi kekasih nona yang menelpon?" tanyanya penasaran.
"Itu Dawon sahabat saya di anak perusahaan dulu. Kami memang sangat dekat." ungkapnya
"Maaf nona saya pikir tadi kekasih nona."
"Tidak apa-apa Pak Jung. Saya belum pernah memiliki kekasih. Bukankah saya sangat kuno." wajahnya menyengir.
"Justru saya salut nona. Karena nona tipe wanita mandiri yang pekerja keras." ucap Pak Jung.
__ADS_1
"Pak Jung, terima kasih atas pujiannya."
Lalu mereka tertawa bersama dan sibuk berbincang saat makan siang bersama.
****
"Bagaimana dengan keadaan perusahaan sekarang?" tanya Paman Yootaeyang.
"Bukankah paman juga mengetahui perkembangan perusahaan. Kenapa harus bertanya." jawaban dingin.
"Saya hanya lah seorang wakil CEO yang mempunyai keterbatasan. Tidak seperti kamu yang berkuasa penuh." matanya menatap Yootaeyang dengan penuh kebencian.
"Apa maksudnya paman. Terus terang saja." ia menantang pamannya dengan pertanyaan.
"Santai keponakan ku tersayang. Aku hanya bercanda kenapa hidup mu selalu serius." ia menyengir sinis.
Hubungan mereka memang tidak pernah baik. Hanya karena saham perusahaan Yootaeyang lebih banyak membuat paman nya itu menjadi iri.
Ia merasa Yootaeyang hanyalah anak kecil yang tidak pantas memimpin SHINWA GROUP.
Kenyataannya memang benar perusahaan itu adalah milik peninggalan orangtuanya. Pemilik saham terbesar adalah orangtuanya.
"Sebaiknya kamu menerima Sae Ron sebagai calon istrimu. Dengan begitu perusahaan ini akan semakin besar." ucap pamannya itu lalu meninggalkan ruangan itu.
Yootaeyang semakin geram dengan sikap pamannya yang selalu ambisius dalam dunia bisnis.
****
Hye Na dan Pak Jung hendak kembali ke ruangan mereka. Ia dan Pak Jung sibuk berbincang tentang perusahaan. Sangkin asyiknya Hye Na tidak memperhatikan jalannya. Tiba-tiba Hye Na dan seorang lelaki bertabrakan saat sedang bejalan.
"Aduh! Maaf saya tidak sengaja." ia berbalik dan menoleh seorang pria tampan.
"Apa kamu baik-baik saja?" suara lelaki itu terdengar ramah.
"Tuan muda Kim Youngbin?" wajah Pak Jung kaget melihat kehadiran sepupu Yootaeyang tersebut.
"Bagaimana kabar anda Pak Jung?" sapanya
"Baik tuan. Kapan tuan pulang dari Jepang?" tanyanya.
"Semalam Pak Jung. Dimana Yootaeyang aku ingin bertemu dengannya." ia melirik Hye Na yang terdiam disana.
"Tuan muda Yootaeyang ada di ruangannya tuan."
"Dia siapa?" tangannya menunjuk Hye Na.
"Saya sampai lupa mengenalkannya. Ini Hye Na sekretaris tuan muda Yootaeyang."
"Dia akan menggantikan saya nantinya tuan."
"Baiklah saya akan menemui Yootaeyang dulu." ia tersenyum kepada Pak Jung dan Hye Na lalu meninggalkan mereka disana.
"Siapa dia Pak Jung?" tanya Hye Na penasaran.
"Dia adalah tuan muda Kim Youngbin. Dia sepupu tuan muda Yootaeyang."
"Dia dan Yootaeyang sangat berbeda. Dia sangat ramah dan baik beda dengan si vampir Yootaeyang." batinnya.
__ADS_1
Bersambung...